Selamat Datang di www.elfaizz.blogspot.com semoga apa yang kami suguhkan bermanfaat, Kami mohon ma'af apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan, Kritik dan saran sangat kami harapkan

Senin, 31 Januari 2011

Seperti Apakah Model Pertimbangan Amal Di Akherat Kelak?

Pertanyaan

Assalamualaikum ustadz,,, sebenarnya gmn sih bayangan pertimbangan amal d akhirat kelak, apakah di rinci sampai ke niat? mohon penjelasannya

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb
Saudara Novi yang dimuliakan Allah swt
Diantara kewajiban seorang muslim didalam keimanannya kepada hari akhir adalah mengimani adanya penimbangan (wazn) setiap amal hamba-hamba-Nya dengan adil, sebagaimana firman-Nya :
وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ ﴿٤٧﴾
Artinya : “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, Maka Tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (QS. Al Anbiya : 47)
Al Qurthubi didalam kitab “at Tadzkirah” menyebutkan bahwa penimbangan amal-amal ini terjadi setelah perhitungan (hisab). Hal itu dikarenakan hisab adalah penetapan amal-amal sedangkan wazn (penimbangan) adalah penampakan ukuran amal-amalnya untuk mendapatkan balasan yang setimpal dengannya. (hal. 359)
Beberapa informasi menyebutkan bahwa ia adalah timbangan hakiki yang memiiliki dua anak timbangan dan Allah swt merubah amal-amal hamba kedalam bentuk fisik yang memiliki berat lalu yang berupa kebaikan diletakkan disatu anak timbangan sedangkan yang berupa keburukan diletakkan di satu anak timbangan lainnya. (al Iman Arkanuhu wa Haqiqatuhu hal 90)
Firman Allah swt :
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ ﴿١٦﴾
Artinya : “(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.” (QS. Luqman : 16)
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari dari Abu Hurairah dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: 'Dua kalimat yang ringan diucapkan tetapi berat timbangannya dan disenangi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala Yang Maha Pengasih yaitu, Subhanallah wa bihamdihi subhaanallaahil azhim (Maha Suci Allah dengan segala pujian-Nya dan Maha Suci Allah Yang Maha Agung)."
Penimbangan pada hari itu sangatlah rinci dan detail. Tak satu amal pun—termasuk niat—meskipun hanya sebesar biji sawi kecuali akan dilakukan perhitungan dan penimbangan terhadapnya dengan seadil-adilnya.
Semoga Allah swt memberatkan timbangan kebaikan kita kelak dihari itu. Amin
Wallahu A’lam
(http://www.eramuslim.com/)

Sabtu, 29 Januari 2011

Bahaya Faham Pluralisme Di Era Modern

oleh Ihsan Tandjung

Kondisi dunia dewasa ini sangat sesuai dengan gambaran Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم lima belas abad yang lalu:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: "Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti tradisi/kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak-pun kalian pasti akan mengikuti mereka." Kami bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?" Beliau menjawab: "Siapa lagi kalau bukan mereka." (HR. Muslim, No. 4822)
Di era modern dewasa ini kita tidak bisa pungkiri bahwa yang sedang Allah سبحانه و تعالى beri giliran memimpin masyarakat dunia ialah masyarakat Barat atau biasa disebut The Western Civilization. Sedangkan masyarakat Barat terdiri dari masyarakat kaum Yahudi dan Nasrani. Merekalah yang mengarahkan masyarakat dunia –termasuk ummat Islam- mengikuti selera kebiasaan dan tradisi mereka. Ironisnya, tidak sedikit ummat Islam yang dijuluki sebagai Ahlul-Qur’an juga mengekor kepada apa saja yang ditawarkan oleh mereka. Seolah mereka tidak pernah memperoleh petunjuk dari Allah سبحانه و تعالى bagaimana seharusnya menata kehidupan pribadi dan sosial dalam kehidupan nyata. Padahal Al-Qur’an merupakan satu-satunya Kitabullah yang masih terpelihara keasliannya. Sedangkan Kitabullah yang diturunkan kepada Nabiyullah dari kalangan Bani Israel –yakni Taurat dan Injil– telah mengalami distorsi yang tidak bisa dibantah oleh para rabbi Yahudi dan pendeta/pastor Nasrani.
Akhirnya The Western Civilization yang memimpin dunia membuat berbagai bid’ah (hal-hal yang mengada-ada) dalam me-manage kepemimpinan mereka atas segenap ummat manusia dewasa ini. Di antara bid’ah tersebut ialah dikampanyekannya secara massif berbagai faham sesat produk akal (baca: hawa nafsu) manusia yang sudah barang tentu terputus dari landasan wahyu ilahi. Kita mengenal adanya berbagai faham seperti pluralisme, sekularisme, liberalisme, humanisme, materialisme, hedonisme, konsumerisme dan masih banyak lainnya.
Tulisan ini ingin menyoroti bahaya faham pluralisme yang sedang gencar-gencarnya dipromosikan di seantero dunia. Tidak kurang seorang pemimpin negara adidaya Obama melazimkan dirinya untuk memberikan kuliah umum di salah satu kampus ternama ibukota negara berpenduduk muslim terbesar di dunia saat kunjungannya beberapa waktu yang lalu. Kalau kita perhatikan secara seksama, maka di antara pokok pikiran utama yang ingin dipromosikan melalui kuliah umum tersebut ialah faham pluralisme. Faham ini telah diterima oleh banyak sekali manusia yang ingin disebut modern, tanpa kecuali sebagian ummat Islam.
Pada tahap awal kampanye Pluralisme terasa manis bak madu. Ajaran ini menyuruh manusia modern agar “menghormati manusia lainnya apapun latar belakang keyakinan dan agamanya.” Sampai di sini tentunya kita tidak punya masalah dengan faham ini. Termasuk ajaran Islam-pun menganjurkan hal itu. Tetapi yang menjadi masalah ialah bahwa faham Pluralisme tidak berhenti sampai di situ. Faham sesat ini menuntut agar manusia modern lebih jauh lagi mengembangkan keyakinannya, yaitu bahwa “semua agama sama” malah “semua agama baik”, bahkan “semua agama adalah benar”. Nah, sampai di sini tentunya seorang muslim yang sungguh-sungguh beriman kepada Allah سبحانه و تعالى sebagai Rabbnya, Islam sebagai din-nya dan Muhammad صلى الله عليه و سلم sebagai Nabi dan Rasulullah harus secara tegas menolaknya. Mengapa? Sebab bila ia menerima keyakinan seperti ini, maka ia berada dalam bahaya besar. Ia terancam. Bukan terancam oleh sembarang fihak, tetapi terancam oleh Allah سبحانه و تعالى
Apakah ancaman Allah سبحانه و تعالى yang dimaksud? Di dalam ajaran Islam pelanggaran terhadap aturan Allah سبحانه و تعالى ada dua macam: pertama, sebuah pelanggaran yang menyebabkan pelakunya berdosa namun ia tetap dihukumi sebagai seorang yang beriman di mata Allah سبحانه و تعالى . Orang ini berarti telah melakukan suatu kemaksiatan dan tentunya dia harus memohon ampunan Allah سبحانه و تعالى atas dosanya tersebut. Lalu kedua, pelanggaran yang menyebabkan pelakunya tidak saja dicatat sebagai berdosa, tetapi bahkan dicatat sebagai terlibat dalam nawaqidhul-iman (pembatalan iman). Artinya, disebabkan pelanggaran tersebut Iman-Islamnya menjadi batal di mata Allah سبحانه و تعالى. Dengan kata lain ia telah menjadi murtad...! Wa na’udzubillahi min dzaalika...
