Berawal dari pengalaman pribadi yang memilukan sekaligus mengharukan.
artikel ini di bagi dalam 2 halaman
lihat halaman 1
Bagian 2
Peran Orthopaedia
Seperti yang telah saya tulis pada bagian
pertama, sebagian besar pengobatan alternatif patah tulang
mendasarkan cara pengobatannya pada pengalaman, trial and error,
ditambah dengan sedikit pengetahuan akan proses penyembuhan tulang
yang memang secara alami memiliki kemampuan untuk menyambung/sembuh.
Memang ada beberapa dukun patah tulang/pengobatan alternatif yang
mendapatkan pelatihan khusus untuk menangani patah tulang yang ringan,
namun jumlahnya sangat sedikit. Sangat disayangkan masih sedikit dukun
patah tulang yang mendaftarkan praktiknya ke dinas kesehatan setempat,
padahal hal ini sudah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia nomer 1076/MENKES/SK/VII/2003 tentang penyelenggaraan
pengobatan tradisional. Seharusnya dengan kewajiban untuk mendaftar
tersebut, dinas kesehatan dapat turut serta melakukan pengawasan dan
pembinaan terhadap dukun patah tulang sehingga mereka dapat melakukan
praktik dengan baik, melalui suatu pelatihan yang memadai bukan
berdasar trial and error.
Disinilah
sebenarnya perbedaan mendasar pengobatan patah tulang antara ilmu
kedokteran, dalam hal ini Orthopaedy, dan pengobatan alternatif yang
hanya berdasarkan pengalaman (trial and error). Sesuai dengan definisi orthopaedy menurut Textbook of Disorders and Injuries of the Musculosceletal System tulisan Robert Bruce Salter, yaitu: the art and science about prevention, investigation and treatment of musculosceletal injury and disorder by physical, medical, and surgical means atau seni dan ilmu
mengenai pencegahan, investigasi, dan terapi cedera musculosceletal
melalui terapi fisik, medis/obat-obatan dan bedah. Perhatikan kata-kata art and science atau seni dan ilmu , kata-kata tersebut memiliki makna yang sangat mendalam.
Orthopaedi
sebagai suatu ilmu kedokteran tidak hanya menghadapi suatu masalah
atau kasus dengan cara ilmiah namun dengan seni. Setiap pasien
dipandang sebagai suatu kesatuan yang holistik tidak terpisah pisah.
Misalnya ada pasien anak berusia 10 tahun datang ke UGD setelah jatuh
terpeleset di kamar mandi. Dari pemeriksaan fisik dan radiologis
ternyata ditemukan bahwa anak tersebut menderita patah tulang pada
bagian pangkal/”leher” tulang paha (collum femoris). Seorang orthopaedic surgeon/dokter bedah tulang, dengan bekal science
atau ilmu pengetahuan yang dimilikinya tidak hanya fokus pada patah
tulang tersebut, tapi akan juga akan mempertanyakan apakah
si anak tersebut tidak memiliki kelainan/penyakit lain yang mendasari
patah tulang tersebut, karena patah di collum femoris pada anak
kecil sangat jarang karena masih kuatnya bagian tulang tesebut,
Penyakit lain yang mungkin mendasari patah tulang tersebut antara lain
TBC/tuberculosis tulang atau bisa juga suatu kelainan bawaan osteogenesis imperfecta. Seandainya ternyata
kemudian didiagnosa suatu TBC tulang, maka dokter orthopedi
akan berkonsultasi dengan dokter spesialis paru untuk turut
memberikan edukasi, informasi bukan hanya kepada pasien namun juga orang
tua dan keluarga lain yang tinggal serumah dengan pasien tersebut,
untuk mengetahui apakah ada yang menderita TBC juga dan lebih jauh
lagi, jika diperlukan semua anggota keluarga yang memiliki riwayat
kontak dengan pasien dianjurkan meminum obat TBC. Ini adalah bentuk art atau
seni orthopaedy dalam berhadapan dengan pasien, bukan hanya kesembuhan
pasien yang diutamakan, namun juga pendekatan sosial terhadap keluarga
pasien dalam upaya memberikan informasi dan edukasi secara lebih
menyeluruh.
Back to topic.. Seorang orthopaedic surgeon akan
selalu memiliki tujuan khusus dalam menangani kasus patah tulang, bukan
hanya sekedar “memperbaiki” tulang yang patah, yaitu:
1. meredakan rasa nyeri
2. mengusahakan dan mempertahankan posisi fragmen/pecahan patah tulang seoptimal mungkin
3. mengusahakan tercapainya bony union (penyambungan tulang)
4. mengembalikan fungsi secara optimum
Dari
keempat tujuan diatas, yang paling penting adalah nomer 4. Mengapa?
Karena apalah artinya menyambung tulang yang patah jikalau fungsi
normalnya tidak kembali. Hal inilah yang kurang diperhatikan oleh
pengobatan tradisional pada umumnya. Orientasi mereka dalam menangani
kasus patah tulang hanya mengusakan bony union tanpa preservation and restoration of function.
Hal ini dapat dilihat pada tulisan/penelitian sejawat dr. Rahyussalim
SpOT, banyak pasien yang datang berobat ke pengobatan alternatif dan
setelah beberapa saat justru fungsi tulang yang patah tidak kembali
normal. Ada yang jalannya pincang, rentang sendi tidak maksimal, nyeri
kronik, dan sebagainya.
Jadi jelas bahwa orthopaedy dan pengobatan
alternatif (terutama yang tidak menjalani pelatihan khusus) memiliki
“level” yang berbeda. Orthopaedy sebagai suatu art and science
memiliki peran besar dalam memberikan “kesembuhan” pada pasien, bukan
hanya dalam arti “menyambung tulang” namun juga melalui pendekatan
secara holistik, terutama dengan mengupayakan restoration of optimal
function.
Salam,
dr. Rudy Dewantara L
Peminat Orthopaedy – Sports Medicine
Sumber
http://everythingaboutortho.wordpress.com/
Bagaimana Cara Mendapatkan Airdrop Hamster Kombat?
-
*Hamster Kombat* adalah sebuah *game tap to earn* yang viral dalam waktu
yang singkat, bayangkan hanya dalam waktu 6 bulan, lebih dari 300 juta
orang dari ...
5 bulan yang lalu
0 komentar:
Posting Komentar