Selamat Datang di www.elfaizz.blogspot.com semoga apa yang kami suguhkan bermanfaat, Kami mohon ma'af apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan, Kritik dan saran sangat kami harapkan

Selasa, 28 Februari 2012

5 Manfaat jus lidah buaya

Manfaat jus lidah buaya. Manfaat jus lidah buaya pastinya tidak berbeda jauh dengan manfaat lidah buaya. seperti pada post manfaat lidah buaya yang heboh.

Lidah buaya selain bermanfaat untuk menyuburkan rambut, mengobati sembelit, dan mengatasi kulit yang tersiram air panas, berikut ini lebih detil manfaat jus lidah buaya.

1. Membantu pencernaan

Kebanyakan orang memanfaatkan lidah buaya untuk mengatasi gangguan-gangguan seputar pencernaan, terutama sembelit. Minum jus lidah buaya secara alami memungkinkan tubuh untuk membersihkan sistem pencernaan. Ini mendorong perut untuk bergerak dan membantu seseorang dari sembelit. Dan jika Anda terserang diare, itu akan membantu menyembuhkan sakit.

2. Meningkatkan tingkat energi

Bila diminum secara teratur, jus lidah buaya dapat memberikan kebaikan bagi tubuh. Zat yang dikandungnya dapat membantu meningkatkan tingkat energi dan juga menjaga berat badan yang sehat.

3. Membangun kekebalan

Hal ini sangat baik bagi mereka yang memiliki gangguan kekebalan kronis seperti polisakarida atau fibromyalgia. Sejak polisakarida dalam jus lidah buaya merangsang makrofag, sel-sel darah putih dapat melawan virus.


4. Mendetoksifikasi

Jus lidah buaya adalah bantuan alami yang bagus untuk detoks. Hidup yang stres, udara yang penuh polusi, dan makanan junk food yang kita makan. Semuanya perlu untuk dibersihkan dari sistem kita. Dengan minum jus lidah buaya akan memberikan koktail fantastis yang kaya vitamin, mineral, dan elemen untuk membantu tubuh kita terhidnar dari ketegangan dan tekanan setiap hari.


5. Mengurangi peradangan

Ini meningkatkan fleksibilitas sendi dan membantu dalam regenerasi sel-sel tubuh. Hal ini juga bisa memperkuat otot-otot sendi, yang karenanya nyeri atau peradangan pada sendi melemah karena faktor usia.

Banyaknya manfaat yang dikandung pada tanaman obat alami tersebut, sepertinya harus menjadi perhatian Anda dalam mengggapai hidup sehat. Selain banyak manfaat, tanaman lidah buaya juga mudah didapat di sekitar lokasi kita.
 Sumber : www.obatherbalalami.com

Pengobatan Tradisional dengan Buah Sirsak (Annona muricata)

Manfaat atau Khasiat Buah Sirsak (Annona muricata), nangka belanda, atau durian belanda (Annona muricata L.) adalah tumbuhan berguna yang berasal dari Karibia, Amerika Tengah dan Amerika Selatan.Di berbagai daerah Indonesia dikenal sebagai nangka sebrang,nangka landa (Jawa), nangka walanda, sirsak (Sunda), nangka buris(Madura), srikaya jawa (Bali), deureuyan belanda (Aceh), durio ulondro (Nias), durian betawi (Minangkabau), serta jambu landa (di Lampung).


Penyebutan "belanda" dan variasinya menunjukkan bahwa sirsak (dari bahasa Belanda: zuurzak, berarti "kantung asam") didatangkan oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda ke Nusantara, yaitu pada abad ke-19,
meskipun bukan berasal dari Eropa.


Tanaman ini ditanam secara komersial untuk diambil daging buahnya. Tumbuhan ini dapat tumbuh di sembarang tempat, paling baik ditanam di daerah yang cukup berair. Nama sirsak sendiei berasal dari bahasa Belanda Zuurzak yang. Tanaman ini ditanam secara komersial atau sambilan untuk diambil buahnya. Pohon sirsak bisa mencapai tinggi 9 meter. Di Indonesia sirsak dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 1000 m dari permukaan laut.

Khasiat Buah Sirsak (Annona muricata) untuk Pengobatan - Saat ini di Indonesia dikenal dua kultivar sirsak yang berbeda rasanya, yaitu sirsak yang rasanya manis asam dan banyak bijinya, jenis ini tersebar luas dalam jumlah besar. Kedua adalah sirsak yang rasanya manis, lengket di lidah dan bijinya sedikit, jenis ini dikenal dengan sebutan sirsak ratu karena ditemukan di Pelabuhan ratu dan baru dikembangkan dalam jumlah kecil di daerah Sukabumi dan sekitarnya.


Berbagai manfaat sirsak untuk terapi antara lain pengobatan batu empedu, antisembelit, asam urat dan meningkatkan nafsu makan. Dengan mengkonsumsi buah sirsak dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan memperlambat proses penuaan (sebagai obat agar awet muda). Selain itu, kandungan seratnya juga berfungsi untuk memperlancar pencernaan, terutama untuk pengobatan sembelit. Sari buah sirsak di dalam sistem pencernaan akan meningkatkan rangsangan nafsu makan. Kegunaan lain dari sari buah ini adalah untuk pengobatan pinggang pegal dan nyeri, penyakit kandung air seni dan wasir (ambeien).

A. Kandungan Zat Gizi dalam buah SIRSAK
Energi, Zat Besi, Protein, Vitamin A, Lemak, Vitamin B1, Karbohidrat, Vitamin B2, Kalsium, Vitamin C, Fosfor, Niacin dan Serat Pangan. Namun hati hati, biji buah sirsak beracun, dan dapat digunakan sebagai insektisida alami, sebagaimana biji srikaya.


B. Khasiat dan manfaat untuk pengobatan :
1. Ambeien.
Buah sirsak yang sudah masak. Peras untuk diambil airnya sebanyak 1 gelas, diminum 2 kali sehari, pagi dan sore.

2. Sakit Kandung Air Seni.
Buah sirsak setengah masak, gula dan garam secukupnya. Semua bahan tersebut dimasak dibuat kolak. Dimakan biasa, dan dilakukan secara rutin setiap hari selama 1 minggu berturut-turut.

3. Bayi Mencret.
Buah-sirsak yang sudah masak. Buah sirsak diperas dan disaring untuk diambil airnya, diminumkan pada bayi yang mencret sebanyak 2-3 sendok makan.

4. Anyang-anyangen.
Sirsak setengah masak dan gula pasir secukupnya. Sirsak dikupas dan direbus dengan gula bersama-sama dengan air sebanyak 2 gelas, disaring dan diminum.

5. Sakit Pinggang.
20 lembar daun sirsak, direbus dengan 5 gelas air sampai mendidih hingga tinggal3 gelas, diminum 1 kali sehari 3/4 gelas.

6. Bisul.
siapkan daun sirsak muda secukupnya, kemudian tumbuk halus dan tambah air sedikit sambil diaduk merata. Tempelkan bahan tersebut pada bisul.


Sumber: facebook.com/

Senin, 27 Februari 2012

SONY ERICSSON XPERIA



Allah Beserta Orang-Orang yang Sabar

Kadang kita tidak menyadari, sudah berapa banyak do´a yang kita terima, dan siapa sajakah yang telah berdo´a untuk kita. Sering kali kita terlupa, bahwa suatu pekerjaan atau semua cobaan yang Allah berikan pada kita dapat kita lalui dengan baik, walaupun tanpa nilai, seperti seorang guru menilai hasil ujian murid-muridnya.Tapi semua itu dapat kita lalui walau dalam kurun waktu yang sangat lama.
Beberapa hal yang tidak sengaja masuk dalam ingatan saya, tentang peristiwa teman saya.
Dia sudah menganggap saya sebagai saudaranya, dia menginginkan saya menjadi tempat curhatnya, maka dengan enaknya dia menceritakan semua masalahnya, dari mulai masalah nya sejak kecil sampai masalah dalam rumah tangganya, dan yang lebih berat lagi mungkin, masalah yang saat ini harus dia hadapi, yaitu Kuliah.
Dengan umur yang hampir mendekati kepala 4, dia masih harus pula kuliah, di samping harus merawat anak-anaknya seorang diri.Ketika saya tanya " kenapa dia masih kuliah, padahal kondisinya sudah tidak memadai " jawabnya singkat dan padat " demi untuk menghidupi anak-anaknya ."yah karna yang saya tahu dia tidak bersama lagi dengan suaminya, dia bilang " untuk apa kita menjadikan Imam di rumah kita, seseorang yang tidak lagi mengikuti aturan agama dengan baik "
Sedih sekali saya membaca ceritanya, tapi saya tidak dapat berbuat apa-apa, apa lagi jarak yang sangat jauh memisahkan kita, perkenalan saya dengannya pun hanya lewat dunia maya, jadi saya tidak dapat banyak berbuat apa-apa, kecuali memeberinya kekuatan dengan sedikit masukan.
Saya katakan padanya, banyak lah berdo´a dan memohon agar Allah meringankan semua cobaan yang di berikan Nya pada mu.
Hanya itu yang dapat saya katakan, dan tak lupa sayapun mengakhiri dengan memberi semangat, karna semua orang dekat kita, akan berdo´a untuk kita.Juga saya senantiasa mengingatkan padanya bahwa " Sesudah kesulitan ada kemudahan."
Karna sesungguhnya Allah tidak akan memberi cobaan kepada setiap hamba-Nya kecuali sesuai dengan kemampuannya.
Dalam surah Alam Nasyrah, ayat 5 dan 6 Allah SWT menegas kepada semua Hamba-hamba-Nya, " Karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan "
" Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan "
Allah swt menekankan pada setiap hamba Nya agar senantiasa bersabar dengan apa yang telah di berikannya, dan Allah menjanjikan pahala bagi mereka yang senantiasa bersabar.
Surah di atas membuktikan, bahwa Allah tidak akan meninggalkan kita begitu saja setelah Allah memberikan cobaan.Kemudahan itu akan datang seiring dengan berjalannya waktu yang telah di tentukan oleh Nya.Dan sabar tiada batasnya.
Namun ingatlah teman, bila kita telah selesai dengan masalah yang satu, maka akan datang lagi masalah yang lain, begitulah kehidupan di dunia ini, silih berganti dan tak pernah behenti, hingga Allah memanggil kita nanti.
" Maka apa bila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan ), kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh (urusan ) yang lain " QS.94: 7
Namun yang harus kita pertanyakan, sudah cukupkah kita berdo´a kepada Nya, memohon agar di beri kekuatan, dan kesungguhan kita dalam berdo´a, menjadi target, bahwa kita yakin Allah SWT akan menolong kita, meskipun tidak langsung, tapi akan datang pertolongan itu.
Bila memang pertolongan itu tidak datang di dunia ini, maka Allah SWT akan menolong kita di Akhirat kelak.Karna setiap cobaan yang Allah berikan kepada kita, menjadi pemberat amalan-amalan kita di Akhirat kelak, bila kita melaluinya dengan sabar.
Rosulullah sendiri tidak pernah lepas berdo´a, padahal Beliau adalah kekasih Allah swt, dan Allah telah mengampuni semua dosa-dosanya dan di jamin masuk syurga pula. Namun Beliau tidak pernah melewati hari-harinya dengan berdo´a dan bersujud di sepertiga malam.
Karna sesungguhnya, setiap do´a yang kita mintakan kepada Yang Maha Kuasa tidak akan pernah tidak terkabulkan, Allah sangat senang bila hamba-hamba Nya memohon dan meminta, sebanyak apapun yang kita minta tak akan pernah di tolaknya, karna Allah Maha Kaya dan Maha Memiliki Segalanya.
Bersabarlah teman dengan apa yang telah di tentukan oleh Sang Penguasa Alam jagad raya ini, Karna Dia Maha Tahu atas segala yang kita derita.
Yakinlah bahwa Allah SWT tidak akan meninggalkan kita dalam kesedihan dan tidak akan membiarkan kita dalam kesusahan, Melainkan pahala yang berlimpah akan di berikan Nya, ketika kita senantiasa sabar dan tawakal.
Berdo´a lah dengan Ikhlas dan sungguh-sungguh, memohon pada Nya, agar Dia senantiasa menjaga kita dari keputus asaan dan kesedihan yang berkepanjangan.
Karna hanya dengan berdo´a dan memohon kepada Nya lah hati kita akan menjadi tentram.
Dan Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS.Az-Zumar: 10)
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS.Al-Baqarah: 153)

Wallahu´alam bisshawab.

Sumber : Ummu Mufais (http://www.eramuslim.com/)

Sabtu, 25 Februari 2012

Ayat dan Hadits Pernikahan

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu
sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan
sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Ruum
21)

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara
kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba
sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang
perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN
MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas
(pemberianNya) dan Maha Mengetahui.”
(An Nuur 32)

“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan,
supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (Adz Dzariyaat
49)

“Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu
perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra
32)

“Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang,
kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar
menjadi cocok dan tenteram kepadanya” (Al-A’raf 189)

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang
keji, dan laki-laki yang keji adalah buat
wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang
baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki
yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”
(An-Nur 26)

“Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu
nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” ( An
Nisaa : 4)

“Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang
isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga
memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka
Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih &
sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari
isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah
dosa-dosa dari segala jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id)

“Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah
berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang
diamalkan oleh jejaka (atau perawan)” (HR. Ibnu Ady
dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah)

“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka,
bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)

“Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu :
berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan
menikah” (HR. Tirmidzi)

“Janganlah seorang laki-laki berdua-duan (khalwat)
dengan seorang perempuan, karena pihak ketiga adalah
syaithan” (HR. Abu Dawud)

“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang
telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah.
Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan
pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa
yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena
sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya”
(HR. Bukhori-Muslim)

“Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat,
sebab syaithan menemaninya. Janganlah salah seorang di
antara kita berkhalwat, kecuali wanita itu disertai
mahramnya” (HR. Imam Bukhari dan Iman Muslim dari
Abdullah Ibnu Abbas ra).

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir,
hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang
wanita yang tidak disertai mahramnya, karena
sesungguhnya yang ketiga adalah syetan” (Al Hadits)

“Dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan
sebaik-baik perhiasan hidup adalah istri yang
sholihah” (HR. Muslim)

“Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau
senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia
(dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima
(lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan
kerusakan yang luas” ( H.R. At-Turmidzi)

“Barang siapa yang diberi istri yang sholihah oleh
Allah, berarti telah ditolong oleh-Nya pada separuh
agamanya. Oleh karena itu, hendaknya ia bertaqwa pada
separuh yang lain” (HR. Al-Hakim dan At-Thohawi)

“Jadilah istri yang terbaik. Sebaik-baiknya istri,
apabila dipandang suaminya menyenangkan, bila
diperintah ia taat, bila suami tidak ada, ia jaga
harta suaminya dan ia jaga kehormatan dirinya” (Al
Hadits)

“Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah : 1.
Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. 2.
Budak yang menebus dirinya dari tuannya. 3. Pemuda / i
yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang
haram” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim)

“Wahai generasi muda! Bila diantaramu sudah mampu
menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih
terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara”
(HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)

“Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang
mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu
sebagai umat yang terbanyak” (HR. Abu Dawud)

“Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah
kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku
bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah
umat yang lain” (HR. Abdurrazak dan Baihaqi)

“Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan
sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah”
(HR. Bukhari)

“Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang
hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling
hina adalah kematian orang yang memilih hidup
membujang” (HR. Abu Ya¡Â?la dan Thabrani)

“Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang
siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih
lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan
terhormat” (HR. Ibnu Majah,dhaif)

“Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang
yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah
akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan
menambah keluhuran mereka” (Al Hadits)

“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau
akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan
akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu
dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita
karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya,
Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan
memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita
karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan
kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya
karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya
atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah
senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan
itu padanya” (HR. Thabrani)

“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya,
mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan
kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin
saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan
tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab,
seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk
wajahnya adalah lebih utama” (HR. Ibnu Majah)

“Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah
bersabda : Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang
karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan
kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama” (HR.
Muslim dan Tirmidzi)

“Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang
paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al
Baihaqi dengan sanad yang shahih)

“Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau
lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah,
maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi
wali pernikahannya.” (HR. Ashhabus Sunan)

“Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang
sederhana belanjanya (maharnya)” (HR. Ahmad)

“Dari Anas, dia berkata : ” Abu Thalhah menikahi Ummu
Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya” (Ditakhrij
dari An Nasa’i)

“Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor
kambing.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Rasulullah Saw melarang laki-laki yang menolak kawin (sebagai alasan)
untuk beralih kepada ibadah melulu.” (HR. Bukhari)

“Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah benda (perhiasan)
dan sebaik-baik benda (perhiasan) adalah wanita (isteri) yang sholehah”. (HR. Muslim)

“Rasulullah Saw bersabda kepada Ali Ra: “Hai Ali, ada tiga perkara yang janganlah
kamu tunda-tunda pelaksanaannya, yaitu shalat apabila tiba waktunya,
jenazah bila sudah siap penguburannya, dan wanita (gadis atau janda)
bila menemukan laki-laki sepadan yang meminangnya.” (HR. Ahmad)

“Seorang janda yang akan dinikahi harus diajak bermusyawarah
dan bila seorang gadis maka harus seijinnya (persetujuannya),
dan tanda persetujuan seorang gadis ialah
diam (ketika ditanya). “(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

“Kawinilah gadis-gadis, sesungguhnya mereka lebih sedap mulutnya
dan lebih banyak melahirkan serta lebih rela
menerima (pemberian) yang sedikit.”(HR. Ath-Thabrani)

“Janganlah seorang isteri memuji-muji wanita lain di hadapan
suaminya sehingga terbayang bagi suaminya seolah-olah dia
melihat wanita itu.” (HR. Bukhari)

“Seorang isteri yang ketika suaminya wafat meridhoinya maka
dia (isteri itu) akan masuk surga. “(HR. Al Hakim dan Tirmidzi)

“Hak suami atas isteri ialah tidak menjauhi tempat tidur suami
dan memperlakukannya dengan benar dan jujur, mentaati perintahnya
dan tidak ke luar (meninggalkan) rumah kecuali dengan ijin suaminya,
tidak memasukkan ke rumahnya orang-orang
yang tidak disukai suaminya. “(HR. Ath-Thabrani)

“Tidak sah puasa (puasa sunah) seorang wanita yang suaminya
ada di rumah, kecuali dengan seijin suaminya. “(Mutafaq’alaih)

“Tidak dibenarkan manusia sujud kepada manusia, dan
kalau dibenarkan manusia sujud kepada manusia, aku akan
memerintahkan wanita sujud kepada suaminya karena
besarnya jasa (hak) suami terhadap isterinya.”(HR. Ahmad)

“Apabila di antara kamu ada yang bersenggama dengan isterinya
hendaknya lakukanlah dengan kesungguhan hati. Apabila selesai
hajatnya sebelum selesai isterinya, hendaklah dia sabar menunggu
sampai isterinya selesai hajatnya. “(HR. Abu Ya’la)

“Apabila seorang di antara kamu menggauli isterinya,
janganlah menghinggapinya seperti burung
yang bertengger sebentar lalu pergi. “(HR. Aththusi)

“Seburuk-buruk kedudukan seseorang di sisi Allah pada
hari kiamat ialah orang yang menggauli isterinya dan isterinya
menggaulinya dengan cara terbuka lalu suaminya mengungkapkan
rahasia isterinya kepada orang lain. “(HR. Muslim)

“Sesungguhnya wanita seumpama tulang rusuk yang bengkok.
Bila kamu membiarkannya (bengkok) kamu memperoleh
manfaatnya dan bila kamu berusaha meluruskannya
maka kamu mematahkannya. “(HR. Ath-Thahawi)

“Talak (perceraian) adalah suatu yang halal yang
paling dibenci Allah. “(HR. Abu Dawud dan Ahmad)

“Ada tiga perkara yang kesungguhannya adalah kesungguhan (serius)
dan guraunya (main-main) adalah kesungguhan (serius), yaitu perceraian,
nikah dan rujuk. “(HR. Abu Hanifah)

“Apabila suami mengajak isterinya (bersenggama) lalu isterinya
menolak melayaninya dan suami sepanjang malam jengkel
maka (isteri) dilaknat malaikat sampai pagi. “(Mutafaq’alaih)

“Allah tidak akan melihat (memperhatikan) seorang lelaki yang
menyetubuhi laki-laki lain (homoseks) atau yang
menyetubuhi isteri pada duburnya. “(HR. Tirmidzi)
 
Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” Muttafaq Alaihi.
 
Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya bersabda: “Tetapi aku sholat, tidur, berpuasa, berbuka, dan mengawini perempuan. Barangsiapa membenci sunnahku, ia tidak termasuk ummatku.” Muttafaq Alaihi.
 

Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kami berkeluarga dan sangat melarang kami membujang. Beliau bersabda: “Nikahilah perempuan yang subur dan penyayang, sebab dengan jumlahmu yang banyak aku akan berbangga di hadapan para Nabi pada hari kiamat.” Riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.
 
Hadits itu mempunyai saksi menurut riwayat Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Hibban dari hadits Ma’qil Ibnu Yasar.


Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia.” Muttafaq Alaihi dan Imam Lima.


Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila mendoakan seseorang yang nikah, beliau bersabda: “Semoga Allah memberkahimu dan menetapkan berkah atasmu, serta mengumpulkan engkau berdua dalam kebaikan.” Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadits shahih menurut Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban.
 


Abdullah Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengajari kami khutbah pada suatu hajat: (artinya = Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, kami meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami. Barangsiapa mendapat hidayah Allah tak ada orang yang dapat menyesatkannya. Barangsiapa disesatkan Allah, tak ada yang kuasa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba-Nya dan utusan-Nya) dan membaca tiga ayat. Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadits hasan menurut Tirmidzi dan Hakim.
 

Dari Jabir bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu melamar perempuan, jika ia bisa memandang bagian tubuhnya yang menarik untuk dinikahi, hendaknya ia lakukan.” Riwayat Ahmad dan Abu Dawud dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya. Hadits shahih menurut Hakim.


Hadits itu mempunyai saksi dari hadits riwayat Tirmidzi dan Nasa’i dari al-Mughirah.
 

Begitu pula riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari hadits Muhammad Ibnu Maslamah.
 Hadits ke-11
Menurut riwayat Muslim dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bertanya kepada seseorang yang akan menikahi seorang wanita: “Apakah engkau telah melihatnya?” Ia menjawab: Belum. Beliau bersabda: “Pergi dan lihatlah dia.”
 
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah seseorang di antara kamu melamar seseorang yang sedang dilamar saudaranya, hingga pelamar pertama meninggalkan atau mengizinkannya.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari.
 
Sahal Ibnu Sa’ad al-Sa’idy Radliyallaahu ‘anhu berkata: Ada seorang wanita menemui Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan berkata: Wahai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, aku datang untuk menghibahkan diriku pada baginda. Lalu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memandangnya dengan penuh perhatian, kemudian beliau menganggukkan kepalanya. Ketika perempuan itu mengerti bahwa beliau tidak menghendakinya sama sekali, ia duduk. Berdirilah seorang shahabat dan berkata: “Wahai Rasulullah, jika baginda tidak menginginkannya, nikahkanlah aku dengannya. Beliau bersabda: “Apakah engkau mempunyai sesuatu?” Dia menjawab: Demi Allah tidak, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Pergilah ke keluargamu, lalu lihatlah, apakah engkau mempunyai sesuatu.” Ia pergi, kemudian kembali dam berkata: Demi Allah, tidak, aku tidak mempunyai sesuatu. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Carilah, walaupun hanya sebuah cincin dari besi.” Ia pergi, kemudian kembali lagi dan berkata: Demi Allah tidak ada, wahai Rasulullah, walaupun hanya sebuah cincin dari besi, tetapi ini kainku -Sahal berkata: Ia mempunyai selendang -yang setengah untuknya (perempuan itu). Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apa yang engkau akan lakukan dengan kainmu? Jika engkau memakainya, Ia tidak kebagian apa-apa dari kain itu dan jika ia memakainya, engkau tidak kebagian apa-apa.” Lalu orang itu duduk. Setelah duduk lama, ia berdiri. Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melihatnya berpaling, beliau memerintah untuk memanggilnya. Setelah ia datang, beliau bertanya: “Apakah engkau mempunyai hafalan Qur’an?” Ia menjawab: Aku hafal surat ini dan itu. Beliau bertanya: “Apakah engkau menghafalnya di luar kepala?” Ia menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Pergilah, aku telah berikan wanita itu padamu dengan hafalan Qur’an yang engkau miliki.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim. Dalam suatu riwayat: Beliau bersabda padanya: “berangkatlah, aku telah nikahkan ia denganmu dan ajarilah ia al-Qur’an.” Menurut riwayat Bukhari: “Aku serahkan ia kepadamu dengan (maskawin) al-Qur’an yang telah engkau hafal.”
  
Menurut riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu beliau bersabda: “Surat apa yang engkau hafal?”. Ia menjawab: Surat al-Baqarah dan sesudahnya. Beliau bersabda: “Berdirilah dan ajarkanlah ia dua puluh ayat.”
 
Dari Amir Ibnu Abdullah Ibnu al-Zubair, dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sebarkanlah berita pernikahan.” Riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Hakim.


Dari Abu Burdah Ibnu Abu Musa, dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak sah nikah kecuali dengan wali.” Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadits shahih menurut Ibnu al-Madiny, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban. Sebagian menilainya hadits mursal.
 
Imam Ahmad meriwayatkan hadits marfu’ dari Hasan, dari Imran Ibnu al-Hushoin: “Tidak sah nikah kecuali dengan seorang wali dan dua orang saksi.”
 
Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Perempuan yang nikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil. Jika sang laki-laki telah mencampurinya, maka ia wajib membayar maskawin untuk kehormatan yang telah dihalalkan darinya, dan jika mereka bertengkar maka penguasa dapat menjadi wali bagi wanita yang tidak mempunyai wali.” Dikeluarkan oleh Imam Empat kecuali Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Uwanah, Ibnu Hibban, dan Hakim.


Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Seorang janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diajak berembuk dan seorang gadis tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta izinnya.” Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana izinnya? Beliau bersabda: “Ia diam (tidak menolak).” Muttafaq Alaihi.

Rabu, 22 Februari 2012

Pandangan Mata

Segala sesuatu bisa berawal dari pandangan mata, dari hal yang baik hingga yang buruk.
bahkan tidak sedikit pandangan bisa menimbulkan malapetaka. maka behati-hatilah kalian dengan yang namanya mata atau pandangan mata.

Pandangan mata, atau diistilahkan dengan ‘ain, adalah pandangan seseorang terhadap sesuatu yang dianggap bagus disertai dengan kedengkian yang muncul dari tabiat yang jelek sehingga mengakibatkan bahaya bagi yang dipandang. (Fathul Bari, 10/210)

Hal ini dijelaskan pula oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah bahwa ‘ain itu benar-benar ada dan telah jelas adanya secara syar’i maupun indrawi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan hampir-hampir orang-orang kafir itu menggelincirkanmu dengan pandangan mereka.” (Al-Qalam: 51)
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan selain beliau menafsirkan ayat ini bahwa orang-orang kafir itu hendak menimpakan ‘ain kepadamu dengan pandangan mata mereka.
Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang keberadaan ‘ain ini, sebagaimana disampaikan oleh putra paman beliau, ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“‘Ain itu benar adanya. Seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, tentu akan didahului oleh ‘ain. Apabila kalian diminta untuk mandi, maka mandilah.” (Shahih, HR. Muslim no. 2188, Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, 1/164-165)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, hadits ini menjelaskan bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak akan terjadi kecuali sesuai dengan apa yang telah Allah takdirkan serta didahului oleh ilmu Allah tentang kejadian tersebut. Sehingga, tidak akan terjadi bahaya ‘ain ataupun segala sesuatu yang baik maupun yang buruk kecuali dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dari hadits ini pula terdapat penjelasan bahwa ‘ain itu benar-benar ada dan memiliki kekuatan untuk menimbulkan bahaya. (Syarh Shahih Muslim, 14/174)

‘Ain dapat terjadi dari pandangan yang penuh kekaguman walaupun tidak disertai perasaan dengki (hasad). Demikian pula timbulnya ‘ain itu tidak selalu dari seseorang yang jahat, bahkan bisa jadi dari orang yang menyukainya atau pun orang yang shalih. (Fathul Bari, 10/215)

Bahkan di antara para shahabat yang notabene mereka itu adalah orang-orang yang paling mulia setelah para nabi pun, terjadi ‘ain ini. Kisah tentang hal ini dituturkan oleh Abu Umamah, putra Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu:

‘Amir bin Rabi’ah pernah melewati Sahl bin Hunaif yang sedang mandi, lalu ia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat seperti hari ini dan aku tak pernah melihat kulit seperti kulit wanita yang dipingit.’ Tidak berapa lama, Sahl terjatuh. Kemudian dia didatangkan ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang pun mengatakan kepada beliau, ‘(Wahai Rasulullah), segera selamatkan Sahl, ia telah terbaring.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Siapa yang kalian tuduh dalam hal ini?’ Mereka menjawab, ‘Amir bin Rabi’ah.’ Beliau pun berkata, ‘Atas dasar apa salah seorang di antara kalian hendak membunuh saudaranya? Apabila seseorang melihat sesuatu yang menakjubkan dari diri saudaranya, hendaknya ia mendoakan kebaikan padanya.’ Kemudian beliau meminta air dan memerintahkan ‘Amir untuk berwudhu’, maka ‘Amir pun membasuh wajahnya, kedua tangan hingga sikunya, kedua kaki hingga lututnya, serta bagian dalam sarungnya. Lalu beliau memerintahkan untuk menuangkan air itu pada Sahl.” (HR. Ibnu Majah no. 3500, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3908/4020 dan Al-Misykah no. 4562)

Tergambar pula dengan jelas dalam kisah ini, apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada seseorang yang terkena ‘ain. Demikian pula dalam perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‘Ain itu benar adanya. Seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, tentu akan didahului oleh ‘ain. Apabila kalian diminta untuk mandi, maka mandilah.”
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan bahwa perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menunjukkan, apabila seseorang diketahui menimpakan ‘ain, maka ia diminta untuk mandi, dan mandi ini merupakan cara pengobatan ‘ain yang sangat bermanfaat. Dituntunkan pula bila seseorang melihat sesuatu yang mengagumkan hendaknya segera mendoakan kebaikan padanya, karena doanya itu merupakan ruqyah (pengobatan) baginya. Beliau juga menyatakan bahwa ‘ain yang menimpa seseorang dapat mengakibatkan kematian. (Fathul Bari, 10/215)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk melakukan ruqyah, yaitu pengobatan dengan Al Qur’an dan dzikir-dzikir kepada Allah, terhadap orang yang terkena ‘ain. Beliau memerintahkan hal itu pula kepada istri beliau, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk melakukan ruqyah dari ‘ain.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5738 dan Muslim no. 2195)

Begitu pula yang beliau perintahkan ketika melihat seorang anak perempuan yang terkena ‘ain pada wajahnya. Peristiwa ini dikisahkan oleh istri beliau, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seorang anak perempuan di rumah Ummu Salamah yang pada wajahnya ada kehitam-hitaman. Beliau pun berkata, ‘Ruqyahlah dia, karena dia tertimpa ‘ain’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5739 dan Muslim no. 2197)

Diceritakan pula oleh Jabir bin ‘Abdullah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh agar anak-anak Ja’far bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu diruqyah:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Asma’ bintu ‘Umais, “Mengapa aku lihat anak-anak saudaraku kurus-kurus? Apakah karena kekurangan?”. Asma’ menjawab, “Bukan, akan tetapi mereka cepat terkena ‘ain.” Beliau pun berkata, “Ruqyahlah mereka!”. Asma’ berkata: Maka aku serahkan urusan ini kepada beliau, lalu beliau pun berkata, “Ruqyahlah mereka.” (Shahih, HR. Muslim no. 2198)
Bahkan Jibril ‘alaihis salam pernah meruqyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sakit dengan doa:
“Dengan nama Allah aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitkanmu dan dari setiap jiwa atau pandangan yang dengki. Semoga Allah menyembuhkanmu, dengan nama Allah aku meruqyahmu.” (Shahih, HR. Muslim no. 2186)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memohon perlindungan dari ‘ain, sebagaimana dikabarkan oleh shahabat yang mulia, Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berlindung dari jin dan pandangan manusia, hingga turun surat Al-Falaq dan surat An-Naas. Ketika keduanya telah turun, beliau menggunakan keduanya dan meninggalkan yang lainnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2059 dan Ibnu Majah no. 3511, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 2830)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa menjaga diri dari ‘ain boleh dilakukan dan bukan berarti meniadakan tawakkal kepada Allah. Bahkan sikap demikian ini termasuk tawakkal, karena tawakkal adalah bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala disertai melakukan ‘sebab’ yang diperbolehkan atau diperintahkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memohonkan perlindungan untuk Al-Hasan dan Al-Husain dengan doa:
“Aku memohon perlindungan bagi kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa, dan dari setiap pandangan yang jahat.”
Demikian pula yang dilakukan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam terhadap kedua putranya, Nabi Ishaq dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salam. (Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, 1/165-166)

Betapa ayah dan ibu akan berduka bila pandangan mata itu menimpa buah hatinya. Tentu mereka akan berusaha sekuat tenaga di atas jalan Allah dan Rasul-Nya untuk menghindarkannya, jauh sebelum ‘ain itu datang menerpa. Buah hati tercinta, semogalah selamat selamanya.
Wallahu a’lamu bish shawab.

Selasa, 21 Februari 2012

Bagian Otak Manusia yang Membuat Dusta


Oleh Abduldaim Al-Kahil
Selama ini, para ilmuwan tidak mengetahui di bagian otak mana pada manusia yang paling bertanggung jawab terhadap sebuah dusta atau kebohongan. Orang hanya tahu kalau dusta itu muncul dari sebuah ucapan, tapi tidak mengetahui kalau itu ada hubungannya dengan bagian tertentu dalam otak.
Setelah melakukan penelitian, akhirnya para ilmuwan menemukan sebuah kesimpulan. Bahwa, otak bagian depan yang terletak pada ubun-ubun itulah yang paling bertanggung jawab terhadap terjadinya dusta.
Kesimpulan ini, sebenarnya tergolong sangat telat jika dibandingkan dengan apa yang sudah diisyaratkan oleh Allah swt. dalam firman-Nya dalam Alquran. Bagian otak tersebut disebut Alquran dengan nama ‘nashiyah’ atau ubun-ubun.

Yang mengagumkan adalah bahwa Al-Quran sejak berabad-abad yang lalu telah berbicara tentang fungsi ubun-ubun ini ketika membicarakan Abu Jahl:
Allah swt. berfirman dalam Surah Al-‘Alaq ayat 15 dan 16.

كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعَنْ بِالنَّاصِيَةِ * نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ
“Ketahuilah, sungguh jika Dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya[1], (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.
[1] Maksudnya: memasukkannya ke dalam neraka dengan menarik kepalanya.

Al-Quran memberikan sifat كاذبة خاطئة (mendustakan lagi durhaka). Kenyataan seperti inilah yang ditemukan para ilmuwan pada masa sekarang ini dengan menggunakan pemindaian resonansi magnetik.
Maha Suci Allah Yang telah menyatakan fakta ini yang menunjukkan kemukjizatan Al-Quran yang baru ditemukan pada masa sekarang ini. mnh/al-kaheel

sumber
http://www.eramuslim.com

Nasehat Tiga Lembar Daun

“Assalamu’alaikum” Shinta mengucapkan salam sambil membuka pintu kelas
“Wa’alaikumussalam,” jawab teman-teman Shinta.

Banyak mata mengarahkan pandangan ke sumber suara, termasuk bu Sri.
“Maaf bu, saya terlambat,” ujar Shinta sambil menundukkan kepalanya
“Shinta!! Jangan mentang-mentang kamu anak pandai ya. Minggu kemarin kamu terlambat, sekarang terlambat lagi!!” Muka bu Sri tegang, matanya melotot.
Suasana pagi yang mulai menghangat dengan hangatnya sinar mentari yang mulai masuk ke kelas itu, sepertinya semakin hangat dengan ‘semburan api’ bu Sri
“Itu bu…,” Shinta mencoba membela diri dan ingin menjelaskan permasalahan
“Tidak ada alasan!! Duduk!!”
Shinta berjalan dengan muka tertunduk, nampak sorot matanya sendu.
Pelajaran bu Sri berjalan terasa terseok-seok, lama sekali. Utamanya bagi Shinta yang masih kesal dengan perlakuan gurunya itu.
Shinta mengeluarkan HP-nya, dia mengirimkan pesan singkat ke Amar, “Diptusin brslah, tnpa hak tuk mmbela diri,”
HP Amar bergetar. Dia segera mengeluarkan HP-nya dari saku celananya. Dia membacanya dengan seksama. Segera saja dia membalas, “Elo sabar aja dlu Shin. Tar qta bcarain. Oc? Ayo smangat Shin! Mna Shinta yang gw kenal pnuh semangat? ^_^ “
Kini HP Shinta yang bergetar. Segera membacanya. Shinta tersenyum ketika membaca kalimat “Mna Shinta yang gw kenal pnuh semangat? ^_^ “
Shinta membalas SMS Amar, “Oc. Thx”
Tiga jam mata pelajaran bu Sri pun usai. Anak-anak kelas Shinta dan Amar pun berhamburan keluar. Waktunya istirahat.
“Yuk Mar! Gw mo ngomong ama elo.” Shinta mengajak Amar
“Kemana?” tanya Amar
“Ke kantin aja,”
Amar dan Shinta duduk berhadapan. Mereka memesan teh es manis.
“Gw gak terima Mar,”
Amar hanya mendengar saja.
“Seharusnya ibu itu denger dulu alasan gw. Kenapa gw terlambat?”
“Gw setuju Shin. Gw juga ngerti banget siapa elo. Elo gak bakalan ngebohong. Elo gak bakalan sengaja untuk terlambat. Pasti ada alasannya.”
“Gw sedih banget Mar. Itu khan artinya sama aja ibu itu nganggap gw bohong. Sama aja ibu itu nganggap gw sengaja untuk terlambat.” Nampak tarikan napas Shinta agak berat. Menahan emosi yang ada di dada.
Beberapa saat kemudian, Shinta tak dapat lagi menahan emosinya, air matanya akhirnya jatuh.
“Ups. Udah Shin…Shin…Gak enak tar dilihat orang.”
Air mata Shinta masih terus mengalir.
“Emangnya elo kenapa terlambat?” Amar coba mengalihkan
“Kalo minggu kemarin, di perjalanan gw ke sekolah, ada pohon tumbang. Arus kendaraan jadi macet,” jawab Shinta sambil menyeka air mata di pipinya.
“Kalo hari ini, kenapa?”
“Hari ini, gw habis nolong kakek-kakek yang jatuh dari angkot.”
“Elo di angkot yang sama?”
“Ya, begitu liat kakek itu jatuh, gw langsung turun. Gw langsung ngomel-ngomel sama tuh supir,”
Amar tersenyum melihat tingkah Shinta kali ini. Shinta berdiri sambil berkacak pinggang, “Eh bang!! Ati-ati dong!! Sampe jatuh nih kakek!!”
“Gw ngomel gitu aja Mar,”
“Kaki kakek itu luka Mar. Jadi, gw bawa dia ke rumah sakit.”
“Waah, kalo kakek itu punya cucu yang ganteng dan sholih, kayaknya elo bakal dijadiin ama cucunya ntu?”
“Maksud elo Mar?”
“Hahaha,” Amar tertawa dan dia lihat Shinta sudah mulai dapat tersenyum
Seakan tersadar bahwa permasalahan belum selesai, Amar segera ke kasir kantin membayar dua gelas teh manis.
“Yuk Shin, ikut gw!”
Shinta segera menyusul Amar. “Mau kemana Mar?”
Amar menghentikan langkahnya. “Elo setuju gak, kalo masalah ini, kita ceritain ke pak Uki?”
Wajah Shinta nampak bingung, “Ehm..gimana yah? Gw bingung Mar,”
“Cepet putusin Shin! Kalo masalah ini tidak diselesaikan sekarang, bisa-bisa masalah ini berlarut-larut. Elo bisa jadi korban lagi. Gimana?”
Setelah mendengar penjelasan Amar, Shinta menjadi yakin, “Ok deh,”
Waktu istirahat masih tersisa sekitar tujuh menit.
Amar menjelaskan secara singkat permasalahan yang dihadapi Shinta. Amar sengaja tidak menyebutkan nama guru yang ‘bermasalah’ itu. Pak Uki mendengarkannya dengan seksama.
“Kalo guru itu benar-benar ikhlas, dia tentu akan mudah menerima nasehat,” pak Uki menanggapi cerita Amar itu.
“Amar, coba kamu cari di luar. Daun yang masih hijau, kuning dan yang sudah kering; biasanya berwarna kecoklatan. Tapi jangan dipetik dari pohonnya yah.. Ambil yang sudah berjatuhan di bawah.”
Dua menit kemudian, Amar sudah berada di hadapan pak Uki dan Shinta.
“Serahkan ketiga lembar daun ini kepada guru itu. Katakan ini dari saya,”
Amar dan Shinta nampak bingung.
“Sudah serahkan aja! Gak usah bingung! Sebelum guru itu masuk kelas, kamu temui dulu dia, Nah, masukkan daun-daun itu ke dalam amplop ini.”
“Ya pak,”
“Nah, sekarang kamu liat jadwal guru itu. Habis ini, dia di kelas mana?”
Amar pun melihat jadwal mengajar guru-guru yang tertempel di dinding.
“Udah pak, saya sudah tahu,”
Amar dan Shinta pun pamit.
Teet…teeet…..waktu istirahat pun usai
“Ibu itu ngajar dimana?” tanya Shinta
“Kelas sebelah Shin. Udah elo masuk aja dulu,”
Amar pun menanti bu Sri lewat
Tak lama kemudian, bu Sri lewat
“Ibu..maaf,”
“Ada apa Mar?” tanya bu Sri
“Ini ada titipan dari pak Uki,” jawab Amar sambil menyerahkan Amar
Bu Sri menerimanya. “Ya udah, makasih ya Mar,”
Bu Sri melihat-lihat amplop itu.
Di dalam kelas, “Selamat pagi anak-anak..”
“Pagi buuuu,”
“Anak-anak, coba kerjakan latihan yang ada di halaman 40,” bu Sri mengeluarkan instruksi
Kelas yang terdiri dari empat baris nampak ramai. Semua bangku terisi penuh, tidak ada yang absen. Ada yang baru mengeluarkan buku cetak Matematika, pelajaran yang diajarkan bu Sri. Ada juga yang sudah mulai mengerjakan latihan. Juga ada yang masih kipas-kipas, mungkin sisa pedas bakso yang dimakannya masih terasa.
Sementara bu Sri membuka amplop yang diberikan Amar tadi. Bu Sri mendapati 3 lembar daun. Kening bu Sri berkerut, mencoba memahami maksud dari amplop berisi daun itu. Daun yang terdiri dari daun berwarna hijau, kuning dan coklat.
“Daun berwarna hijau berarti daun yang masih muda. Yang kuning berarti daun yang sudah matang dan berwarna coklat adalah daun yang sudah tua,” begitu bu Sri berbisik mencoba memahami.
Tak lama kemudian, jatuhlah air mata bu Sri, “Astaghfirullah! Ini benar-benar nasehat untuk saya. Saya harus minta maaf sama Shinta.”
Cepat-cepat bu Sri mengambil tisu dan digunakan untuk mengeringkan air mata yang sempat hinggap di pipi.
“Teet….teet…” waktu istirahat kembali tiba
Bu Sri segera keluar. Di pintu kelas Amar, dia berhenti, melambaikan tangan ke Amar.
Amar yang merasa dipanggil menunjukkan ke dirinya. Mulutnya bergerak, “Saya bu?”
Bu Sri mengangguk.
Amar segera berjalan melewati empat baris tempat duduk temannya. Shinta sempat melihatnya.
“Mar, nanti minta Shinta ke ruang guru yah?” pinta bu Sri
Bu Sri langsung berjalan menuju ruang guru dan Amar segera menuju Shinta, “Sst, elo diminta ke ruang guru tuk nemui bu Sri,”
“Ada apa ya Mar? Apa ini karena tiga lembar daun itu? Apa bu Sri semakin marah?” tanya Shinta
“Mungkin juga Shin. Tapi, barangkali ini kabar baik Shin,” jawab Amar.
“Amien, doa’in gw ya Mar,”
“Ok. Tenang aja,”
Sewaktu dimarahi tadi pagi, Shinta berjalan lesu dan sedih. Tapi kali ini, jalannya Shinta berbeda. Melangkah dengan pasti. Merasa dapat dukungan dari sahabatnya dan berharap tiga lembar daun itu dapat berefek baik pada bu Sri. Karena dia yakin pak Uki memberikan 3 lembar daun itu untuk hal yang baik.
Sampai di pintu ruang guru, Shinta mencoba mencari wajah bu Sri. Bu Sri sedang duduk sendiri, di pojok kiri ruang guru.
“Assalamu’alaikum,” Shinta mengucapkan salam
“Wa’alaikumussalam. Duduk Shin,” bu Sri mempersilahkan Shinta dengan ramah
“Wah maaf nih Shin, waktu istirahat kamu mungkin akan terpakai. Gimana? Gak apa apa?”
“Gak apa apa bu,”
“Ibu manggil kamu kesini, karena ibu ingin minta maaf sama kamu,”
“Ooo… gak apa apa bu. Itu memang salah Shinta. Shinta sudah dua kali terlambat, pas jam pelajaran ibu. Ibu bisa saja berpikiran bahwa saya bohong. Ibu bisa saja menyangka bahwa saya meremehkan pelajaran ibu. Saya terima itu,” Shinta berbicara dengan merendah, tapi disertai dengan sindiran halus.
Ibu Sri menangkap sindiran Shinta, “Ibu yakin kamu tidak bohong. Ibu juga yakin kamu tidak meremehkan pelajaran ibu. Sekali lagi ibu minta maaf, yah. Kamu tahu gak, apa yang membuat ibu menyadari kesalahan ibu?”
“Tidak bu,”
Bu Sri segera mengeluarkan sebuah amplop. Isinya pun dikeluarkan.
“Tiga lembar daun, bu?”
“Ya Shin. Tiga lembar daun ini yang ‘menyentil’ ibu,”
Shinta senang karena ternyata ibu Sri dapat sadar. Tapi dia masih bingung, kok tiga lembar daun dapat menyadarkannya?
“Kok bisa sih bu, tiga lembar daun bisa berpengaruh seperti itu? Emang artinya apa bu?”
“Shinta…ini ada tiga lembar daun. Tiga lembar daun yang telah gugur jatuh ke bumi atau gugur karena dipetik orang,”
“Trus bu?”
“Daun pertama berwarna hijau, itu artinya daun masih muda. Daun kedua berwarna kuning, itu artinya daun sudah remaja atau dewasa. Daun ketiga berwarna coklat, itu artinya daunnya sudah tua. Begitu juga usia manusia Shin. Ada yang masih bayi dan masih kecil, tapi sudah dipanggil oleh Allah. Ada yang sudah sangat tua, tapi masih segar bugar. Kita tidak dapat berbuat apa-apa, semuanya merupakan hak Allah untuk memutuskannya,”
Shinta kagum pada bu Sri. Dia tidak menyangka bu Sri yang tadi pagi, nampak seperti ‘singa betina’. Kali ini, hatinya begitu halus dan amat peka sekali. Dapat menerima sebuah pesan, walau berbentuk symbol.
“Apalah ibu? Ibu hanya seorang guru. Baru jadi guru saja sudah sombong dan berbuat sewenang-wenang. Seorang penguasa saja, tidak dapat berbuat apa-apa di hadapan Allah. Tidak bisa mengelak bila ajalnya telah ditentukan oleh Allah,”
Shinta tersenyum.
“Sekali lagi ibu minta maaf ya Shin?”
“Ya bu, sama-sama. Shinta juga terima kasih mendapat pelajaran dari ibu. Saya tadi sempat bingung. Tiga lembar daun dapat memberikan nasehat.”
“Ibu sebenarnya, tidak ingin marah. Tapi tadi ibu dapat telepon dari adik ibu bahwa ayah jatuh dari angkot?”
“Ayah ibu jatuh dari angkot? Dimana bu?”
“Di pertigaan jalan Dewi Sartika,”
Shinta berpikir, “Bukankah kakek-kakek tadinya juga jatuh dari angkot dan jatuhnya di pertigaan jalan Dewi Sartika? Jangan-jangan kakek itu ayahnya ibu Sri?”
“Alhamdulillah, ada pelajar SMA yang menolongnya. Seorang pelajar putri berjilbab. Dia langsung membawa ayah ke rumah sakit,”
Penjelasan ibu Sri yang terakhir ini semakin meyakinkan Shinta bahwa kakek yang ditolongnya itu adalah ayah dari bu Sri. Tapi Shinta tidak ingin menjelaskan hal ini. Selain tidak bagus menepuk dada sendiri, bu Sri dalam posisi yang kurang menguntungkan. Kalo bu Sri tahu bahwa Shinta lah yang membawa ayahnya ke rumah sakit, tentu ibu Sri akan semakin merasa bersalah pada Shinta.

Terinspirasi
1.    Dari kisah Umar ra yang menasehati gubernurnya dengan mengirimkan/menitipkan kepada utusan gubernuh sebuah tulang yang sudah digariskan dengan pedang. Tulang itu bermakna, “Janganlah engkau sombong dan berbuat sewenang-wenang. Karena engkau akan menjadi seperti tulang ini. Bila engkau tidak juga berlaku lurus, maka saya yang akan meluruskannya dengan pedang, seperti garis lurus di tulang ini.”




Senin, 20 Februari 2012

Pandangan Islam terhadap Harta, Kaya dan Kesederhanaan


Posted by admin on December 6th, 2011

Saya membaca satu tulisan dari seorang ustad yang cukup terkenal tentang “Pandangan Islam terhadap Harta.” Isinya cukup bagus, di antaranya mengajarkan pembaca untuk jadi kaya sehingga bisa menggunakannya untuk kebaikan. 

Meski demikian ada beberapa hal yang sepertinya kurang pas dan mengganjal di hati saya. Misalnya karena ingin kaya akhirnya begitu melihat rumah dan mobil bagus lalu mengelus-elus rumah dan mobil bagus milik orang lain yang diinginkannya (syukur-syukur kalau pagar rumah itu tidak dialiri listrik atau dipanggil satpam oleh yang punya) atau gaya hidup mewah seperti punya pesawat jet pribadi, naik pesawat first class, mobil mewah, dan makan makanan enak. Begitu pula dengan beberapa bacaan penulis Barat seperti Robert Kiyosaki yang meski sempat saya baca cukup bagus, namun tidak semuanya bisa jadi pegangan karena akhirnya mengarah pada spekulasi saham dan MLM (Buku-buku seperti itu memang jadi pegangan aktivis MLM).
Beberapa panutan yang ditonjolkan juga merupakan orang-orang kaya yang bermasalah di mana ada yang merupakan penghutang BLBI trilyunan rupiah dan juga keluarganya melakukan penundaan pembayaran hutang ganti rugi rumah dan tanah kepada warga Porong yang mereka rugikan, serta menjual media TV yang mereka miliki kepada konglomerat media Yahudi, Rupert Murdoch. Padahal ini tidak sesuai ajaran Islam:
Orang kaya yang menunda-nunda (mengulur-ulurkan waktu) pembayaran hutangnya adalah kezaliman. (HR. Bukhari)

Seorang ulama harusnya mewarnai ummatnya dengan sibghatullah. Bukan justru diwarnai ummatnya terutama dengan hal-hal yang kurang sesuai dengan ajaran Islam.

Sebagai orang Islam, pedoman kita adalah Kitabullah Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Insya Allah, Al Qur’an itu Haq dan Nabi itu maksum terjaga dari dosa dan kesalahan. Ada pun manusia biasa termasuk ulama tidak lepas dari salah dan lupa.

Dari berbagai ayat Al Qur’an dan Hadits yang saya baca, saya mengambil kesimpulan bahwa Islam itu menganjurkan ummatnya untuk memberi. Bukan untuk menjadi kaya. Contohnya kita disuruh membayar zakat dan juga bersedekah.

Mungkin ada yang bertanya, ”Apa bedanya ”Memberi” dengan ”Menjadi Kaya”? Bukankah untuk memberi kita harus kaya?”

Meski sekilas ”Memberi” sama dengan ”Menjadi Kaya”, tapi tidak serupa. Betapa banyak orang yang kaya tapi tidak mau bayar zakat atau bersedekah? Sebaliknya berapa banyak orang miskin atau yang hidupnya biasa saja tapi justru rajin berzakat dan sedekah? Banyak orang yang kaya tapi tidak berhaji. Sebaliknya banyak orang yang pas-pasan seperti TKI dan TKW malah bisa naik haji.

Mungkin ada yang bertanya, ”Apa iya orang miskin atau pas-pasan bisa sedekah/bayar zakat?” Jawabnya bisa:

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya: Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling mulia? Beliau menjawab: “Sedekah orang yang tak punya, dan mulailah memberi sedekah atas orang yang banyak tanggungannya. Dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim.

Bukan cuma dari hadits, ini pengalaman saya sendiri. Sebagai Ketua sebuah organisasi, beberapa orang menyumbang melalui saya. Ternyata penyumbang terbesar itu bukanlah orang yang kaya menurut pandangan ustad tersebut. Luas rumahnya paling tidak lebih dari 30 m2, mobil dan motor dia tidak punya. Namun dia menyumbang laptop dan palmtop (paling tidak nilainya Rp 3 juta) untuk ummat sambil memberi uang cash Rp 200 ribu. Dia jamu saya dengan makanan dan teh botol. Anggota-anggota lain yang punya mobil dan rumah bagus belum tentu bisa begitu. Ustad yang menerima laptop tersebut rumahnya dan sofanya jauh lebih bagus daripada rumah teman saya yang menyumbang. Teman saya bahkan tak punya sofa/kursi dan meja di ruang tamunya.

Sebalik ketika saya bersama teman-teman berkunjung ke rumah orang kaya di bilangan Jakarta Selatan, masya Allah. Meski lewat waktu makan malam cuma dihidangi minum saja sehingga perut kelaparan. Sampai di rumah sekitar jam 23:30 malam saya makan malam sambil gemetaran…Padahal orang kaya ini (Direktur Utama berbagai perusahaan besar di Indonesia) rumahnya sangat besar, mobilnya mewah dan banyak.

Kalau disuruh memilih harus bertamu ke siapa, saya tidak akan ragu untuk memilih bertamu ke rumah teman saya yang biasa saja tapi gemar memberi ketimbang ke rumah orang kaya namun ”hematnya” minta ampun…

Dalam Islam, yang diperintahkan adalah membelanjakan harta untuk kebaikan. Bukan menjadi kaya. Misalnya dalam rukun Islam tidak ada perintah jadi orang kaya. Yang ada adalah membayar zakat dan pergi berhaji JIKA mampu.

Saat ini saya melihat sebagian orang menganggap bahwa Islam mengharuskan ummat Islam harus kaya dengan alasan Nabi dulu kaya dan banyak perintah Islam seperti Zakat, Haji, Sedekah mensyaratkan adanya kekayaan.

Meski sekilas kelihatan benar, namun kiranya hal itu kurang tepat. Apalagi jika akhirnya untuk menjadi kaya semua cara dihalalkan dan membelanjakannya pun dengan bermewah-mewah serta memandang hina orang miskin.

”Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’” [Al Baqarah:43]

”Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” [Al Baqarah:83]

”Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” [Al Baqarah:110]

Ayat-ayat Al Qur’an di atas cukup jelas bahwa Islam memerintahkan ummatnya untuk membayar zakat dan bersedekah kepada kerabat dan fakir miskin. Bukan menjadi kaya karena berapa banyak orang yang kaya tapi tidak bayar zakat dan bersedekah.

Hadits Nabi ”Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah” adalah himbauan untuk memberi. Artinya orang yang memberi lebih mulia daripada orang yang meminta. Bukan orang kaya lebih mulia dari pada orang miskin. Berapa banyak orang yang kaya tapi dari hasil minta-minta suap atau komisi dan enggan bersedekah.

Menjadi kaya bukanlah tujuan dalam Islam. Berapa banyak orang yang kaya, tapi dilaknat Allah dalam Al Qur’an. Contohnya Karun. Kekayaannya sangat besar, namun karena sombong dan enggan menolong, dia mati dibenamkan ke dalam bumi oleh Allah SWT.

Saking kayanya Karun, kunci-kunci gudang hartanya saja sangat berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat macam Ade Rai…:

”Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri” [Al Qashash:76]

Bukan hanya Karun orang kaya yang disiksa Allah. Sebelumnya banyak orang-orang yang lebih kaya juga dibinasakan oleh Allah SWT:

Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” QS 28.78

Mengharap kaya seperti Karun bukanlah ajaran Islam:

”Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”.
Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”.[Al Qashash:79-80]

Allah membenamkan Karun beserta hartanya ke dalam bumi dan orang yang ingin kaya seperti Karun menyesal:

”Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).
Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu. berkata:
“Aduhai. benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)”. [Al Qashash:81-82]

Ayat di atas jelas bahwa menjadi kaya bukanlah tujuan dalam Islam. Untuk memperjelas saya tampilkan lagi ayat yang lain:

”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” [At Takatsuur:1]

Harta/kekayaan tidak ada manfaatnya jika dari yang haram atau tidak digunakan di jalan Allah:

”Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.” [Al Lahab:2]

Dalam hal mencari kekayaan, orang sering lupa sehingga yang haram menjadi halal. Indonesia adalah merupakan satu negara terkorup di dunia padahal mayoritasnya ummat Islam. Karena ingin kaya, banyak ummat Islam memilih jalan pintas dengan korupsi, mendapat komisi, dan sebagainya.

Banyak pejabat yang tidak mau kerja kecuali jika diberi uang padahal sebetulnya itu memang pekerjaan yang harus dia kerjakan. Sebagai contoh baru-baru ini ada berita Gubernur BI memberikan uang milyaran rupiah kepada DPR agar DPR membuat UU tentang BLBI. Untuk apa DPR diberi uang padahal membuat UU memang tugas mereka? Anggota DPR yang sebagian berasal dari Parpol Islam kan sudah digaji besar untuk membuat UU, mengapa harus diberi uang lagi? Inilah akibatnya jika kekayaan jadi tujuan utama seorang Muslim.

Rasulullah SAW berkata: ”Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan terhadap kalian, tetapi yang aku khawatirkan adalah jika kekayaan dunia dilimpahkan kepada kalian sebagaimana telah dilimpahkan kepada orang-orang sebelum kalian, kemudian kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba dan akhirnya dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka.” (Shahih Muslim No.5261)

Dalam surat Al Maa’uun disebut bahwa orang yang enggan menolong anak yatim dan fakir miskin dengan barang berguna sebagai pendusta agama meski dia sholat:

”Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?
Itulah orang yang menghardik anak yatim,
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat,
(yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya,
orang-orang yang berbuat ria.
dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” [Al Maa’uun:1-7]

Allah tidak memandang apakah orang itu kaya atau banyak harta:

”Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.” [Al A’raaf:48]

Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan:

”Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” [Al An’aam:141]

Orang yang hidup mewah secara berlebih sulit untuk bersedekah. Sebagai contoh, orang yang hartanya Rp 10 milyar, jika dia hemat dia hanya memakai Rp 1 milyar untuk kebutuhan hidupnya dan Rp 9 milyar dibelanjakan di jalan Allah. Tapi orang yang hidup boros, misalnya ada orang yang barang-barang melekat di badannya (pakaian, sepatu, jam tangan) saja sudah Rp 2 milyar, bisa menghabiskan Rp 10 milyar untuk bermewah-mewahan sehingga tidak ada lagi uang tersisa untuk zakat dan sedekah. Bahkan bisa jadi pengeluarannya berlebih hingga terbelenggu hutang.

Mengenai pandangan hidup mewah untuk ”meningkatkan kualitas hidup”, adakah itu sesuai Al Qur’an dan Sunnah Nabi? Allah melarang kita menghambur-hamburkan harta secara boros. Sebaliknya memerintahkan kita untuk bersedekah:

”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” [Al Israa’:26-27]

Nabi Muhammad sendiri selaku Nabi dan pimpinan negara di mana kerajaan Romawi dan Persia sudah hampir jatuh di tangannya meski kaya menolak hidup mewah. Pada zaman Sahabat kedua kerajaan besar itu takluk di tangan Islam. Tidak seperti Raja Romawi dan Persia yang hidup mewah bergelimang harta, beliau hidup sederhana. Nabi tidur hanya beralaskan pelepah kurma sementara perabot rumahnya sedikit sekali sehingga membuat Umar ra menangis terharu:

Kisah Umar ra: Aku (Umar) lalu segera masuk menemui Rasulullah saw. yang sedang berbaring di atas sebuah tikar. Aku duduk di dekatnya lalu beliau menurunkan kain sarungnya dan tidak ada sesuatu lain yang menutupi beliau selain kain itu. Terlihatlah tikar telah meninggalkan bekas di tubuh beliau. Kemudian aku melayangkan pandangan ke sekitar kamar beliau. Tiba-tiba aku melihat segenggam gandum kira-kira seberat satu sha‘ dan daun penyamak kulit di salah satu sudut kamar serta sehelai kulit binatang yang belum sempurna disamak. Seketika kedua mataku meneteskan air mata tanpa dapat kutahan. Rasulullah bertanya: Apakah yang membuatmu menangis, wahai putra Khathab? Aku menjawab: Wahai Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis, tikar itu telah membekas di pinggangmu dan tempat ini aku tidak melihat yang lain dari apa yang telah aku lihat. Sementara kaisar (raja Romawi) dan kisra (raja Persia) bergelimang buah-buahan dan sungai-sungai sedangkan engkau adalah utusan Allah dan hamba pilihan-Nya hanya berada dalam sebuah kamar pengasingan seperti ini. Rasulullah saw. lalu bersabda: Wahai putra Khathab, apakah kamu tidak rela, jika akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka? [Muslim]

Keluarga Nabi tidak pernah 3 hari berturut-turut makan dengan kenyang. Selalu ada saat kelaparan setiap 3 hari.

‘Aisyah melaporkan: Tidak pernah keluarga Muhammad (SAW) makan sampai kenyang dengan roti gandum untuk tiga malam berturut-turut sejak kedatangan mereka di Medina hingga wafatnya” [Muslim]

Inilah sunnah Nabi kita. Kaya, tapi memilih menyumbangkan kekayaannya untuk kejayaan Islam. Bukan menumpuk-numpuk kekayaannya untuk bermegah-megahan seperti dalam surat At Takatsuur.

Para sahabat seperti Usman bin Affan menyumbang sepertiga hartanya untuk jihad di jalan Allah. Umar bin Khothob menyumbang separuh hartanya. Dan Abu Bakar menyumbang seluruh hartanya. Mereka menggunakan hartanya untuk memperkuat Islam sehingga persenjataan ummat Islam kuat dan lengkap dan bisa membiayai tentara yang tidak mampu secara finansial. Bukan untuk kepentingan pribadi secara berlebihan. Nah, semangat memberi, semangat berinfak inilah yang harus kita tiru.

Sempat para sahabat dalam 7 peperangan sampai makan belalang karena lapar. Pernah juga mereka makan seekor kambing yang dimakan beramai-ramai. Meski hidup prihatin, namun Nabi dan para sahabat dalam berjihad justru luar biasa hebatnya sehingga dua super power dunia waktu itu, Romawi dan Persia tidak dapat menaklukkan pasukan Islam. Justru merekalah yang tunduk. Harta yang ada digunakan bukan untuk kepentingan pribadi atau hidup mewah, tapi digunakan untuk melengkapi kendaraan, senjata, dan juga logistik untuk jihad.

Coba bayangkan pasukan mana yang akan menang? Jenderal yang memilih dana yang ada untuk membeli mobil mercy dan jaguar sementara panser amfibinya dibiarkan tua (buatan tahun 1962) dan bisa tenggelam dilaut dengan sendirinya atau jenderal yang memilih mobil yang sederhana dan membeli mobil tank yang canggih untuk anak buahnya?

Mana yang lebih baik? Jenderal yang memakai uang yang ada untuk beli pesawat pribadi yang mewah sementara anak buahnya naik pesawat tua Hercules yang umurnya hampir setengah abad sehingga belum kena peluru lawan sudah jatuh dengan sendirinya atau jenderal yang sederhana dan naik pesawat terbang dinas yang dipakai bersama-sama rekannya kemudian menggunakan sisa uangnya untuk pesawat tempur yang canggih?

Banyak orang-orang Arab yang kaya, tapi mereka tidak mampu mengalahkan Israel karena mereka lebih memilih menggunakan kekayaannya untuk hidup mewah. Bukan untuk membeli persenjataan yang bagus dan lengkap guna berjihad di jalan Allah. Orang-orang Arab yang jumlahnya 200 juta orang tak mampu mengalahkan orang Israel yang hanya 4 juta orang.

Satu penyebab mundurnya ummat Islam adalah Wahn: Cinta Dunia dan Takut Mati:

Tsaubah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian seperti menyerbu makanan di atas piring. Berkata seseorang: Apakah karena jumlah kami sedikit waktu itu? Beliau bersabda: Bahkan kalian pada waktu itu banyak sekali, akan tetapi kamu seperti buih di lautan. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn. Seseorang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah wahn itu? Beliau bersabda: Cinta dunia dan takut mati”. (Riwayat Abu Dawud no. 4297. Ahmad V/278. Abu Na’im dalam Al-Hilyah)

Di Indonesia banyak orang miskin dan senjatanya sedikit serta antik-antik. Apakah kita kekurangan uang? Tidak juga. Para pejabat kita umumnya tidak mempergunakan uang yang ada untuk mensejahterakan rakyatnya. Tapi untuk memperkaya pribadi. Tak heran jika hartanya puluhan milyar rupiah dan sering tidak sesuai dengan gaji yang mereka terima. Banyak yang menghabiskan Rp 2-3 milyar rupiah untuk satu pernikahan anaknya. Jumlah ini sebenarnya cukup untuk memberi rumah tempat berteduh 80 orang.

Tentu saja ini bukan berarti ummat Islam harus malas mencari rezeki dan hidup miskin. Sebagaimana Sunnah Nabi dan contoh para sahabat, Nabi bisa kaya dan hidup mewah jika mau. Tapi beliau lebih memilih untuk bersedekah dan membelanjakan hartanya di jalan Allah:

Istri Nabi, ’Aisyah berkata bahwa pernah Nabi pagi-pagi mendapat hadiah yang banyak. Namun sebelum petang tiba harta tersebut sudah habis dibagikan untuk fakir miskin. Itulah akhlak Nabi sesuai ayat Al Qur’an di bawah:

Allah SWT berkata, ”Engkau tak akan mendapatkan kebaikan apa pun hingga kalian menyedekahkan sebagian harta yang paling kalian cintai.Ketahuilah, apa pun yang kalian infakkan, Allah pasti mengetahuinya.” (Ali ‘Imran: 92).

”Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” [Al Baqarah:195]

Nabi memiliki rumah untuk berteduh, kendaraan untuk dakwah dan jihad, baju zirah dan pedang untuk berperang. Idealnya para Muslim memiliki hal itu. Nabi memilih yang terbaik manfaatnya, tapi bukan yang termewah/mahal. Sebagai contoh Nabi memilih cincin perak untuk stempel ketimbang cincin emas. Nabi juga memilih baju zirah dan pedang dari baja yang kuat ketimbang emas 24 karat yang lunak.

Bukankah ketika kita mencari rezeki, akan terlihat perbedaannya antara orang yang niatnya hanya untuk kaya sehingga bisa punya rumah dan mobil mewah serta makan enak dengan orang yang ingin membelanjakan hartanya di jalan Allah lillahi ta’ala?

Jadi luruskan niat kita lillahi ta’ala. Masih banyak orang miskin di sekitar kita, bahkan banyak yang bunuh diri karena kemiskinan. Bantu mereka. Jangan habiskan harta kita karena gaya hidup kita yang boros.

Dari Umar bin Khottob ra dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh SAW bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal tergantung kepada niat, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah untuk mendapatkan dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Bukhari-Muslim)

Jadi niatkan semua untuk Lillahi ta’ala. Bukan yang lainnya seperti dunia atau harta.

Saat ini bermunculan motivator Islam. Ini bagus. Tapi jangan sampai kita mengikuti motivator Barat sehingga akhirnya tenggelam pada materialisme/duniawi. Meski Islam MELARANG kita melupakan dunia, namun Islam mengajarkan kita mengutamakan akhirat:

”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi” [Al Qashash:77]

”Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia, maka Kami segerakan baginya di dunia dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir” [Al Israa’:18]

Allah mengingatkan kita bahwa akhirat lebih baik dan kekal dari dunia karena manusia memang cenderung pada dunia hingga banyak yang lupa akan akhirat:

”Sungguh hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada dunia” [Adh Dhuhaa:4]
”Akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” [Al A’laa:17]

Di Indonesia banyak orang miskin. Menurut media VHR, 50.000 rakyat Indonesiabunuh diri karena kemiskinan dalam 3 tahun terakhir. Bahkan di media Surya Online diberitakan ada anak SD usia 11 tahun yang bunuh diri karena tidak kuat menahan lapar dan sakit maag yang diderita karena dia hanya sanggup makan sekali sehari. Tidak sepantasnya ummat Islam hidup bermewah-mewah sementara mayoritas rakyat hidup miskin karena ini tanda dari kurangnya iman:

”Tidak beriman kepadaku orang yang tidur dengan kenyang sementara tetangganya lapar padahal dia mengetahui hal itu.” (HR. Al Bazzaar)
Sumber : http://media-islam.or.id

Setan pun Hafal Al-Quran

MUKADDIMAH

Sejak beredar buku Kiyai Meruqyah Jin Berakting, penulis buku sering menerima pertanyaan dari masyarakat. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang meminta penulis buku tersebut untuk meruqyah baik untuk dirinya maupun yang lainnya karena mereka meyakini bahwa ruqyah adalah doa dan doa adalah bagian dari ajaran Islam.
Kenyataan ini patut kita syukuri karena mereka meyakini bahwa Islam ajaran yang lengkap dan menyeluruh. Oleh karena itu, siapa pun dari kita jika diminta saudara seiman untuk mendoakan baik untuk kepentingan duniawi maupun ukhrowi maka sepatutnyalah memenuhi permohonan tersebut. Sungguh berdoa bukan perbuatan yang sulit dan tidak pula memerlukan waktu khusus dan kita meyakini bahwa sesungguhnya Allah senantiasa menanti siapa pun yang memohon kepada-Nya di mana pun mereka berada.
Yang patut diperhatikan adalah: apakah praktik meruqyah yang berlangsung di beberapa tempat dan yang sering kita saksikan di layar televisi itu semuanya sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw. atau ada yang menyimpang? Kendatipun yang dibaca para peruqyah itu adalah ayat-ayat Al Quran dan doa-doa dari Rasulullah saw. namun cara yang mereka lakukan masih dipertanyakan, apakah semuanya sesuai dengan cara yang berlangsung pada zaman Rasulullah saw. dan sahabatnya?.
Buku ini mencoba untuk membahas beberapa pertanyaan yang paling sering muncul dan dirasa perlu untuk diprioritaskan pembahasannya.
Semoga buku soal-jawab ini bermanfaat bagi masyarakat dan dapat mengurangi problem mereka yang sering memberi peluang kepada setan untuk mengganggu keharmonisan hidup dan ketenangan beribadah mereka baik yang mengerti agama maupun yang tidak.

1. SETAN JUGA PANDAI MERUQYAH

Masalah:
Ada dua kasus yang perlu dibahas:
* Seorang gadis telah hafal Al Quran atau disebut hafizhah, sejak dikatakan bahwa di dalam dirinya terdapat jin, maka dia sekarang sering melamun. Sungguh kasihan, hafalannya pun sudah mulai banyak yang hilang.
* Ada seorang ibu yang dinyatakan perlu segera diruqyah karena dalam dirinya terdapat jin. Berita ini telah membuat suaminya terkejut, karena merasa kecewa punya isteri yang “mengandung” jin. Secara psikologis hubungan keluarga pun mulai terganggu. Akibat pengaruh berita yang senantiasa mewarnai pandangan suami terhadap isterinya, maka setiap kali suami menemukan perilaku isteri yang tidak sesuai dengan harapannya selalu dia hubungkan dengan jin. Pertnyaannya: Siapakah nama setan yang telah berhasil mengganggu alhafizhah dan menodai keharmonisan keluarga ini?
Pembahasan:
Memang, ketika disebut kata “setan” maka yang sering tersirat dibenak kita adalah sesuatu yang abstrak. Bahkan, sebagian orang mengatakan bahwa setan itu tidak ada selain sifat-sifat buruk yang ada pada manusia. Betulkah demikian? Marilah kita perhatikan firman Allah:
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS. 6:112)
Pelajaran dari ayat:
- Pada ayat ini sebutan manusia mendahului sebutan jin, pada ayat–ayat lain jin disebut sebelum manusia . Sungguh hal ini sangat menarik untuk kita tadabburi atau kita hayati, ada isyarat apakah di balik sebutan manusia mendahului sebutan jin. Memang setan dari manusia lebih susah untuk diketahui dan dihindari, karena boleh jadi dia tampil lebih ‘alim, tuturkatanya sangat menakjubkan, bahkan sering tampil sebagai penasihat.
Maka sangat mungkin bagi orang yang kurang wawasan keislaman mudah terjebak dan tergoda hingga terjerumus ke dalam jurang kehancuran. Karena itu sebutan setan manusia disebut lebih dulu memberi isyarat betapa pentingnya bagi kita untuk lebih waspada, namun pada kenyataannya, malah sebaliknya. Hal itu boleh jadi akibat kurang mengerti siapa sebenarnya setan dari golongan manusia itu.
Menghindar dari setan manusia tidak cukup hanya dengan berlindung menyatakan mohon perlindungan kepada Allah, tetapi juga sangat penting untuk mengenal dan mamahami langkah-langkah setan tersebut, yaitu dengan menambah wawasan keisliman dan memperdalam ilmu tentang Al Quran dan Sunnah serta kejian terhadap sirah nabawiyah. Lalu, kita kaji banding antara prilakunya dengan akhlak Rasulullah saw. dan para sahabat.
- Setan dari golongan manusia adalah musuh para nabi. Jika tingkat para nabi saja telah dimusuhi setan-setan manusia, apalagi tingkatan umatnya yang sering mengalami penurunan keimanan, kurang wawasan keislaman dan tidak mendapat jaminan keselamatan aqidah karena tidak mendapat bimbingan langsung melalui wahyu Ilahi.
- Kata “sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain”. Praktik membisik tidak berarti dengan suara yang didekatkan kepada telinga hingga tidak terdengar selain oleh yang dibisikinya, tetapi juga memberi makna lain seperti setan-setan manusia juga punya tim atau kelompok yang memiliki profesi yang sama dan antara satu dengan yang lainnya saling tukar pengalaman bahkan menjadi satu organisasi yang solid untuk melaksanakan kegiatannya, hingga sulit diterka bila kegiatan tersebut membawa kepada perusakan.
- Bagaimana tidak, sungguh kata-kata mereka sangat menarik dan manakjubkan. Perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Keluar dari lisan mereka nasihat-nasihat yang indah bahkan diperkuat dengan ayat-ayat Allah dan hadis Rasulullah saw. yang merupakan pegangan kaum muslimin di seluruh dunia. Mereka pun fasih membacakan ayatnya dan banyak hafalannya sehingga julukan ustadz atau kiyai tidak diragukan untuk ditujukan kepada mereka .
- Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Kita tidak hanya diperintah meninggalkan perkataan mereka, tetapi kita juga diperintah untuk meninggalkan mereka. Hal itu menunjukkan bahwa perkataan mereka sangat membahayakan. Sebenarnya, semua perkataan menyesatkan yang terlihat kotor pasti akan dijauhi orang yang sehat. Namun, jika perkataan itu dikemas dengan kata suci maka orang sehat pun dapat menerimanya.
- Dan apa yang mereka ada-adakan. Tentu jika yang mereka ada-adakan itu murni tanpa dikemas dengan tampilan yang menakjubkan atau tidak didukung dengan dalil yang meyakinkan maka orang lain pun akan menjauhinya meski tidak ada perintah Al Quran untuk menjauhinya. Turunnya perintah tersebut memberi isyarat adanya masyarakat yang kurang menyadari akan berbahayanya praktik penipuan yang dilakukan setan-setan manusia dan jin.
Berkaitan dengan sinyalemen di atas, Rasulullah saw. pun mengingatkan kepada seorang sahabat agar senantiasa waspada terhadap gangguan dan bahaya setan manusia dan jin. Sejajar dengan kandungan ayat di atas, Rasul pun menempatkan bahaya gangguan setan dari golongan manusia mendahului bahaya gangguan setan dari golognan jin. Rasulullah saw. bersabda:
Dari Abu Dzar berkata: aku mendatangi Rasulullah saw pada saat beliau berada di masjid. Aku duku (di dekatnya). Maka beliau bersabda: hai Abu Dzar, apakah kamu sudah melakukan shalat. Aku berkata: belum, beluau bersabda: berdirilah lalu shalatlah! Maka aku pun berdiri dan melakukua shalat. Kemudian aku duduk, maka beliau bersabda: hai Abu Dzar berlindunglah kepada Allah dari kejahatan setan manusia dan jin. Aku berkata: wahai Rasulullah apakah dari golongan manusia ada setan? Beliau bersabda: ya. …… (HR. Ahmad)
Pelajaran dari hadis:
- Abu Dzar seorang sahabat yang terbina pada madrasah Rasulullah saw. Namun demikian, dia pun masih diingatkan akan bahaya setan manusia dan jin.
- Di samping kedudukan Abu Dzar sebagai sahabat, juga dia baru menyelesaikan ibadah shalat. Artinya dia mendapat pelajaran yang sangat penting dari Rasul saw. dalam kondisi suci, karena dia baru menyelesaikan ibadah shalat di masjid yang jauh dari perbuatan kotor dan keji.
- Pelajaran tersebut ternyata perintah untuk berlindung kepada Allah dari kejahatan setan. Hal ini memberi isyarat bahwa orang yang suka beribadah setingkat sahabat pun tidak luput dari sasaran setan.
- Yang menggoda orang yang baru selesai shalat adalah setan dari golongan manusia dan jin. Keduanya harus diwaspadai, namun kewaspadaan terhadap godaan manusia harus diprioritaskan, karena tipu daya setan jenis manusia lebih susah untuk diketahui akibat penampilannya yang tidak asing dan menggunakan argumentasi yang meyakinkan.
- Karena susahnya untuk diketahui, maka Abu Dzar pun mempertanyakan, apakah dari golongan manusia ada setan. Dengan dua teks di atas kita menemukan gambaran siapakah setan yang telah berhasil menggoda seorang hafizhah itu. Untuk lebih jelas lagi perlu kita kaji kasus lain yang terjadi akibat yang sama, yaitu:
Seorang wanita bertemu dengan seorang praktisi ruqyah yang mengatakan bahwa dalam diri wanita tersebut terdapat jin yang harus segera dikeluarkan dengan diruqyah. Dengan berita tersebut maka suaminya terkejut yang akhirnya dia sering menghubungkan berbagai prilaku isteri dengan jin, terutama jika dari prilaku wanita tersebut ada yang tidak disenanginya. Sementara wanita tersebut tidak merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Dari hari ke hari maka keharmonisan keluarga pun mulai terusik dan permasalahan terus membesar. Ketika itulah setan dari golongan jin terus membisik ke dalam dada kedua pihak. Begitulah, salah satu program setan adalah mengganggu keharmonisan hubungan antara suami dengan isterinya. Allah berfirman:
Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. (QS. 2:102).
Bagian ayat di atas memberi penjelasan adanya sihir sejak zaman Nabi Sulaiman dan sihir tersebut menggunakan istilah yang dinisbatkan kepada Nabi Sulaiman walaupun jelas berlawanan dengan ajaran yang dibawanya. Maka tidaklah aneh jika sekarang ditemukan pembawa ajaran jahiliyah yang memisahkan seseorang dengan isterinya atau menjauhkan seorang hafizah dengan Al Quran, namun ajaran tersebut menggunakan ayat Al Quran dan sunnah Nabi saw. Itulah kecerdasan setan dari golongan manusia yang mesti diwaspadai sebagaimana Rasul saw. sabdakan kepada Abu Dzar.
Setan dari golongan manusia ternyata lebih berbahaya daripada setan dari golongan jin. Setan dari golongan jin selalu membisik ke dalam dada manusia dengan menggunakan cara yang gaib. Sedangkan setan dari golongan manusia dapat menggoda manusia dengan berkomunikasi langsung menyampaikan kalimat yang menarik dengan tampilan mempesona, mungkin menamakan diri sebagai orang pintar, dukun, para normal bahkan menamakan diri sebagai seorang tokoh agama yang menyampaikan doa-doa yang diambil dari Al Quran dan hadis Nabi.
Oleh karena, itu sangat penting bagi kita untuk lebih waspada menghadapi bahayanya dan yang lebih berbahaya lagi jika, tanpa disadari, kita sendiri terlibat di dalamnya atau termasuk golongannya.
Ya Allah kami berlindung padaMu dari tergelincir, tersesat, berbuat aniaya, dizalimi, bodoh dan dibodohi.
Kesimpulan:
* Seorang yang telah hafal Al Quran tidak berarti otomatis paham Al Quran. Demikian pula orang yang banyak hafal hadis belum tentu dia memahami dan mengamalkan hadis yang dihafalnya. Orang yang sudah hafal dan mengerti pun tetap harus waspada terhadap rayuan dan bujukan setan.
* Setan tidak selalu tersembunyi dan susah dilihat tetapi mungkin saja dia dapat dilihat dengan jelas namun kita tidak mengenalnya karena tampilannya sangat menarik, tutur katanya sangat menakjubkan bahkan menggunakan argumentasi yang meyakinkan. Dialah setan dari golongan manusia.
* Kita akan dapat mengenalnya dengan jelas setelah memperhatikan orang yang mengikutinya, yaitu membuat orang tersebut sibuk dengan hal yang tidak berarti; mengurangi amal shaleh yang biasa dilakukan sebelumnya; terganggu hubungan rumah tangganya; dan lain-lain.
* Adalah termasuk setan peruqyah yang menuduh ada jin pada seorang hafizhah dan seorang ibu rumah tangga, karena dengan tuduhan tersebut dia telah berhasil membuat seorang hafizhah dan seorang ibu menjauh dari kebiasaan baik yang biasa mereka lakukan sebelumnya.
Info Buku:
Judul: Kiai Meruqyah Jin Berakting
Pengararang: SYAIFUL ISLAM MUBARAK
Penerbit: Syaamil Cipta Media
Tahun: 2005