Dalam kitab “Vonis Kafir”, Ustadz Mas’ud Izzul Mujahid Lc menyebut adanya sembilan Pembatal Keimanan yang disepakati oleh para ulama. Ketika menerangkan Pembatal Keimanan nomor lima yang berjudul “Tidak Mengkafirkan Orang-orang Musyrik, atau Ragu Terhadap Kekafiran Mereka, atau Membenarkan Mazhab Mereka,” beliau menulis sebagai berikut:
Siapa saja yang meragukan kekafiran orang-orang kafir berarti ia telah meragukan ayat-ayat Al-Qur’an, sedangkan orang yang meragukan kebenaran Al-Qur’an dihukumi kafir.
Di dalam kitabullah Al-Qur’anul Karim terdapat beberapa ayat yang jelas-jelas menolak pemahaman apalagi keyakinan bahwa “semua agama sama” atau “semua agama baik”, apalagi “semua agama adalah benar”. Di antaranya sebagai berikut:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS. Ali Imran [3] : 19)
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran [3] : 85)
رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ
Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. (QS. Al-Hijr [15] : 2)
Tiga ayat di atas secara tegas menjelaskan bahwa di mata Allah سبحانه و تعالى tidaklah benar bahwa “semua agama sama” atau “semua agama baik”, apalagi “semua agama adalah benar”. Hanya ada satu saja dien (agama/jalan hidup) yang Allah سبحانه و تعالى ridhai, yaitu ajaran Al-Islam. Allah سبحانه و تعالى tidak meridhai berbagai agama selain Al-Islam. Bahkan Allah سبحانه و تعالى telah memberi gambaran kelak di akhirat nanti dimana kaum kafir bakal menyesal dan menginginkan kalau seandainya mereka sewaktu di dunia termasuk ke dalam golongan kaum muslimin alias penganut ajaran Al-Islam. Tetapi tentunya keinginan tersebut telah terlambat. Sebuah penyesalan yang tiada berguna saat itu. Maka, janganlah hendaknya seorang yang mengaku beriman berfikir bahwa dirinya lebih berpengetahuan daripada Pencipta dirinya, Allah سبحانه و تعالى . Jika Allah سبحانه و تعالى sudah dengan tegas mendekritkan bahwa hanya Islamlah din yang diridhai di sisiNya, maka jangan lagi seorang muslim memiliki pendangan selain mengikuti apa yang Allah سبحانه و تعالى telah tegaskan itu. Bahkan dalam ayat lainnya Allah سبحانه و تعالى menggunakan istilah dinul-haq (agama yang benar) untuk menyebut agamaNya Islam ini.
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur'an) dan dinul-haq (agama yang benar/Al-Islam) untuk dimenangkan-Nya atas segala agama lainnya, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS. At-Taubah [9] : 33)
Maka sudah sepatutnya seorang muslim bersyukur bahwa dirinya telah diberikan Allah سبحانه و تعالى hidayah kepada iman dan Islam. Dan untuk itu seorang muslim tidak dibenarkan untuk memberikan “cek kosong” setelah memperoleh nikmat iman dan Islam. Ia dituntut terus-menerus di dunia untuk membuktikan kejujuran pengakuannya sebagai seorang yang beriman. Oleh karenanya seorang yang mengaku beriman bakal dihadapkan oleh aneka fitnah (ujian) untuk mendeteksi kejujurannya.
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut [29] : 2-3)
Di antara ujian tersebut adalah apa yang sedang dialami kaum muslimin di era modern penuh fitnah dewasa ini. Ia diuji dengan berbagai faham sesat yang sengaja dilansir oleh musuh-musuh Islam yang sedang memimpin dunia secara hegemonik. Salah satunya ialah faham Pluralisme yang sangat berbahaya ini. Barangsiapa yang begitu saja mengekor kepada the Western Civilization alias the Judeo-Christian Civilization (Peradaban yahudi-Nasrani), berarti ia telah merelakan dirinya masuk bersama mereka ke dalam lubang biawak di dunia dan jurang neraka di akhirat kelak nanti. Wa na’udzubillaahi min dzaalika.
اللهم إنا نعوذبك مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ
“Ya Allah, kami berlindung kepada Engkau dari cobaan yang memayahkan, kesengsaraan yang menderitakan, takdir yang buruk dan cacian musuh.”

Investasi Mandiri

Assalamualaikum wr wb
Pak valentino bagaimana dengan bisnis investasimandiri yang ada di webstite investasimandiri.com, apakah benar ?
Wassalam.
Saudara Rauf yang dirahmati Allah setelah saya pelajari dengan seksama, program ini tidak lain adalah MONEY GAME dalam bentuk arisan berantai. Jelas sekali hal ini HARAM secara agama.
Demikian penjelasan saya semoga bermanfaat. Dapatkan 10 Modul Entrepreneur dan 15 CD Entrepreneur dengan memberikan sumbangan untuk Pesantren AYO MANDIRI seikhlasnya disini http://valentinodinsi.com/gratis/
Valentino Dinsi
(Spiritual Entrepreneur beralamat di www.ayomandiri.org, www.valentinodinsi.com dan www.bisnis2121.com serta www.mandiri4sukses.com

Pengobatan Ambeien Tanpa Obat Kimia

masalah ambeien memang gampang gampang gampang
<Allah sesuai prasangka hambanya, mindset awal harus gampang, setuju!>
Prinsipnya cuma 1: BAB rutin dan lancar
Ikhtiarnya adalah, buat apa yang kita makan, sisanya mudah untuk di buang.
BAB tidak rutin disebabkan adanya pola makan yang tidak baik dan pemilihan jenis makanan yang tidak tepat.
Kedua hal tersebut menyebabkan penumpukan peses yang akhirnya menjadi keras dan sulit dikeluarkan lama-kelamaan munculah ambeien.
Cara alami paling tepat untuk masalah ini adalah:
  1. Cegah konstipasi atau sembelit dengan banyak mengonsumsi makanan kaya serat (sayur dan buah serta kacang-kacangan) serta banyak minum air putih minimal delapan gelas sehari. Rutin minum madu juga sangat membantu!
  2. Segera ke belakang jika niat BAB muncul, jangan menunda-nunda sebelum feses menjadi keras.
  3. Hindari mengejan terlalu kuat saat BAB.
  4. Hindari konsumsi makanan pedas, dingin, daging/lemak/jeroan.
  5. Tidur yang cukup.
  6. Jangan duduk terlalu lama.
  7. Senam/olahraga rutin
Silahkan kombinasi dengan pengobatan ala WS:
  • Minum herbal khusus ambeien "ambegard" minum 3 x 2 kapsul
  • Minum juga "habat oil 369" 3 x 1 sdt
  • Oleskan jika diperlukan "habat oil 369"
  • Tambahannya, rutinkan madu 3sdm campur 1 gelas air hangat, minum 3-5 x sehari.
rutinkan ya, minimal 1 bulan. dan kita evaluasi.
lihat paket ambeien?
Semoga selalu sehat dan berkah
Semoga bermanfaat
<ws/f>

Jangan Menjadi Mukmin Instan

oleh Mashadi

Menanam jagung dengan menanam jati hasilnya pasti akan lain. Waktu yang dibutuhkannya juga lain. Jagung hanya butuh waktu tiga bulan. Sudah dapat dipanen. Sedangkan pohon jati memerlukan waktu puluhan tahun. Tetapi pohon jati semakin tua,  kayunya semakin baik.
Manusia tabiatnya ingin cepat dan serba instan. Tidak ingin susah. Tidak ingin kesulitan. Segalanya ingin dicapai dengan mudah. Tidak ingin belama-lama dengan waktu. Usahanya ingin cepat dinikmatinya. Inilah kehidupan hari ini. Karena itu banyak orang yang tidak dapat sabar. Tidak sabar dengan waktu dan proses. Sehingga banyak yang mengambil jalan pintas.
Bagaimana menegakkan agama Allah ingin cepat mendapatkan hasilnya? Ingin terwujud sebuah tatanan yang sesuai yang diinginkannya. Padahal perjuangan menegakkan agama Allah itu bukan yang mudah. Tidak mungkin dapat terwujud dengan waktu yang serba singkat. Butuh proses. Ingin cepat terwujud keinginannya. Sementara itu berbagai tantangan dan hambatan bertumpuk-tumpuk.
Lamanya pencapaian dalam setiap usaha itu, sebaliknya akan menentukan kualitas manusia itu. Apakah dia jenis manusia yang cukup memiliki kesabaran? Sebatas dengan kemampuan menghadapi rintangan dan tantangan yang ada, dan kemudian dia tetap sabar dalam usahanya, maka manusia ini termasuk jenis manusia yang sabar. Manusia yang penuh dengan tawakal.
Seorang sahabat Salman Al-Farisi harus berjalan kaki dari negeri Syria ke Madinah. Salman yang pindah-pindah agama, yang akhirnya menemukan Islam, dan begitu rindunya dengan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, harus ridha berjalan kaki menempuh perjalanan yang sangat panjang melintasi gurun pasir, agar sampai ke Madinah.
Tidak mungkin membangun sebuah kehidupan yang menggunakan kualitas yang seperti diinginkan oleh Allah Rabbul Alamin itu, hanya berlangsung dalam waktu yang sangat singkat. Membutuhkan waktu yang amat panjang. Bila manusia sudah terdorong ingin cepat mencapai hasilnya, dan tidak sabar, maka bangunan yang diinginkannya tidak pernah akan terwujud selama-lamanya. Justru orang-orang yang menginginkan bangunan Islam dengan instan itu, ujung-ujungnya akan terperangkap pada jebakan musuh, dan kemudian akan menghancurkan gerakannya.
Kisah Salman hanyalah sepenggal kisah. Manusia yang penuh dengan keikhlasan dalam usahanya ingin mendapatkan ridha dari Rabbnya, dan keinginannya bertemu dengan manusia yang mendapatkan amanah dari Rabbul alamin, yaitu Rasul Shallahu alaihi wa sallam. Mengapa Salman begitu kuat keinginan bertemu dengan Rasul Shallahu alaihi wa sallam? Salman berani menanggung resiko denan berjalan kaki mengarungi samudera padang pasir yang begitu luas, dan jauh dari kota Madinah? Ini hanyalah episode tokoh yang begitu rindu ingin menegakkan bangunan Islam, dan Rasul Shallahu alaihi wa sallam, yang menjadi pujaannya.
Islam hanya dapat dibangun kekuatan orang-orang yang sabar, tidak pernah tergoda dengan hasil, yang berupa lukisan dunia. Salman yang berani menempuh perjalanan begitu panjang, bukan semata-mata ingin mendapatkan kehidupan dunia.
Kerinduannya kepada Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, tak lain kerinduannya dengan orang yang sudah pasti dijanjikan tentnag kemuliaan pada kehidupan akhirat. Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, manusia yang paling mulia, yang dengan dakwahnya yang tak mengenal menyerah dengan siapapun, yang ingin menghalangi dakwahnya, karena Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, tidak menginginkan kenikmatan dunia. Tetapi, Rasulullah Shallahu alaihi, seorang utusan Allah Rabbul alamin, yang senantiasa merindukan kemuliaan disisi-Nya.
Orang-orang yang sabar dan tidak bersikap instan dalam mencapai tujuan, tidak takut dengan ancaman-ancaman, dia akan tetap istiqomah dengan usahanya. Betapa terasa sangat berat.
Salman datang kepada Islam dengan sendirian. Dari bumi yang sangat jauh. Rela dengan penuh keikhlasan memenuhi panggilan Islam. Tidak peduli dengan waktu. Tidak peduli dengan masa dalam hidupnya. Ia menemukan Islam dan membelanya dang memperjuangkannya. Sampai akhirnya Salman meninggal sendirian di tengah padang pasir. Tanpa siapa-siapa. Ia tetap istiqomah dengan Islamnya. Tak butuh pertolongan dan dukungan manusia.
Begitulah generasi salaf dahulu menjalani kehidupan mereka, ketika mereka sudah memeluk Islam, tak pernah lagi meninggalkannya. Dengan penuh kesabaran memperjuangkan dan menegakkannya. Semuanya dijalani dengan sabar. Tanpa berkeluh kesah, dan ingin menikmati segera hasilnya. Dijalani kehidupan dengn penuh tawakal.
Allah Ta’ala berfirman :
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا ﴿٢٨﴾
“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuihannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaannya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia, dan janganlah engkau mengkuti oran gyang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dari keadaannya sudah melewati batas”. (QS. Al-Kahfi [18] : 28)
Tetaplah bersama dengan orang-orang yang dengan penuh kehidupan yang bertujuan menegakkan agama Allah, dan bangunan Islam, dan jangan tergoda oleh bisikan dan rayuan dunia, yang dapat merusak jalan hidup ini, jalan hidup orang-orang mukmin, yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai wali dan pelindung. Wallahu’alam.

Pelajaran dari Hijrah ke 2 : Hijrah adalah Syarat Melakukan Perubahan

oleh Fathuddin Ja'far

إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ
"Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)," (QS. Ghafir [40] : 51)
Jika Iman adalah syarat kemenangan di dunia dan akhirat, maka Hijrah adalah syarat mutlak untuk melakukan perubahan. Dalam banyak ayat Al-Qur’an, kita menemukan Hijrah itu urutan kedua setelah Iman. Sedangkan Jihad urutan ketiga setelah Iman dan Hijrah. Tidak akan pernah ada perubahan jika tidak pernah melakukan hijrah. Maka, ketiga pilar tersebut tidak bisa dipisahkan dan bahkan tidak bisa diputarbalikkan urutannya.
Hijrah itu syarat mutlak perubahan.. Paling tidak ada dua bentuk perubahan yang dihasilkan hijrah :
1) Perubahan dari kondisi terjajah dan tertindas kepada kondisi kebebasan dan kemerdekaan serta dari kondisi sistem hidup jahiliyah yang penuh kezhaliman dan kerusakan kepada sistem Islam yang penuh berkah dan adil. Perubahan dari dzillah (kehinaan dan terhina) kepada kondisi izzah (kemuliaan) dan harga diri,
Dalam kondisi dimana umat Islam tidak bisa lagi menjalankan aqidah dan nilai-nilai keislamannya dengan bebas dan baik, maka Hijrah Makaniyah (hijrah dari satu wilayah asal ke wilayah lain) adalah solusinya. Kalau tidak, mereka tidak akan pernah lepas dari cengkraman penguasa zhalim dan masyarakat jahiliyah. Inilah yang dilakukan Rasul Saw. saat menyuruh sahabatnya hijrah ke Habasyah (Ethiopia) dan kemudian Beliau juga mencoba hijrah ke Thaif dan kemudian sampai Allah tetapkan mereka hijrah terakhir ke Yatsrib atau Madinah.
Menariknya, bagi kaum Muslim yang tidak mau hijrah ke Madinah yang sudah menjadi wilayah yang aman bagi Rasul dan kaum Muslimin lainnya dan mereka tetap memilih tinggal di Makkah sampai ajal menjemput mereka, maka merekadianggap mati dalam keadaan menganiaya diri dan tidak akan meraih keselamatan akhirat, kendati dengan alasan sebagai kaum tertindas. Allah berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri (kepada mereka) malaikat bertanya, "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?" Mereka menjawab, "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah)." Para malaikat berkata, "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah ke sana?" Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An-Nisa' [4] : 97)
2) Perubahan dari kondisi jauh dari Allah dan Rasul-Nya kepada dekat kepada Allah dan Rasul-Nya. Perubahan dari keimanan yang bercampur syirik dan khurafat kepada keimanan yang bersih dari syirik dan khurafat. Perubahan dari ibadah yang bercampur bid’ah kepada ibadah yang sesuai dengan sunnah. Perubahan dari kondisi jahil (mamahami) Islam (Al-Qur’an dan Sunnah Rasul Saw) kepada memahami dan mengamalkannya. Perubahan dari kondisi ma’shiyat kepada ketaatan. Perubahan dari kondisi memusuhi Islam kepada mencintai Islam. Perubahan dari permusuhan terhadap sesama Muslim kepada persaudaraan dan persatuan. Perubahan dari sistem hidup Jahiliyah kepada sistem Islam dan seterusnya… Hijrah seperti itu disebut dengan Hijrah Qiyam Imaniyah (Hijrah Nilai Keimanan).
Sesungguhnya umat Islam hari ini dituntut untuk melakukan hijrah nilai keimanan, karena dengan seperti itulah mereka akan mampu melakukan berbagai perubahan, baik dalam diri, keluarga, masyarakat maupun negara dan bahkan dalam skala dunia Islam global yang akan menggantikan tatanan dunia baru yang penuh kezhaliman dan penjajahan. Allahu a’lam…

Pelajaran dari Hijrah ke 3 : Hijrah adalah Bukti Keunggulan Strategi Allah

oleh Fathuddin Ja'far

Dipilihnya Muhammad bin Abdullah sebagai Nabi dan Rasul terakhir mengandung arti strategis yang dalam. Demikian juga dengan ketetapan Allah atas Islam sebagai agama terakhir umat manusia yang diridhai-Nya sampai akhir zaman mengandung arti strategis yang luar biasa. Maka, strategi penyebaran dan penegakan Islam sebagai the way of life juga memerlukan strategi yang unggul sehingga dapat mengungguli semua upaya dan strategi manusia yang memusuhinya dan menginginkan agar Islam itu tidak tersebar, cahayanya redup dan tidak tegak di atas muka bumi.
Hijrah adalah salah satu strategi yang luar biasa dari Allah. Sebab itu, peristiwa hijrah mengajarkan kepada kita arti sebuah strategi dalam berdakwah. Sejak dari hijrah para sahabat Rasul ke Habasyah, hijrah Rasul ke Thaif dan terakhir ke Madinah, semuanya mengajarkan bahwa dalam berdakwah itu harus ada strategi. Namun startegi itu akan lemah jika mengandalkan kemampuan akal dan pemikiran manusia, siapaun dia. Strategi itu hanya akan kuat dan unggul jika datang dari Allah, karena strategi-Nya pasti mengungguli strategi semua manusia yang memusuhi Islam dan Rasul Saw. Siapapun mereka. Pemahaman seperti ini yang diajarkan Allah kepada Rasul-Nya sejak awal Beliau menerima amanah dakwah. (QS. Al-'A'raf [7] : 182–183, Al-Qalam [68] : Al-Jathiyah [45], Al-Muddaththir [74] : 11–17, Al-Muzzammil [73] : 11–14)
Sebab itu, hijrah yang dilakukan Rasul itu adalah sepenuhnya perintah dan strategi Allah. Hal itu terbukti saat Abu Bakar datang kepada Rasul untuk menyarankan Beliau segera berhijrah karena mayoritas sahabat sudah meninggalkan Makkah dan berhijrah ke Madinah. Saat itu Rasul Saw. berkata : Sabar wahai sahabatku, semoga Allah memilih engkau sebagai sahabatku dalam berhijrah. Tidak lama kemudian, Rasul mendapat isyarat dari Allah untuk melakukan hijrah ke Madinah pada waktu yang tepat (on the right time). Abu Bakarpun terpilih sebagai sahabat yang menemani Beliau hijrah ke Madinah.
Satu hal yang perlu kita catat, bahwa dalam menjalankan strategi Allah itu bukan berarti kita akan melewati hidup dan perjuangan dakwah ini di atas hamparan karpet merah, menerima pujian dan sambutan hangat manusia bagai super star sejagad. Namun, yang akan terjadi adalah sebaliknya dan berbagai hal yang memilukan dan bersabung nyawa.
Hal tersebut dapat kita lihat dengan nyata dalam peristiwa hijrah Rasul saw. khususnya saat beliau merancang hijrah ke Madinah. Berbagai peristiwapun terjadi. Sejak dari pengepungan rumah yang dilakukan oleh semua pemuda kabilah Arab yang ada di Makkah untuk melakukan pembunuhan terhadap Beliau, nyaris ditangkap saat bersembunyi di gua Tsaur, dan begitu juga dengan Da’sur yang nyaris berhasil mneghentikan perjalanan hijrah Beliau.
Mungkin di antara kita ada yang bertanya : Untuk apa semua peristiwa memilukan dan menakutkan dalam hijrah itu terjadi, kalau memang hijrah itu sebuah strategi dari Allah? Kenapa tidak Allah terbangkan saja Rasul Saw. itu ke Madinah seperti menerbangkan Beliau saat Isra dan Mi’raj? Bukankah Madinah itu jauh lebih dekat ketimbang Palestina? (Jarak Makkah ke Madinah hanya sekitar 350 km, sedangkan jarak Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsha sekitar 1300 km.)
Atau, kenapa harus hijrah segala? Apakah Allah tidak mampu memenangkan Rasul dan agama-Nya di Makkah yang menjadi kampung dan negeri tempat kelahiran Beliau sendiri? Toh performance, image, track record, koneksi, network, persahabatan, citra positif dan sebagainya sudah terbangun dalam diri Muhammad Saw. dan sebagian sahabatnya di Makkah dengan sempurna? Untuk apa semua kesulitan dan pengorbanan itu harus ditempuh dan dialami Rasul dan para sababatnya?
Jawabannya ialah :
  1. Itulah strategi Allah dalam menjalankan dakwah Islam. Strategi Allah itu mengharuskan Rasulullah, para sahabat dan siapa saja umatnya yang menjalankan dakwah Islam untuk melewati jalan dakwah yang penuh onak dan duri.
  2. Keunggulan strategi Allah hanya akan dirasakan dan berpihak kepada para da’i yang istiqamah dalam menjalankan strategi Allah yang penuh keringat, air mata dan darah. Karena, Allah hanya mau menyertai dan mendampingi mereka dalam jalan dakwah yang mengikuti startegi-Nya itu seperti yang dirasakan Rasul Saw. saat berada dalam gua Tsaur ketika Abu Bakar ketakutan dan mencemaskan keselamatan diri Beliau dari tangkapan kaum Musyrik Makkah yang sudah sampai ke pintu gua tempat Beliau dan Abu Bakar bersembunyi untuk sementara waktu.
  3. Pertolongan Allah hanya akan turun kepada para da’i yang siap menjalankan dakwah Islam sesuai strategi yang dirancang-Nya yang penuh tantangan dan pengorbanan. Bukan kepada mereka yang tidak siap menanggung beban ujian dan cobaan serta mencari jalan damai dan negosiasi dengan pihak kebantilan. Allah berfirman :
    إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
    Jikalau kamu (kaum Mislimin di Madinah) tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah), sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia (Rasulullah) berkata kepada sahabatnya (Abu Bakar): "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta / bersama kita." Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Dia menjadikan kalimat (agama) orang-orang kafir itu rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah [9] : 40)

Pelajaran dari Hijrah ke 4 : Hijrah adalah Jalan Meraih Rahmat, Ampunan Serta Kebaikan Dunia dan Kesuksesan Akhirat

oleh Fathuddin Ja'far

Untuk memahami kecil atau besarnya ganjaran yang dijanjikan Allah, dapat kita lihat dari besar atau kecilnya sebuah ajaran atau perintah-Nya. Jika suatu amal atau perintah Allah itu memerlukan pengorbanan yang besar, maka otomatis janji imbalan dan kompensasinya besar pula. Hijrah adalah amal dan sistem Allah yang sangat besar setelah Iman. Hal tersebut dapat dilihat dari besarnya pengorbanan hijrah yang dilakukan Rasul saw. dan para sahabatnya.
Sebab itu, hijrah mengajarkan kepada kita totalitas sebuah perjuangan dakwah dengan satu niat dan tujuan, yakni mencari ridha Allah semata. Untuk melakukannya memerlukan kesiapan mental terkait pengorbanan semua harta dan juga nyawa. Itulah yang dilakukan oleh Abu Bakar, Shuhaib Ar-Rumi dan sahabat Rasul yang lain. Tujuannyapun hanya fi sabilillah (di jalan Allah), bukan yang lainnya atau digabungkan dengan motif lainnya seperti yang dilakukan salah seorang sahabat di mana ia hijrah itu karena menyusul wanita yang akan dinikahinya. Rasul saw pun menegurnya seraya meluruskan pola kerja hijrah yang keliru itu sambil berkata, "Siapa yang berhijrah karena harta yang akan diraihnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka nilai hijrahnya itu hanya sebatas apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari)
Karena demikian besarnya pengorbanan dari sebuah hijrah, maka Allah menjanjikan kepada mereka yang melakukannya dengan imbalan yang sangat fantastik, yakni mencakup kebaikan dunia dan kesuksesan akhirat. Di antaranya ialah :
  1. Meraih rahmat dan kasih sayang dari Allah, seperti yang dijelaskan-Nya :

    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Baqarah [2] : 218)
  2. Mendapatkan penghapusan dosa dan dijamin masuk syurga, seperti firman Allah :

    "….. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam syurga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik." (QS. Ali-Imran [3] : 195)
  3. Meraih perlindungan Allah, seperti firman-Nya :

    “Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.An-Nahl [16] : 110)
  4. Meraih tempat tinggal yang lebih baik di dunia dan pahala yang amat besar di akhirat, seperti firman-Nya :

    “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat (negeri) yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui”.(QS. An-Nahl [16] :41)
  5. Meraih surga dan tempat di syurga sesuai keinginan, seperti firman-Nya :

    “Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rizki yang baik (syurga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rizki. Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (syurga) yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Haj [22] : 58–59)
  6. Jaminan memperoleh tempat yang luas dan rizki yang lapang di dunia serta syurga di akhirat kelak, seperti firman Allah :

    “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. An-Nisa [4] : 100)
Sungguh hijrah itu adalah salah satu rukun dari tiga rukun iqomatuddin (penegakan Islam) setelah Iman, syarat melakukan perubahan dan strategi memenangkan Islam dan meraih kebaikan di dunia dan kesuksesan akhirat, baik hijrah makaniyah maupun hijrah qiyam imaniyyah. Bahkan hijrah juga sebagai bukti kongkrit dari keimanan yang benar dan syarat memperoleh loyalitas serta perlindungan dari kaum Muslimin, seperti yang Allah firmankan :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Anfal [8] : 72).
Semoga Allah anugerahkan kepada kita kekuatan mental untuk melakukan hijrah dalam kehidupan ini.
اللهم آمين