Sesungguhnya kematian adalah haq, pasti terjadi, tidak dapat disangkal lagi. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
Mengapa manusia takabur padahal kelak akan dimakan ulat? Mengapa manusia melampaui batas padahal di dalam tanah kelak akan terbujur? Mengapa berandai-andai, padahal anda mengetahui kematian akan datang secara tiba-tiba?
Hakikat Kematian
Adalah salah bila ada orang yang mengira bahwa kematian itu hanya ke-fana-an semata dan ketidak-adaan secara total yang tidak ada kehidupan, perhitungan, hari dikumpulkan, kebangkitan, surga atau neraka padanya!! Sebab andaikata demikian, tentulah tidak ada hikmah dari penciptaan dan wujud kita. Tentulah manusia semua sama saja setelah kematian dan dapat beristirahat lega; mukmin dan kafir sama, pembunuh dan terbunuh sama, si penzhalim dan yang terzhalimi sama, pelaku keta'atan dan maksiat sama, penzina dan si rajin shalat sama, pelaku perbuatan keji dan ahli takwa sama.
Pandangan tersebut hanyalah bersumber dari pemahaman kaum atheis yang mereka itu lebih buruk dari binatang sekali pun. Yang mengatakan seperti ini hanyalah orang yang telah tidak punya rasa malu dan menggelari dirinya sebagai orang yang bodoh dan 'gila.' (Baca: QS. At-Taghabun:7, QS. Yaasiin: 78-79)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama belum sekarat." (HR. At-Turmu-dzi dan Ibn Majah, dishahihkan Al-Hakim dan Ibn Hibban)
Kematian Merupakan Musibah Paling Besar!!
Kematian merupakan musibah paling besar, karena itu Allah Subhanahu wata’ala menamakannya dengan 'musibah maut' (Al-Maidah:106). Bila seorang hamba ahli keta'atan didatangi maut, ia menyesal mengapa tidak menambah amalan shalihnya, sedangkan bila seorang hamba ahli maksiat didatangi maut, ia menyesali atas perbuatan melampaui batas yang dilakukannya dan berkeinginan dapat dikembalikan ke dunia lagi, sehingga dapat bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan memulai amal shalih. Namun! Itu semua adalah mustahil dan tidak akan terjadi!! (Baca: QS. Fushshilat: 24, QS. Al-Mu'minun: 99-100)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan agar banyak mengingat kematian. Beliau bersabda, "Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan (maut)," (HR. At-Tirmidzi, hasan menurutnya).
Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Para ulama kita mengatakan, ucapan beliau, “Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan”, merupakan ucapan ringkas tapi padat, menghimpun makna peringatan dan amat mendalam penyampaian wejangannya. Sebab, orang yang benar-benar mengingat kematian, pasti akan mengurangi kenikmatan yang dirasakannya saat itu, mencegahnya untuk bercita-cita mendapatkannya di masa yang akan datang serta membuatnya menghindar dari mengangankannya, sekalipun hal itu masih memungkinkannya.
Namun jiwa yang beku dan hati yang lalai selalu memerlukan wejangan yang lebih lama dari para penyuluh dan untaian kata-kata yang meluluhkan sebab bila tidak, sebenarnya ucapan beliau tersebut dan firman Allah ubhanahu wata’ala dalam surat Ali 'Imran ayat 185, (artinya, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati") sudah cukup bagi pendengar dan pemerhati-nya.!!”
Siapa Orang Yang Paling Cerdik?
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah berkata, “Aku pernah menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang ke sepuluh yang datang, lalu salah seorang dari kaum Anshor berdiri seraya berkata, “Wahai Nabi Allah, siapakah manusia yang paling cerdik dan paling tegas?” Beliau menjawab, “(adalah) Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah manusia-manusia cerdas; mereka pergi (mati) dengan harga diri dunia dan kemuliaan akhirat." (HR. Ath-Thabrani, dishahihkan al-Mundziri)
Faedah Mengingat Kematian
Di antara faedah mengingat kematian adalah:
Semoga Allah Subhanahu wata’ala menutup akhir hayat kita dengan Husnul Khatimah dan menerima semua amal shalih kita, Amin.
Nilai Iman dan Taubat Ketika Kematian Tiba
Ketika tiba saat kematian orang-orang kafir dan para pemaksiat, sementara rasa putus asa untuk tetap hidup pun telah menghantui mereka, mereka menyesal akan apa yang telah mereka lakukan. Segera mereka menampakkan keimanan serta bertaubat atas dosa-dosa mereka. Hanya saja keimanan dan taubat demikian ini tidak diterima sama sekali. Allah SWT berfirman,
"Pada hari ketika telah datang sebagian ayat-ayat Tuhanmu, maka tidak bermanfaat iman seseorang, dimana ia tidak pernah beriman sebelumnya atau melakukan kebaikan dalam keimanan.” (QS. Al-An’am: 158)
“Bukanlah taubat itu bagi orang-orang yang telah melakukan keburukan, sehingga ketika telah datang kepada salah seorang dari mereka kematiannya, ia berkata, ‘Sesungguhnya aku telah bertaubat.’” (QS. An-Nisa’: 18)
"Aku telah beriman bahwa sesungguhnya tiada tuhan melainkan Tuhan yang diimani oleh Bani Israil dan aku termasuk orang-orang muslim.” (Qs. Yunus: 90)
“Baru sekarang inikah engkau beriman? Padahal sebelumnya engkau bermaksiat dan termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?” (QS. Yunus: 91)
Mengharap Dikembalikan ke Dunia
Al-Qur’an menukil kisah orang-orang durhaka dan kafir, bahwa ketika telah tiba saat-saat kematian, atau ketika siksa itu menimpa, mereka mengharapkan kembali ke dunia ini agar dapat beriman dan berbuat amal kebajikan, atau memohon kepada Allah SWT agar dikembalikan lagi ke dunia untuk dapat mengubah hari-hari hitam mereka yang telah mereka lalui. Hanya saja Allah SWT mengabulkan permohonan itu. Dan, harapan mereka sia-sia.
Di sebagian ayat, Al-Qur’an mengungkapkan bahwa sekalipun mereka dikembalikan lagi ke dunia ini, pasti mereka akan kembali melakukan berbagai kemungkaran sebagaimana yang pernah mereka jalani. Kelak di Hari Kiamat, mereka mengemiskan permohonan semacam itu. Hanya Allah tidak mengabulkan permohonan mereka. Allah SWT berfirman, “Sehingga ketika kematian itu menjemput salah seorang dari mereka, ia berkata, ‘Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia, aku berharap akan berbuat amal saleh yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak, itu hanyalah ucapan kosong belaka.’” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)
“Atau engkau akan berkata ketika melihat siksa, ‘Seandainya aku ini dikembalikan sekali lagi, maka aku akan termasuk oran -orang yang baik.’” (QS. Az-Zumar: 58)
“Ketika mereka itu dihentikan di atas neraka, mereka berkata, ‘Wahai seandainya kami ini dikembalikan lagi dan tidak lagi mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, maka wahai Tuhan kami, kami akan menjadi orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-An’am: 27-28)
"Ketika orang-orang yang durhaka itu menundukkan kepala di hadapan Tuhan mereka, mereka berkata, ‘Wahai Tuhan kami melekkanlah kami dan kami mendengar, maka kembalikanlah kami agar dapat berbuat kebajikan. Sesungguhnya kami orang-orang yang yakin.’” (QS. As-Sajdah: 32)
Secara jelas kita dapat memahami dari ayat-ayat di atas bahwa alam akhirat itu bukanlah tempat berikhtiar, mencari jalan dan melakukan berbagai kewajiban, meskipun keyakinan yang mereka dapatkan pada saat sekarat maut dan di alam akhirat, tidak akan membantu sama sekali proses kesem-purnaan mereka, juga tidak membuat mereka berhak menerima pahala apapun. Oleh karena itu, orang-orang kafir dan pemaksiat mengharapkan kembali ke dunia ini agar mereka dapat beriman dan melakukan amal-amal saleh.
Alam Barzakh
Dari ayat-ayat yang lain kita dapat memahami bahwa setelah mengalami kematian dan sebelum terjadinya Hari Kiamat, manusia akan melewati satu masa di alam kubur dan barzakh. Di alam barzakh, mereka akan mendapatkan berbagai kesenangan dan kenikmatan, ataupun kesengsaraan dan siksaan. Di dalam riwayat banyak disebutkan bahwa orang-orang mukmin yang melakukan dosa pada kehidupan mereka di dunia akan menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan di alam barzakh seberat dosa-dosa yang pernah mereka lakukan, untuk mensucikan diri mereka agar tidak menanggung beban berat di alam akhirat.
Mengingat bahwa ayat-ayat yang menjelaskan tentang alam barzakh memerlukan studi tafsir, kami hentikan pembahasan itu sampai di sini. Dalam hal ini, kami hanya membawakan satu ayat. Allah SWT berfirman, “Dan di belakang mereka itu terdapat alam barzakh sampai tiba Hari Kebangkitan.” (QS. Al-Mu’minun: 100)[]
"Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya." (QS. Qaaf:19)Adakah orang yang mendebat kematian dan sakaratul maut? Adakah orang yang mendebat kubur dan azabnya? Adakah orang yang mampu menunda kematiannya dari waktu yang telah ditentukan?
Mengapa manusia takabur padahal kelak akan dimakan ulat? Mengapa manusia melampaui batas padahal di dalam tanah kelak akan terbujur? Mengapa berandai-andai, padahal anda mengetahui kematian akan datang secara tiba-tiba?
Hakikat Kematian
Adalah salah bila ada orang yang mengira bahwa kematian itu hanya ke-fana-an semata dan ketidak-adaan secara total yang tidak ada kehidupan, perhitungan, hari dikumpulkan, kebangkitan, surga atau neraka padanya!! Sebab andaikata demikian, tentulah tidak ada hikmah dari penciptaan dan wujud kita. Tentulah manusia semua sama saja setelah kematian dan dapat beristirahat lega; mukmin dan kafir sama, pembunuh dan terbunuh sama, si penzhalim dan yang terzhalimi sama, pelaku keta'atan dan maksiat sama, penzina dan si rajin shalat sama, pelaku perbuatan keji dan ahli takwa sama.
Pandangan tersebut hanyalah bersumber dari pemahaman kaum atheis yang mereka itu lebih buruk dari binatang sekali pun. Yang mengatakan seperti ini hanyalah orang yang telah tidak punya rasa malu dan menggelari dirinya sebagai orang yang bodoh dan 'gila.' (Baca: QS. At-Taghabun:7, QS. Yaasiin: 78-79)
"Orang-orang yang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: "Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS.At-Taghabun: 7)Kematian adalah terputusnya hubungan ruh dengan badan, kemudian ruh berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dan seluruh lembaran amal ditutup, pintu taubat dan pemberian tempo pun terputus.
"Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk." (QS. Yaasiin: 78-79)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama belum sekarat." (HR. At-Turmu-dzi dan Ibn Majah, dishahihkan Al-Hakim dan Ibn Hibban)
Kematian Merupakan Musibah Paling Besar!!
Kematian merupakan musibah paling besar, karena itu Allah Subhanahu wata’ala menamakannya dengan 'musibah maut' (Al-Maidah:106). Bila seorang hamba ahli keta'atan didatangi maut, ia menyesal mengapa tidak menambah amalan shalihnya, sedangkan bila seorang hamba ahli maksiat didatangi maut, ia menyesali atas perbuatan melampaui batas yang dilakukannya dan berkeinginan dapat dikembalikan ke dunia lagi, sehingga dapat bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan memulai amal shalih. Namun! Itu semua adalah mustahil dan tidak akan terjadi!! (Baca: QS. Fushshilat: 24, QS. Al-Mu'minun: 99-100)
"Jika mereka bersabar [menderita azab] maka nerakalah tempat diam mereka dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan, maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya.(QS. Fushshilat: 24)Ingatlah Penghancur Segala Kenikmatan!!
"[Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu], hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku [ke dunia] agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan."(QS. Al-Mu'minun: 99-100)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan agar banyak mengingat kematian. Beliau bersabda, "Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan (maut)," (HR. At-Tirmidzi, hasan menurutnya).
Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Para ulama kita mengatakan, ucapan beliau, “Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan”, merupakan ucapan ringkas tapi padat, menghimpun makna peringatan dan amat mendalam penyampaian wejangannya. Sebab, orang yang benar-benar mengingat kematian, pasti akan mengurangi kenikmatan yang dirasakannya saat itu, mencegahnya untuk bercita-cita mendapatkannya di masa yang akan datang serta membuatnya menghindar dari mengangankannya, sekalipun hal itu masih memungkinkannya.
Namun jiwa yang beku dan hati yang lalai selalu memerlukan wejangan yang lebih lama dari para penyuluh dan untaian kata-kata yang meluluhkan sebab bila tidak, sebenarnya ucapan beliau tersebut dan firman Allah ubhanahu wata’ala dalam surat Ali 'Imran ayat 185, (artinya, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati") sudah cukup bagi pendengar dan pemerhati-nya.!!”
Siapa Orang Yang Paling Cerdik?
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah berkata, “Aku pernah menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang ke sepuluh yang datang, lalu salah seorang dari kaum Anshor berdiri seraya berkata, “Wahai Nabi Allah, siapakah manusia yang paling cerdik dan paling tegas?” Beliau menjawab, “(adalah) Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah manusia-manusia cerdas; mereka pergi (mati) dengan harga diri dunia dan kemuliaan akhirat." (HR. Ath-Thabrani, dishahihkan al-Mundziri)
Faedah Mengingat Kematian
Di antara faedah mengingat kematian adalah:
- Mendorong diri untuk bersiap-siap menghadapi kematian sebelum datangnya.
- Memperpendek angan-angan untuk berlama-lama tinggal di dunia yang fana ini, karena panjang angan-angan merupakan sebab paling besar lahirnya kelalaian.
- Menjauhkan diri dari cinta dunia dan rela dengan yang sedikit.
- Menyugesti keinginan pada akhirat dan mengajak untuk berbuat ta'at.
- Meringankan seorang hamba dalam menghadapi cobaan dunia.
- Mencegah kerakusan dan ketamak-an terhadap kenikmatan duniawi.
- Mendorong untuk bertaubat dan mengevaluasi kesalahan masa lalu.
- Melunakkan hati, membuat mata menangis, memotivasi keinginan mempelajari agama dan mengusir keinginan hawa nafsu.
- Mengajak bersikap rendah hati (tawadhu'), tidak sombong, dan berlaku zhalim.
- Mendorong sikap toleransi, me-ma'afkan teman dan menerima alasan orang lain.
- Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Umat sepakat bahwa kematian tidak memiliki usia tertentu, masa tertentu dan penyakit tertentu. Hal ini dimaksudkan agar seseorang senantiasa waspada dan bersiap-siap menghadapinya.”
- Yazid Ar-Raqqasyi rahimahullah berkata kepada dirinya, “Celakalah engkau wahai Yazid! Siapa orang yang akan menggantikan shalatmu setelah mati? Siapa yang berpuasa untukmu setelah mati? Siapa yang memohon ridha Allah untukmu setelah mati? Wahai manusia! Tidakkah kamu menangis dan meratapi diri sendiri dalam sisa hidup kamu? Siapa yang dicari maut, kuburan jadi rumahnya, tanah jadi kasurnya dan ulat jadi teman dekatnya, lalu setelah itu ia akan menunggu lagi hari kecemasan yang paling besar; bagaimana kondisi orang yang seperti ini nanti.?” Beliau (Yazid-red) pun kemudian menangis.
- Ad-Daqqaq rahimahullah berkata, “Siapa yang banyak mengingat kematian, maka ia akan dimuliakan dengan tiga hal: Segera bertaubat; Mendapatkan kepuasan hati; dan bersemangat dalam beribadah. Dan siapa yang lupa akan kematian, maka ia akan disiksa dengan tiga hal: Menunda untuk bertaubat; Tidak merasa cukup dengan yang ada dan malas beribadah.”
- Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kematian ini telah merusak kenikmatan yang dirasakan para penikmatnya. Karena itu, carilah kehidupan yang tidak ada kematian di dalamnya.”
- Ziarah kubur. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Berziarah kuburlah kamu, sebab ia dapat mengingatkanmu akan akhirat.” (HR. Ahmad dan Abu Daud, dishahihkan Syaikh Al-Albani)
- Melihat mayat ketika dimandikan.
- Menyaksikan orang-orang yang tengah sekarat dan menalqinkan mereka dengan kalimat syahadat.
- Mengiringi jenazah, shalat atasnya serta menghadiri penguburannya.
- Membaca Al-Qur'an, terutama ayat-ayat yang mengingatkan akan kematian dan sakratul maut seperti ayat 19 surat Qaaf.
- Uban dan Penyakit. Kedua hal ini merupakan utusan malaikat maut kepada para hamba.
- Fenomena alam yang dijadikan Allah ubhanahu wata’ala untuk mengingatkan para hamba akan kematian seperti gempa, gunung meletus, banjir, badai dan sebagainya.
- Membaca berita-berita tentang umat-umat masa lalu yang telah dibinasakan oleh maut.
Semoga Allah Subhanahu wata’ala menutup akhir hayat kita dengan Husnul Khatimah dan menerima semua amal shalih kita, Amin.
Nilai Iman dan Taubat Ketika Kematian Tiba
Ketika tiba saat kematian orang-orang kafir dan para pemaksiat, sementara rasa putus asa untuk tetap hidup pun telah menghantui mereka, mereka menyesal akan apa yang telah mereka lakukan. Segera mereka menampakkan keimanan serta bertaubat atas dosa-dosa mereka. Hanya saja keimanan dan taubat demikian ini tidak diterima sama sekali. Allah SWT berfirman,
"Pada hari ketika telah datang sebagian ayat-ayat Tuhanmu, maka tidak bermanfaat iman seseorang, dimana ia tidak pernah beriman sebelumnya atau melakukan kebaikan dalam keimanan.” (QS. Al-An’am: 158)
“Bukanlah taubat itu bagi orang-orang yang telah melakukan keburukan, sehingga ketika telah datang kepada salah seorang dari mereka kematiannya, ia berkata, ‘Sesungguhnya aku telah bertaubat.’” (QS. An-Nisa’: 18)
"Aku telah beriman bahwa sesungguhnya tiada tuhan melainkan Tuhan yang diimani oleh Bani Israil dan aku termasuk orang-orang muslim.” (Qs. Yunus: 90)
“Baru sekarang inikah engkau beriman? Padahal sebelumnya engkau bermaksiat dan termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?” (QS. Yunus: 91)
Mengharap Dikembalikan ke Dunia
Al-Qur’an menukil kisah orang-orang durhaka dan kafir, bahwa ketika telah tiba saat-saat kematian, atau ketika siksa itu menimpa, mereka mengharapkan kembali ke dunia ini agar dapat beriman dan berbuat amal kebajikan, atau memohon kepada Allah SWT agar dikembalikan lagi ke dunia untuk dapat mengubah hari-hari hitam mereka yang telah mereka lalui. Hanya saja Allah SWT mengabulkan permohonan itu. Dan, harapan mereka sia-sia.
Di sebagian ayat, Al-Qur’an mengungkapkan bahwa sekalipun mereka dikembalikan lagi ke dunia ini, pasti mereka akan kembali melakukan berbagai kemungkaran sebagaimana yang pernah mereka jalani. Kelak di Hari Kiamat, mereka mengemiskan permohonan semacam itu. Hanya Allah tidak mengabulkan permohonan mereka. Allah SWT berfirman, “Sehingga ketika kematian itu menjemput salah seorang dari mereka, ia berkata, ‘Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia, aku berharap akan berbuat amal saleh yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak, itu hanyalah ucapan kosong belaka.’” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)
“Atau engkau akan berkata ketika melihat siksa, ‘Seandainya aku ini dikembalikan sekali lagi, maka aku akan termasuk oran -orang yang baik.’” (QS. Az-Zumar: 58)
“Ketika mereka itu dihentikan di atas neraka, mereka berkata, ‘Wahai seandainya kami ini dikembalikan lagi dan tidak lagi mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, maka wahai Tuhan kami, kami akan menjadi orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-An’am: 27-28)
"Ketika orang-orang yang durhaka itu menundukkan kepala di hadapan Tuhan mereka, mereka berkata, ‘Wahai Tuhan kami melekkanlah kami dan kami mendengar, maka kembalikanlah kami agar dapat berbuat kebajikan. Sesungguhnya kami orang-orang yang yakin.’” (QS. As-Sajdah: 32)
Secara jelas kita dapat memahami dari ayat-ayat di atas bahwa alam akhirat itu bukanlah tempat berikhtiar, mencari jalan dan melakukan berbagai kewajiban, meskipun keyakinan yang mereka dapatkan pada saat sekarat maut dan di alam akhirat, tidak akan membantu sama sekali proses kesem-purnaan mereka, juga tidak membuat mereka berhak menerima pahala apapun. Oleh karena itu, orang-orang kafir dan pemaksiat mengharapkan kembali ke dunia ini agar mereka dapat beriman dan melakukan amal-amal saleh.
Alam Barzakh
Dari ayat-ayat yang lain kita dapat memahami bahwa setelah mengalami kematian dan sebelum terjadinya Hari Kiamat, manusia akan melewati satu masa di alam kubur dan barzakh. Di alam barzakh, mereka akan mendapatkan berbagai kesenangan dan kenikmatan, ataupun kesengsaraan dan siksaan. Di dalam riwayat banyak disebutkan bahwa orang-orang mukmin yang melakukan dosa pada kehidupan mereka di dunia akan menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan di alam barzakh seberat dosa-dosa yang pernah mereka lakukan, untuk mensucikan diri mereka agar tidak menanggung beban berat di alam akhirat.
Mengingat bahwa ayat-ayat yang menjelaskan tentang alam barzakh memerlukan studi tafsir, kami hentikan pembahasan itu sampai di sini. Dalam hal ini, kami hanya membawakan satu ayat. Allah SWT berfirman, “Dan di belakang mereka itu terdapat alam barzakh sampai tiba Hari Kebangkitan.” (QS. Al-Mu’minun: 100)[]














Menggapai Ketenangan Jiwa yang Islami
Dalam perkembangan hidupnya manusia seringkali berhadapan dgn berbagai masalah yg berat utk diatasinya. Akibatnya timbullah kecemasan ketakutan dan ketidaktenangan bahkan tidak sedikit manusia yg akhirnya kalap sehingga melakukan tindakan-tindakan yg semula dianggap tidak mungkin dilakukannya baik melakukan kejahatan terhadap orang lain seperti pembunuhan termasuk pembunuhan terhadap anggota keluarga sendiri maupun melakukan kejahatan terhadap diri sendiri seperti meminum minuman keras dan obat-obat terlarang hingga tindakan bunuh diri. Oleh krn itu ketenangan dan kedamaian jiwa sangat diperlukan dalam hidup ini yg terasa kian berat dihadapinya. Itu sebabnya tiap orang ingin memiliki ketenangan jiwa. Dengan jiwa yg tenang kehidupan ini dapat dijalani secara teratur dan benar sebagaimana yg dikehendaki Allah dan rasul-Nya. Untuk bisa menggapai ketenangan jiwa banyak orang yg mencapainya dgn cara-cara yg tidak islami sehingga bukan ketengan jiwa yg didapat te tapi malah membawa kesemrawutan dalam jiwanya itu. Untuk itu secara tersurat Alquran menyebutkan beberapa kiat praktis. 1. Dzikrullah Dzikir kepada Allah SWT merupakan kiat utk menggapai ketenangan jiwa yakni dzikir dalam arti selalu ingat kepada Allah dgn menghadirkan nama-Nya di dalam hati dan menyebut nama-Nya dalam berbagai kesempatan. Bila seseorang menyebut nama Allah memang ketenangan jiwa akan diperolehnya. Ketika berada dalam ketakutan lalu berdzikir dalam bentuk menyebut ta’awudz dia menjadi tenang. Ketika berbuat dosa lalu berdzikir dalam bentuk menyebut kalimat istighfar atau taubat dia menjadi tenang kembali krn merasa telah diampuni dosa-dosanya itu. Ketika mendapatkan keni’matan yg berlimpah lalu dia berdzikir dgn menyebut hamdalah maka dia akan meraih ketenangan krn dapat memanfaatkannya dgn baik dan begitulah seterusnya sehingga dgn dzikir ketenangan jiwa akan diperoleh seorang muslim. Allah SWT berfirman yg artinya ” orang-orang yg beriman dan hati mereka menjadi tentram dgn mengingat Allah. Ingatlah hanya dgn mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.”. Untuk mencapai ketenangan jiwa dzikir tidak hanya dilakukan dalam bentuk menyebut nama Allah tetapi juga dzikir dgn hati dan perbuatan. Karena itu seorang mukmin selalu berdzikir kepada Allah dalam berbagai kesempatan baik duduk berdiri maupun berbaring. 2. Yakin akan Pertolongan Allah Dalam hidup dan perjuangan seringkali banyak kendala tantangan dan hambatan yg harus dihadapi. Adanya hal-hal itu seringkali membuat manusia menjadi tidak tenang yg membawa pada perasaan takut yg selalu menghantuinya. Ketidaktenangan seperti ini seringkali membuat orang yg menjalani kehidupan menjadi berputus asa dan bagi yg berjuang menjadi takluk bahkan berkhianat.Oleh krn itu agar hati tetap tenang dalam perjuangan menegakkan agama Allah dan dalam menjalani kehidupan yg sesulit apa pun seorang muslim harus yakin dgn adanya pertolongan Allah dan dia juga harus yakin bahwa pertolongan Allah itu tidak hanya diberikan kepada orang-orang yg terdahulu tetapi juga utk orang sekarang dan pada masa mendatang Allah berfirman yg artinya “Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi mu dan agar tentram hatimu karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” . Dengan memperhatikan betapa banyak bentuk pertolongan yg diberikan Allah kepada para nabi dan generasi sahabat di masa Rasulullah saw maka sekarang pun kita harus yakin akan kemungkinan memperoleh pertolongan Allah itu dan ini membuat kita menjadi tenang dalam hidup ini. Namun harus kita ingat bahwa pertolongan Allah itu seringkali baru datang apabila seorang muslim telah mencapai kesulitan yg sangat atau dipuncak kesulitan sehingga kalau diumpamakan seperti jalan maka jalan itu sudah buntu dan mentok. Dengan keyakinan seperti ini seorang muslim tidak akan pernah cemas dalam menghadapi kesulitan krn memang pada hakikatnya pertolongan Allah itu dekat. Allah berfirman yg artinya “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yg beriman “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” . 3. Memperhatikan Bukti Kekuasaan Allah Kecemasan dan ketidaktenangan jiwa adl krn manusia seringkali terlalu merasa yakin dgn kemampuan dirinya akibatnya kalau ternyata dia merasakan kelemahan pada dirinya dia menjadi takut dan tidak tenang tetapi kalau dia selalu memperhatikan bukti-bukti kekuasaan Allah dia akan menjadi yakin sehingga membuat hatinya menjadi tentram hal ini krn dia sadari akan besarnya kekuasaan Allah yg tidak perlu dicemasi tetapi malah utk dikagumi. Allah berfirman yg artinya “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata ‘Ya Tuhanku perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati’. Allah berfirman ‘Belum yakinkah kamu?’. Ibrahim menjawab ‘Aku telah meyakininya akan tetapi agar hatiku tenang ‘. Allah berfirman ‘ ambillah empat ekor burung lalu cincanglah kemudian letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu satu bagian dari bagian-bagian itu kemudian panggillah mereka niscaya mereka datang kepadamu dgn segera’. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” . 4. Bersyukur Allah SWT memberikan keni’matan kepada kita dalam jumlah yg amat banyak. Keni’matan itu harus kita syukuri krn dgn bersyukur kepada Allah akan membuat hati menjadi tenang hal ini krn dgn bersyukur keni’matan itu akan bertambah banyak baik banyak dari segi jumlah ataupun minimal terasa banyaknya. Tetapi kalau tidak bersyukur keni’matan yg Allah berikan itu kita anggap sebagai sesuatu yg tidak ada artinya dan meskipun jumlahnya banyak kita merasakan sebagai sesuatu yg sedikit. Apabila manusia tidak bersyukur Allah memberikan azab yg membuat mereka menjadi tidak tenang Allah berfirman yg artinya “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yg dahulunya aman lagi tentram rezekinya melimpah ruah dari segenap tempat tetapi nya mengingkari ni’mat-ni’mat Allah; krn itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yg selalu mereka perbuat.” . 5. Tilawah Tasmi’ dan Tadabbur Alquran Alquran adl kitab yg berisi sebaik-baik perkataan diturunkan pada bulan suci Ramadan yg penuh dgn keberkahan karenanya orang yg membaca mendengar bacaan dan mengkaji ayat-ayat suci Alquran niscaya menjadi tenang hatinya manakala dia betul-betul beriman kepada Allah SWT. Allah berfirman yg artinya “Allah telah menurunkan perkataan yg baik Alquran yg serupa lagi berulang-ulang gemetar karenanya kulit orang-orang yg takut kepada Tuhanya kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah dgn kitab itu Dia menunjuki siapa yg dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yg disesatkan Allah maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.” . Oleh krn itu sebagai mukmin interaksi kita dgn Alquran haruslah sebaik mungkin baik dalam bentuk membaca mendengar bacaan mengkaji maupun mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Manakala interaksi kita terhadap Alquran sudah baik maka mendengar bacaan Alquran saja sudah membuat keimanan kita bertambah kuat yg berarti lbh dari sekedar ketenangan jiwa. Allah berfirman yg artinya “Sesungguhnya orang-orang yg beriman adl mereka yg apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” . Dengan berbekal jiwa yg tenang itulah seorang muslim akan mampu menjalani kehidupannya secara baik sebab baik dan tidak sesuatu yg seringkali berpangkal dari persoalan mental atau jiwa. Karena itu Allah SWT memanggil orang yg jiwanya tenang utk masuk ke dalam surga-Nya. Allah berfirman yg artinya “Hai jiwa yg tenang kembalilah kepada Tuhanmu dgn hati yg puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.”. Akhirnya menjadi tanggung jawab kita bersama utk memantapkan ketenangan dalam jiwa kita masing-masing sehingga kehidupan ini dapat kita jalani dgn sebaik-baiknya. Oleh Drs. H. Ahmad Yani Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia