Selamat Datang di www.elfaizz.blogspot.com semoga apa yang kami suguhkan bermanfaat, Kami mohon ma'af apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan, Kritik dan saran sangat kami harapkan

Jumat, 14 Oktober 2011

Kemuliaan Ibu dan Kekeliruan Kita


Coba Anda bayangkan dan rasakan sejenak, bagaimana selama sembilan bulan lebih sepuluh hari ibu memboyong kita di dalam rahimnya. Saya tekankan lagi, rasakan dan bayangkan. Bayangkan, ketika pertama kali dia mual dan muntah di awal masa kehamilannya. Bayangkan, ketika kita lahir ibulah yang merawat dan menyusui kita.
Bayangkan, ketika kita kelaparan ibulah yang menjadi orang pertama memasakkan makanan untuk kita. Bayangkan, ketika kita menangis ibulah yang membujuk kita untuk berhenti menangis. Hanya seorang ibulah yang sanggup bersabar menghadapi ini semua.
Itulah topik kajian pekanan kader Anggota Biasa (AB) 2 KAMMI Kepulauan Riau, Sabtu (1/10/2011). Suatu topik yang relatif jarang sekali dibahas oleh kader KAMMI yang cenderung mengkaji masalah isu-isu politik. Tapi, barangkali ini mengingatkan kepada kader KAMMI dan pembaca semua bahwa ada beragam pertanyaan yang muncul dari kajian tersebut dan tentunya perlu saya share juga ke teman-teman yang lain melalui tulisan ini. Mengingat cukup banyaknya fenomena kekurangsopanan dan kekurangajaran anak terhadap ibu yang telah melahirkannya, merawatnya hingga membesarkannya.
Di dalam surat Al-Ahqaf ayat 15 Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman : "Artinya : Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a, "Ya Rabb-ku, tunjukkilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".
Ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari) di tambah 2 tahun menyusui anak jadi 30 bulan, sehingga tidak bertentangan dengan surat Lukman ayat 14. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir). Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar dari pada kepada bapak. Namun, bukan berarti kebaikan bapak kita nomorduakan.
Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. "Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu ia berkata, "Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dan berkata, ’Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?’ Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab, ’Ibumu!’ Orang tersebut kembali bertanya, ’Kemudian siapa lagi ?’ Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab, ’Ibumu!’ Ia bertanya lagi, ’Kemudian siapa lagi?’ Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab, ’Ibumu!’, Orang tersebut bertanya kembali, ’Kemudian siapa lagi, ’Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab, ’Bapakmu’ " (Hadits Riwayat Bukhari (AL-Ftah 10/401) No. 5971, Muslim 2548).
Sementara itu, Imam Adz-Dzhabai dalam kitabnya Al-Kabair berkata : "Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dari teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras.
Nah, betapa banyak kebaikan ibu, sadar atau tidak terkadang kita lupa memuliakan ibu. Bahkan, terkadang secara tidak sadar kita membalas susah-payahnya dengan akhlak yang tidak baik. Dia selalu mendo’akan kita dengan taufiq, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Saat ini, cukup banyak fenomena-fenomena ‘kezoliman’ anak terhadap ibunya.
Tatkala ibunya membutuhkanmu di saat di sudah tua renta, dijadikan dia sebagai barang yang tidak berharga disisinya. Sebagian anak yang tidak peduli dengan ibunya yang sudah renta kenyang dalam keadaan dia lapar. Bahkan puas dalam keadaan dia haus. Dan engkau menhdahulukan berbuat baik kepada istri dan anaknya daripada ibu yang telah merawat dan membesarkannya. Dilupakan semua kebaikan yang pernah dia buat.
Dan rasanya berat memeliharanya padahal adalah urusan yang mudah. Bahkan terkadang ada juga anak yang tega meninggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu. Akibatnya dititiplah ibunya dipanti jompo.
Padahal Allah telah melarangmu berkata ’ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut. Dan engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu. Dan Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ’Aalamin.
Dan Allah berfirman di dalam surat Al-Hajj ayat 10 : "Artinya : (Akan dikatakan kepadanya), ’Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tanganmu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali tidak pernah berbuat zhalim kepada hamba-hambaNya".
Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung.
Ketika Ibnu Umar menemui seseorang yang menggendong ibunya beliau mengatakan, "Itu belum bisa membalas". Kemudian juga beberapa riwayat disebutkan bahwa seandainya kita ingin membalas jasa orang tua kita dengan harta atau dengan yang lain, masih juga belum bisa membalas. Bahkan dikatakan oleh Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam. "Artinya : Kamu dan hartamu milik bapakmu" [Hadits Riwayat Ibnu Majah dari Jabir, Thabrani dari Samurah dan Ibnu Mas’ud, Lihat Irwa’ul Ghalil 838].
Itulah hal yang disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam – Jakarta yang dikaji kami saat itu. Nah, sebelum terlambat marilah kita bersama-sama sadar bahwa ibulah yang membuat kita sukses seperti saat ini. Sebelum terlambat marilah kita bersama-sama memuliakan ibu dan membahagiakannya. Semoga!
R. Dachroni, Ketua PD KAMMI Kepri


di kutip dari:
(http://www.eramuslim.com/)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar