Selamat Datang di www.elfaizz.blogspot.com semoga apa yang kami suguhkan bermanfaat, Kami mohon ma'af apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan, Kritik dan saran sangat kami harapkan

Sabtu, 29 Juni 2013

Persiapan Menyambut Ramadhan

Sunnah Rasulullah SAW menyambut bulan Ramadhan adalah banyak macamnya. Dan sudah seharusnya kita sebagai umat beliau untuk senantiasa menjalankan sunnah-sunnah Nabi Rasululah dalam menyambut dan mengisi bulan Ramadhan bulan penuh keberkahan dan kemuliaan ini bagi seluruh Umat Islam di dunia ini. Untuk itulah kita harus melakukan bebrapa persiapan menyambut puasa Ramadhan 1434 H ini yang akan segera menghampiri kita semuanya.

Bulan Ramadhan bulan yang dinanti-nantikan oleh umat Islam seluruh dunia yaitu bulan Ramadhan yang penuh berkah. Kita akan menyambut kedatangan bulan mulia tersebut dengan gembira karena didalamnya terdapat kelebihan dan keutamaan yang tidak ada pada bulan-bulan yang lainnya. Marhaban Yaa Ramadhan.

Sebagai teladan umat, Rasulullah mencontohkan bagaimana menyikapi Ramadhan 1434 H yang kian dekat. Persiapan Rasul tersebut bukan hanya bersifat jasmani, melainkan perpaduan antara persiapan fisik jasmani dan juga persiapan rohani menghadapi kedatangan Ramadhan. Hal ini mengingat puasa sebagaimana ibadah yang lain adalah paduan ibadah jasmani dan rohani, di samping ibadah yang paling berat di antara ibadah wajib (fardu) lainnya.



Ada beberapa hal yang perlu persiapan menjelang datangnya puasa ramadhan 1434 H atau tahun 2013 ini yang tinggal menghitung hari saja. Karena memang sebagai umat yang tidak terlepas dari dosa dan khilaf, pastilah kita sangat berharap untuk dapat menjumpai bulan Ramadhan dan mereguk berbagai manfaat di dalamnya.

Bersyukurlah atas nikmat ini. Betapa Allah ta’ala senantiasa melihat kemaksiatan kita dalam sepanjang tahun, tetapi Dia menutupi aib kita, memaafkan dan menunda kematian kita sampai bisa berjumpa kembali dengan Ramadhan tahun 2013 ini.


1. Berdoa kepada Allah
Berdoalah agar Allah Subhanahu wata’ala agar memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan bulan Ramadan dalam keadaan sehat wal afiat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal di bulan itu, baik puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, ”Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadan.” Artinya, ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban; dan sampaikan kami ke bulan Ramadan. (HR. Ahmad dan Tabrani)
2. Bersyukur
Bersyukurlah dan puji Allah atas karunia Ramadan yang kembali diberikan kepada kita. Al-Imam Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata, ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya.” Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Maka, ketika Ramadan telah tiba dan kita dalam kondisi sehat wal afiat, kita harus bersyukur dengan memuji Allah sebagai bentuk syukur.
3. Bergembiralah dengan kedatangan bulan Ramadan
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam.. selalu memberikan kabar gembira kepada para shahabat setiap kali datang bulan Ramadan, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).
4. Merancang agenda
Rancanglah agenda kegiatan untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadan. Ramadhan sangat singkat. Karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah.
5. Bertekadlah mengisi waktu-waktu Ramadan dengan ketaatan
Barangsiapa jujur kepada Allah, maka Allah akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahnya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. “Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” [Q.S. Muhamad (47): 21]
6. Pelajarilah hukum-hukum semua amalan ibadah di bulan Ramadan
Wajib bagi setiap mukmin beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadan datang agar puasa kita benar dan diterima oleh Allah. “Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui,” begitu kata Allah di Al-Qur’an surah Al-Anbiyaa’ ayat 7.
7. Sambut Ramadan dengan tekad meninggalkan dosa dan kebiasaan buruk
Bertaubatlah secara benar dari segala dosa dan kesalahan. Ramadan adalah bulan taubat. “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” [Q.S. An-Nur (24): 31]
8. Siapkan Rukhiyah
Siapkan jiwa dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tadzkiyatun-nafs. Hadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan, hukum, dan hikmah puasa. Sehingga secara mental kita siap untuk melaksanakan ketaatan pada bulan Ramadan.
9. Siapkan diri untuk berdakwah di bulan Ramadhan dengan:
Buat catatan kecil untuk kultum tarawih serta ba’da sholat subuh dan zhuhur.
Membagikan buku saku atau selebaran yang berisi nasihat dan keutamaan puasa.
10. Lembaran baru
Sambutlah Ramadan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Kepada Allah, dengan taubatan nashuha. Kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam.., dengan melanjutkan risalah dakwahnya dan menjalankan sunnah-sunnahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan karib kerabat, dengan mempererat hubungan silaturrahmi. Kepada masyarakat, dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Ukhuwwah Fillah Abadan Abada

Kamis, 28 Februari 2013

DOA-DOA & HADIST TENTANG UMROH

1. Doa Orang Yang Akan Bepergian umroh Untuk Keluarga Yang Ditinggal
   ASTAUDI’ULLOOHA DIINAKA, WA AMAANA TAKA, WA KHOWAATIIMA ’AMALIKA
   artinya: Aku menitipkan agamamu, amanatmu dan akhir
                  dari semua perbuatanmu hanya kepada Allah”.
2. Doa Orang Yang Akan Ditinggal Bepergian
   ZAWWADAKALLOOHUT TAQWAA, WA GHOFARO DZANBAKA,
   WA YASSARO LAKAL KHOIRO HAITSU MAA KUNTA
   artinya: Semoga Allah memberikan bekal taqwa kepadamu, mengampuni
                 dosamu   dan memudahkan kebaikan kepadamu di mana saja
                 kamu berada.
3. Doa Ketika Keluar Dari Rumah
   BISMILLAAHI TAWAKKALTU ’ALALLOOHI WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAHI
   artinya: Dengan nama Allah (aku keluar) aku bertawakal kepada Allah dan
                tiada daya dan upaya kecuali atas (izin dan pertolongan) Allah.
4. Doa Ketika Duduk Di Atas Kendaraan
   ALLOOHU AKBAR (3x).
  -SUBHAANALLADZII SAKHORO LANAA HAADZAA
   WAMAA KUNNAA LAHUU MUQRINIIN,
   WA INNAA ILAA ROBBINAA LAMUNQOLIBUUN.
   ALLOOHUMMA INNAA NAS ALUKA FII SAFARINAA
   HAADZAA ALBIRRO WAT TAQWAA,
   WAMINAL ’AMALI MAA TARDLOO.
  -ALLOHUMMA HAWWIN ‘ALAINAA SAFARONAA HAADZAA,
   WATHWI ’ANNAA BU’DAHU.
   ALLOHUMMA ANTASH SHOOHIBU FISSAFARI
   WAL KHOLIIFATU FIL AHLI.
  -ALLOOHUMMA INNII A’UUDZUBIKA MIN WA’TSAA ISSAFARI
   WA KA AABATIL MANDHORI
   WA SUU’IL MUNQOLABI FIL MAALI WAL AHLI
   “Allah Maha Besar (3x).
   Maha suci Allah (Dzat) yang menundukkan
   (kendaraan dan perjalanan) ini kepada kami,
   sedang sebelumnya kami tidak mampu
   dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.
   Ya Allah sesungguhnya kami mohon kebaikan dan taqwa dalam perjalanan ini,
   dan bimbinglah kami melakukan perbuatan yang Engkau ridloi.
   Ya Allah permudahlah perjalanan kami ini, dan jadikan
   perjalanan yang jauh seolah-olah dekat.
   Ya Allah Engkaulah teman dalam bepergian dan yang mengurusi keluargaku.
   Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu
   dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan
   dan perubahan yang jelek dalam harta dan keluarga”.
5. Apabila Telah Sampai Di Miqot, Membaca Niat Umrah
   Niat Umrah :
   LABBAIKA ALLOOHUMMA ‘UMROTAN
   artinya: Kusambut panggilanMu Ya Allah untuk berumrah.
6. Membaca Talbiyah Berulang-Ulang Sampai Thawaf
   LABBAIKA ALLOHUMMA LABBAIK. LABBAIKA LAA SYARIIKA LAKA LABBAIK
   INNAL HAMDA WANNI’MATA LAKA WALMULK LAA SYARIIKA LAK
   artinya:Kusambut panggilanMu Ya Allah, tiada sekutu bagiMu,kusambut   
                 panggilan-Mu, sesungguhnya segala  puji,segala ni’mat dan kekuasaan
                  hanyalah bagiMu, tiada sekutu bagiMu.
7. Doa Ketika Melihat Masjidil Haram
   ALLOOHUMMA ANTASSALAAM, WA MINKAS SALAAM, FAHAYYINAA ROBBANAA
   BISSALAAM WA ADKHILNAL JANNATA DAAROSSALAAM
   artinya: Ya Allah, Engkaulah Maha Penyelamat, dari engkaulah segala
                 keselamatan,hidupkanlah kami ya Robb dengan penuh keselamatan
                dan masukanlah kami ke dalam surga (sebagai negeri) keselamatan.
8.  Doa Ketika Masuk Masjid
   ALLOOHUMMAFTAH LII ABWAABA ROHMATIK
   artinya: Ya Allah bukakanlah pintu-pintu rahmatMu untukku”.
9. Doa Ketika Melihat Ka’bah
   ALLOOHUMMA ZID HAADZAL BAITA TASYRIIFAN WA TA’ZHIIMAN WA
   TAKRIIMAN WA MAHAABATAN WA ZID MAN SYARROFAHU WA ZID
   MAN SYARROFAHU  WA KARROMAHU MIMMAN HAJJAHU  AWI’ TAMAROHU
   TASYRIIFAN WA TA’ZHIIMAN   WATAKRIIMAN WABIRRON
   artinya: Ya Allah tambahkanlah ke Baitullah ini kemuliaan,
                 keagungan,keunggulan, dan kehebatan,  tambahkan
                 pula kepada orang yang memuliakannya dari kalangan
                 yang berhaji atau umrah, kehormatan, keagungan, kemulian,
                dan kebaikan baginya.
10. Doa Ketika Keluar Masjid
   ALLOOHUMMA INNII AS ALUKA MIN FADHLIK.
   artinya: Ya Allah sesungguhnya aku mohon karunia dariMu.
11. Thawaf Mengelilingi Ka’bah
A.Thawaf dimulai dari lampu hijau yang lurus dengan Hajar Aswad. Ketika
    melewati lampu tersebut, sambil menghadap Hajar Aswad dan berisyarat
     dengan tangan kanan serta membaca:
     BISMILLAAHI ALLOOHU AKBAR
     artinya: Dengan menyebut nama Allah,Allah Yang Maha Besar.
Setelah itu menghadap ke kanan sehingga Ka’bah berada di sebelah kiri kita, dan mulailah thawaf mengelilingi Ka’bah.
Ketika mengelilingi kabah, tidak ada doa yang wajib dibaca. Namun, Anda dapat membaca:
   SUBHAANALLOOH, WALHAMDULILLAAH,
   WA LAA ILAAHA ILLALLOOH, WALLOOHU AKBAR
   artinya: Maha Suci Allah, Segala Puji Bagi Allah,
                  Tiada Tuhan selain Allah, Alloh Maha Besar”.
B. Di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, membaca do’a:
   ROBBANAA AATINA FIDDUNYAA HASANAH WA FIL AAKHIROTI HASANAH
   WA QINAA ADZAA BANNAAR
   artinya: Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di
                 akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksaan api neraka.            
C. ketika  berada di antara hajar aswad dan lampu hijau, palingkan wajah ke Hajar             
     Aswad   & berisyarat dengan tangan sambil membaca:
   BISMILLAAHI ALLOHU AKBAR
   artinya: Dengan menyebut nama Allah, Allah Yang Maha Besar.
                 Ulangi sebanyak 7 kali.
12. Setelah Thawaf Langsung Menuju Maqam Ibrahim Sambil Membaca
    WATTAKHIDZUU MIN MAQOOMI IBROOHIIMA MUSHOLLA
    artinya: Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat sholat.
13. Sholat 2 Raka’at Di Depan Makam Ibrohim.
      Setelah membaca Surat Al Fatihah membaca:
  a. Rakaat Pertama : QS. Al Kafirun.
  b. Rakaat Kedua : QS. Al Ikhlas.
14. Berdoa Di Tempat Sekitar Makam Ibrohim.
15. Meminum Air Zamzam.
     ALLOOHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI’AN WA RIZQON WAASI’AN
     WA SYIFAA-AN MIN KULLI DAA-IN
     artinya: Ya Alloh, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat,
                    rizki yang luas dan obat dari segala penyakit.
16. Doa Ketika Sa’i
A. Naik ke bukit shafa melalui “Baabus Shafa” sambil membaca:
   INNASH SHOFAA WAL MARWATA MIN SYA’AAIRILLAH,
   ABDA-U BIMAA BADA-ALLOOHU BIHI
   artinya: Sesungguhnya Shafa dan Marwah itu merupakan bagian dari syiar Allah.
                Aku memulai Sa’i dengan apa yang didahulukan oleh Allah.
B. Tiba di Shafa mengangkat kedua tangan dan menghadap ka’bah, sambil membaca do’a:
   ALLOHU AKBAR (3x) LAA ILAAHA ILLALLOHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAH,
   LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ’ALAA KULLI SYAI’IN QODIIR.
   LAA ILAAHA ILLALLOHU WAHDAH, ANJAZA WA’DAH, WANASHORO ’ABDAH,
   WAHAZAMAL AHZAABA WAHDAH
   “Allah maha Besar (3x).
   artinya: Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, Tiada sekutu bagiNya,
                  milikNya segala kekuasaan, Segala puji bagiNya,
                  Dialah Yang Maha Kuasa atas segalanya,
                Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, Dia memenuhi janjiNya,
                Dia yang menolong hambaNya,Dia sendiri yang mengalahkan musuhNya.
C. Dari Shafa menuju Marwah dan melakukan seperti apa yang dilakukan di bukit  Shafa (doanya sama)
17. Tidak Ada Doa-Doa Khusus Ketika Mabit Di Mina, Wuquf Di Arafah, Mabit Di
       Muzdalifah.
18. Doa Ketika Melompar Jumrah
A. Jumratul Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah melempar 7 kali lemparan. Setiap
     kali melempar membaca:
   ALLOOHU AKBAR, ALLOOHUMMAJ’ALHU HAJJAN MABRUUROO
   WA DZANBAN MAGHFUURO
   artinya: Allah Yang Maha Besar, Ya Allah jadikanlah Haji ini mabrur,dan   
                 ampunilah dosa.
B. Jumratul Ula, Wustha dan Aqabah pada hari-hari tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah)
C. Lemparlah ketiga Jumrah tersebut selama menetap di Mina setelah matahari
     tergelincir, mulai dari Jumratul Ula, Wustha, dan terakhir Jumratul Aqabah,
     setiap Jumrah dengan 7 kali     lemparan batu kecil sambil bertakbir pada
     setiap lemparan.

Hadits No. 726

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Umrah ke umrah menghapus dosa antara keduanya, dan tidak ada pahala bagi haji mabruru kecuali surga." Muttafaq Alaihi.

َعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( اَلْعُمْرَةُ إِلَى اَلْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا, وَالْحَجُّ اَلْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا اَلْجَنَّةَ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ



Hadits No. 727

Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa dia bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kaum wanita itu diwajibkan jihad? Beliau menjawab: Ya, mereka diwajibkan jihad tanpa perang di dalamnya, yaitu haji dan umrah." Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah dengan lafadz menurut riwayatnya. Sanadnya shahih dan asalnya dari shahih Bukhari-Muslim.

َوَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( قُلْتُ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! عَلَى اَلنِّسَاءِ جِهَادٌ ? قَالَ: نَعَمْ, عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لَا قِتَالَ فِيهِ: اَلْحَجُّ, وَالْعُمْرَةُ )  رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَابْنُ مَاجَهْ وَاللَّفْظُ لَهُ, وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ. وَأَصْلُهُ فِي اَلصَّحِيحِ




Hadits No. 728

Dari Jabir Ibnu Abdullah Radliyallaahu 'anhu bahwa ada seorang Arab Badui datang kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam lalu berkata: Wahai Rasulullah, beritahukanlah aku tentang umrah, apakah ia wajib? Beliau bersabda: "Tidak, namun jika engkau berumrah, itu lebih baik bagimu." Riwayat Ahmad dan Tirmidzi. Menurut pendapat yang kuat hadits ini mauquf. Ibnu Adiy mengeluarkan hadits dari jalan lain yang lemah, dari Jabir Radliyallaahu 'anhu berupa hadits marfu': Haji dan umrah adalah wajib.

َوَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( أَتَى اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَعْرَابِيٌّ. فَقَالَ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! أَخْبِرْنِي عَنْ اَلْعُمْرَةِ, أَوَاجِبَةٌ هِيَ? فَقَالَ: لَا وَأَنْ تَعْتَمِرَ خَيْرٌ لَكَ )  رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ, وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ. وَأَخْرَجَهُ اِبْنُ عَدِيٍّ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ ضَعِيفٍ عَنْ جَابِرٍ مَرْفُوعًا: ( اَلْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ فَرِيضَتَانِ )



Hadits No. 729

Anas Radliyallaahu 'anhu berkata: Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah sabil (jalan) itu? beliau bersabda: "Bekal dan kendaraan." Riwayat Daruquthni. Hadits shahih menurut Hakim. Hadits mursal menuru pendapat yang kuat.

َوَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: ( قِيلَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ, مَا اَلسَّبِيلُ? قَالَ: اَلزَّادُ وَالرَّاحِلَةُ )  رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ, وَالرَّاجِحُ إِرْسَالُهُ



Hadits No. 730

Hadits tersebut juga dikeluarkan oleh Tirmidzi dari hadits Ibnu Umar. Dalam sanadnya ada kelemahan.

َوَأَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ أَيْضًا, وَفِي إِسْنَادِهِ ضَعْفٌ



Hadits No. 731

Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah bertemu dengan suatu kafilah di Rauha', lalu beliau bertanya: "Siapa rombongan ini?" Mereka berkata: Siapa engkau? Beliau menjawab: "Rasulullah." Kemudian seorang perempuan mengangkat seorang anak kecil seraya bertanya: Apakah yang ini boleh berhaji? Beliau bersabda: Ya boleh, dan untukmu pahala." Riwayat Muslim.

َوَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم لَقِيَ رَكْبًا بِالرَّوْحَاءِ فَقَالَ: مَنِ اَلْقَوْمُ? قَالُوا: اَلْمُسْلِمُونَ. فَقَالُوا: مَنْ أَنْتَ? قَالَ: رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَرَفَعَتْ إِلَيْهِ اِمْرَأَةٌ صَبِيًّا. فَقَالَتْ: أَلِهَذَا حَجٌّ? قَالَ: " نَعَمْ: وَلَكِ أَجْرٌ )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ 



Hadits No. 732

Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu berkata: Adalah al-Fadl Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu duduk di belakang Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, lalu seorang perempuan dari Kats'am datang. Kemudian mereka saling pandang. Lalu Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memalingkan muka al-Fadl ini ke arah lain. Perempuan itu kemudian berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya haji yang diwajibkan Allah atas hamba-Nya itu turun ketika ayahku sudah tua bangka, tidak mampu duduk di atas kendaraan. Bolehkah aku berhaji untuknya? Beliau menjawab: "Ya Boleh." Ini terjadi pada waktu haji wada'. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.

َوَعَنْهُ قَالَ: ( كَانَ اَلْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَجَاءَتِ اِمْرَأَةٌ مَنْ خَثْعَمَ، فَجَعَلَ اَلْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ، وَجَعَلَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَصْرِفُ وَجْهَ اَلْفَضْلِ إِلَى اَلشِّقِّ اَلْآخَرِ. فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ, إِنَّ فَرِيضَةَ اَللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي اَلْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا, لَا يَثْبُتُ عَلَى اَلرَّاحِلَةِ, أَفَأَحُجُّ عَنْهُ? قَالَ: نَعَمْ وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ اَلْوَدَاعِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَفْظُ لِلْبُخَارِيِّ



Hadits No. 733

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa ada seorang perempuan dari Juhainah datang kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, lalu berkata: Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk menunaikan haji, dia belum berhaji lalu meninggal, apakah aku harus berhaji untuknya? Beliau bersabda: "Ya, berhajilah untuknya. Bagaimana pendapatmu seandainya ibumu menanggung hutang, tidakkah engkau yang membayarnya? Bayarlah pada Allah, karena Allah lebih berhak untuk ditepati." Riwayat Bukhari.

َوَعَنْهُ: ( أَنَّ اِمْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ جَاءَتْ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ: إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ, فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ, أَفَأَحُجُّ عَنْهَا? قَالَ: نَعَمْ , حُجِّي عَنْهَا, أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ, أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ? اِقْضُوا اَللَّهَ, فَاَللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ )  رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ



Hadits No. 734

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Setiap anak yang haji kemudian setelah baligh, ia wajib haji lagi; dan setiap budak yang haji kemudian ia dimerdekakan, ia wajib haji lagi." Riwayat Ibnu Abu Syaibah dan Baihaqi. Para perawinya dapat dipercaya, namun kemarfu'an hadits ini diperselisihkan. Menurut pendapat yang terjaga hadits ini mauquf.

َوَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَيُّمَا صَبِيٍّ حَجَّ, ثُمَّ بَلَغَ اَلْحِنْثَ, فَعَلَيْهِ ]أَنْ يَحُجَّ[  حَجَّةً أُخْرَى, وَأَيُّمَا عَبْدٍ حَجَّ, ثُمَّ أُعْتِقَ, فَعَلَيْهِ ] أَنْ يَحُجَّ [ حَجَّةً أُخْرَى )  رَوَاهُ اِبْنُ أَبِي شَيْبَةَ, وَالْبَيْهَقِيُّ وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ, إِلَّا أَنَّهُ اِخْتُلِفَ فِي رَفْعِهِ, وَالْمَحْفُوظُ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ



Hadits No. 735

Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ketika khutbah bersabda: "Janganlah sekali-kali seorang laki-laki menyepi dengan seorang perempuan kecuali dengan mahramnya, dan janganlah seorang perempuan bepergian kecuali bersama mahramnya." Berdirilah seorang laki-laki dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku pergi haji sedang aku diwajibkan ikut perang ini dan itu. Maka beliau bersabda: "Berangkatlah dan berhajilah bersama istrimu." Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim.

َوَعَنْهُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ يَقُولُ: ( " لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِاِمْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ, وَلَا تُسَافِرُ اَلْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ " فَقَامَ رَجُلٌ, فَقَالَ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ, إِنَّ اِمْرَأَتِي خَرَجَتْ حَاجَّةً, وَإِنِّي اِكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا, قَالَ: اِنْطَلِقْ, فَحُجَّ مَعَ اِمْرَأَتِكَ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ



Hadits No. 736

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah mendengar seseorang berkata: Labbaik 'an Syubrumah (artinya: Aku memenuhi panggilan-Mu untuk Syubrumah. Beliau bertanya: "Siapa Syubrumah itu?" Ia menjawab: Saudaraku atau kerabatku. Lalu beliau bersabda: "Apakah engkau telah berhaji untuk dirimu?" Ia menjawab: Tidak. Beliau bersabda: "Berhajilah untuk dirimu kemudian berhajilah untuk Syubrumah." Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban. Pendapat yang kuat menurut Ahmad ia mauquf.

َوَعَنْهُ: ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ, قَالَ:  مَنْ شُبْرُمَةُ?  قَالَ: أَخٌ ] لِي[ , أَوْ قَرِيبٌ لِي, قَالَ: حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ? قَالَ: لَا. قَالَ: حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ, ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَابْنُ مَاجَهْ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ, وَالرَّاجِحُ عِنْدَ أَحْمَدَ وَقْفُهُ



Hadits No. 737

Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berkhutbah di hadapan kami seraya bersabda: "Sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji atasmu." Maka berdirilah al-Aqra' Ibnu Habis dan bertanya: Apakah dalam setiap tahun, wahai Rasulullah? Beliau bersabda: "Jika aku mengatakannya, ia menjadi wajib. Haji itu sekali dan selebihnya adalah sunat." Riwayat Imam Lima selain Tirmidzi.

َوَعَنْهُ قَالَ: خَطَبَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: ( إِنَّ اَللَّهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ اَلْحَجَّ فَقَامَ اَلْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ فَقَالَ: أَفِي كَلِّ عَامٍ يَا رَسُولَ اَللَّهِ? قَالَ: لَوْ قُلْتُهَا لَوَجَبَتْ, اَلْحَجُّ مَرَّةٌ, فَمَا زَادَ فَهُوَ تَطَوُّعٌ )  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, غَيْرَ اَلتِّرْمِذِيِّ



Hadits No. 738

Asalnya dari riwayat Muslim dari hadits Abu Hurairah.

َوَأَصْلُهُ فِي مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه