Selamat Datang di www.elfaizz.blogspot.com semoga apa yang kami suguhkan bermanfaat, Kami mohon ma'af apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan, Kritik dan saran sangat kami harapkan

Rabu, 19 Oktober 2011

Cita-cita


Selasa, 18 Oktober 2011

Tafsir Al-Quran Surat Ali Imron ayat 130, Riba Jahiliah

Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ الرِّبَا أَضْعَافاً مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ . وَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (Qs. Ali Imron [3]: 130)

Tentang sebab turunnya ayat di atas, Mujahid mengatakan, “Orang-orang Arab sering mengadakan transaksi jual beli tidak tunai. Jika jatuh tempo sudah tiba dan pihak yang berhutang belum mampu melunasi maka nanti ada penundaan waktu pembayaran dengan kompensasi jumlah uang yang harus dibayarkan juga menjadi bertambah maka alloh menurunkan firman-Nya… (ayat di atas).” (al Jami’ li Ahkamil Qur’an, 4/199)
Syaikh Abu Bakar Jabir al Jazairi mengatakan, “Ketahuilah wahai orang yang beriman bahwa riba yang dipraktekkan oleh bank konvensional pada saat ini itu lebih zalim dan lebih besar dosanya dari pada jahiliah yang Allah haramkan dalam ayat ini dan beberapa ayat lain di surat al Baqarah. Hal ini disebabkan riba dalam bank itu buatan orang-orang Yahudi sedangkan Yahudi adalah orang yang tidak punya kasih sayang dan belas kasihan terhadap selain mereka.
Buktinya jika bank memberi hutang kepada orang lain sebanyak seribu real maka seketika itu pula bank menetapkan bahwa kewajiban orang tersebut adalah seribu seratus real. Jika orang tersebut tidak bisa membayar tepat pada waktunya maka jumlah total yang harus dibayarkan menjadi bertambah sehingga bisa berlipat-lipat dari jumlah hutang sebenarnya.
Bandingkan dengan riba jahiliah. Pada masa jahiliah nominal hutang tidak akan bertambah sedikit pun jika pihak yang berhutang bisa melunasi hutangnya pada saat jatuh tempo. Dalam riba jahiliah hutang akan berbunga atau beranak jika pihak yang berhutang tidak bisa melunasi hutangnya tepat pada saat jatuh tempo lalu mendapatkan penangguhan waktu pembayaran.
Boleh jadi ada orang yang berpandangan bahwa riba yang tidak berlipat ganda itu diperbolehkan karena salah paham dengan ayat yang menyatakan ‘janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda’. Jangan pernah terpikir demikian karena hal itu sama sekali tidak benar. Ayat di atas cuma menceritakan praktek para rentenir pada masa jahiliah lalu Allah cela mereka karena ulah tersebut.
Sedangkan setelah Allah mengharamkan riba maka semua bentuk riba Allah haramkan tanpa terkecuali, tidak ada beda antara riba dalam jumlah banyak ataupun dalam jumlah yang sedikit. Perhatikan sabda Rasulullah yang menegaskan hal ini,
دِرْهَمٌ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةٍ وَثَلَاثِينَ زَنْيَةً
“Satu dirham uang riba yang dimakan oleh seseorang dalam keadaan mengetahui bahwa itu adalah uang riba dosanya lebih besar dari pada berzina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dari Abdulloh bin Hanzholah dan dinilai shahih oleh Al Albani dalam Shahih al Jami’, no. 3375)” [Nida-atur Rahman li Ahli Iman hal 41]
Dalam hadits di atas dengan tegas Nabi mengatakan bahwa uang riba itu haram meski sangat sedikit yang Nabi ilustrasikan dengan satu dirham. Bahkan meski sedikit, Nabi katakan lebih besar dosanya jika dibandingkan dengan berzina bahkan meski berulang kali. Jadi hadits tersebut menunjukkan bahwa uang riba atau bunga itu tidak ada bedanya baik sedikit apalagi banyak.
Ayat ini berada di antara ayat-ayat yang membicarakan perang Uhud. Sebabnya menurut penjelasan Imam Qurthubi adalah karena dosa riba adalah satu-satunya dosa yang mendapatkan maklumat perang dari Allah sebagaimana dalam QS. al Baqarah [2]: 289. Sedangkan perang itu identik dengan pembunuhan. Sehingga seakan-akan Allah hendak mengatakan bahwa jika kalian tidak meninggalkan riba maka kalian akan kalah perang dan kalian akan terbunuh. Oleh karena itu Allah perintahkan kaum muslimin untuk meninggalkan riba yang masih dilakukan banyak orang saat itu (lihat Jam’ li Ahkamil Qur’an, 4/199)
Kemudian Allah ta’ala berfirman, ‘Bertakwalah kamu kepada Allah’ yaitu terkait dengan harta riba dengan cara tidak memakannya.
Al Falah/keberuntungan dalam bahasa Arab adalah bermakna mendapatkan yang diinginkan dan terhindar dari yang dikhawatirkan. Oleh karena itu keberuntungan dalam pandangan seorang muslim adalah masuk surga dan terhindar dari neraka. Surga adalah keinginan setiap muslim dan neraka adalah hal yang sangat dia takuti.
Ayat ini menunjukkan bahwa keberuntungan itu akan didapatkan oleh orang yang bertakwa dan salah satu bukti takwa adalah menghindari riba.
Hal ini menunjukkan bahwa jika kadar takwa seseorang itu berkurang maka kadar keberuntungan yang akan di dapatkan juga akan turut berkurang.
Di antara bukti bahwa meninggalkan riba itu menyebabkan mendapatkan keberuntungan adalah kisah seorang sahabat yang bernama ‘Amr bin Uqois sebagaimana dalam hadits berikut ini.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنْ عَمْرَو بْنَ أُقَيْشٍ كَانَ لَهُ رِبًا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَكَرِهَ أَنْ يُسْلِمَ حَتَّى يَأْخُذَهُ فَجَاءَ يَوْمُ أُحُدٍ فَقَالَ أَيْنَ بَنُو عَمِّي قَالُوا بِأُحُدٍ قَالَ أَيْنَ فُلَانٌ قَالُوا بِأُحُدٍ قَالَ فَأَيْنَ فُلَانٌ قَالُوا بِأُحُدٍ فَلَبِسَ لَأْمَتَهُ وَرَكِبَ فَرَسَهُ ثُمَّ تَوَجَّهَ قِبَلَهُمْ فَلَمَّا رَآهُ الْمُسْلِمُونَ قَالُوا إِلَيْكَ عَنَّا يَا عَمْرُو قَالَ إِنِّي قَدْ آمَنْتُ فَقَاتَلَ حَتَّى جُرِحَ فَحُمِلَ إِلَى أَهْلِهِ جَرِيحًا فَجَاءَهُ سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ فَقَالَ لِأُخْتِهِ سَلِيهِ حَمِيَّةً لِقَوْمِكَ أَوْ غَضَبًا لَهُمْ أَمْ غَضَبًا لِلَّهِ فَقَالَ بَلْ غَضَبًا لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ فَمَاتَ فَدَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَا صَلَّى لِلَّهِ صَلَاةً
Dari Abu Hurairah, sesungguhnya ‘Amr bin ‘Uqoisy sering melakukan transaksi riba di masa jahiliah. Dia tidak ingin masuk Islam sehingga mengambil semua harta ribanya. Ketika perang Uhud dia bertanya-tanya, “Di manakah anak-anak pamanku?” “Di Uhud”, jawab banyak orang. “Di manakah fulan?”, tanyanya lagi. “Dia juga berada di Uhud”, banyak orang menjawab.” Di mana juga fulan berada?”, tanyanya untuk ketiga kalinya. “Dia juga di Uhud”, jawab banyak orang-orang. Akhirnya dia memakai baju besinya dan menunggang kudanya menuju arah pasukan kaum muslimin yang bergerak ke arah Uhud. Setelah dilihat kaum muslimin, mereka berkata, “Menjauhlah kamu wahai Amr!” Abu Amr mengatakan, “Sungguh aku sudah beriman.” Akhirnya beliau berperang hingga terluka lalu digotong ke tempat keluarganya dalam kondisi terluka. Saat itu datanglah Sa’ad bin Muadz, menemui saudara perempuannya lalu memintanya agar menanyai Abu Amr tentang motivasinya mengikuti perang Uhud apakah karena fanatisme kesukuan ataukah karena membela Allah dan rasul-Nya. Abu Amr mengatakan, “Bahkan karena membela Allah dan Rasul-Nya.” Beliau lantas meninggal dan masuk surga padahal beliau belum pernah melaksanakan shalat satu kali pun. (HR. Abu Daud, Hakim dan Baihaqi serta dinilai hasan oleh al Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud no. 2212).
Ad Dainuri bercerita bahwa Abu Hurairah pernah bertanya kepada banyak orang yang ada di dekat beliau, “Siapakah seorang yang masuk surga padahal sama sekali belum pernah shalat?” Orang-orang pun hanya terdiam seribu bahasa. Beliau lantas mengatakan, “Saudara bani Abdul Asyhal.”
Dalam riwayat Ibnu Ishaq disebutkan ada orang yang menanyakan perihal Abu ‘Amr kepada Rasulullah, beliau lantas bersabda, “Sungguh dia termasuk penghuni surga.” (Tafsir al Qosimi, 2/460)
Catatan Penting: Hadits di atas tidaklah tepat jika dijadikan dalil bahwa orang yang tidak shalat itu tidak kafir karena sahabat tadi bukannya tidak ingin mengerjakan shalat namun dia tidak berkesempatan untuk menjumpai waktu shalat sesudah dia masuk Islam karena kematian merenggutnya terlebih dahulu.
Pada ayat selanjutnya Allah menakuti-nakuti kita sekalian dengan neraka. Banyak pakar tafsir yang menjelaskan bahwa ayat ini merupakan ancaman keras untuk orang-orang yang membolehkan transaksi riba. Siapa saja yang menganggap transaksi riba itu halal/boleh maka dia adalah orang yang kafir dan divonis kafir meski masih mengaku sebagai seorang muslim.
Ada juga pakar tafsir yang menjelaskan bahwa maksud ayat, waspadailah amal-amal yang bisa mencabut iman kalian sehingga kalian wajib masuk neraka. Di antara amal tersebut adalah durhaka kepada orang tua, memutus hubungan kekerabatan, memakan harta riba dan khianat terhadap amanat.
Abu Bakar al Warraq mengatakan, “Kami renungkan dosa-dosa yang bisa mencabut iman maka tidak kami dapatkan dosa yang lebih cepat mencabut iman dibandingkan dosa menzalimi sesama.”
Ayat di atas juga merupakan dalil yang menunjukkan bahwa saat ini neraka sudah tercipta karena sesuatu yang belum ada tentu tidak bisa dikatakan ‘sudah disiapkan’. (Lihat Jami’ li Ahkamil Qur’an, 4/199)
***
Penulis: Ustadz Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id
Sumber
http://muslim.or.id/al-quran/riba-jahiliah.html

Senin, 17 Oktober 2011

HAJI, MANASIKNYA DAN SYI'ARNYA

HAJI, MANASIKNYA DAN SYI'ARNYA
Ayat 26-37
26 Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud. 27 Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, 28 supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. 29 Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). 30 Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. 31 dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. 32 Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. 33 Bagi kamu pada binatang-binatang hadyu, itu ada beberapa manfaat, sampai kepada waktu yang ditentukan, kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul Atiq (Baitullah). 34 Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), 35 (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka. 36 Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. 37 Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

KEHIDUPAN DI HARI KEMUDIAN

engan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
KEHIDUPAN DI HARI KEMUDIAN
Ayat 1-25
Kedahsyatan hari kiamat Ayat 1-2
1 Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). 2 (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras.
Celaan terhadap orang-orang yang membantah Tuhan Ayat 3-4
3 Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat, 4 yang telah ditetapkan terhadap setan itu, bahwa barang siapa yang berkawan dengan dia, tentu dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka.
Proses kejadian manusia dan tumbuh-tumbuhan, adalah bukti yang nyata tentang kebenaran hari berbangkit Ayat 5-7
5 Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. 6 Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala suatu, 7 dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur
Celaan terhadap orang yang membantah Tuhan karena kesombongan dan untuk menyesatkan orang lain Ayat 8-10
8 Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya, 9 dengan memalingkan lambungnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Ia mendapat kehinaan di dunia dan di hari kiamat Kami merasakan kepadanya azab neraka yang membakar. 10 (Akan dikatakan kepadanya), "Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya."
Celaan terhadap orang-orang yang tidak berpendirian Ayat 11-13
11 Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. 12 Ia menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat dan tidak (pula) memberi manfaat kepadanya. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. 13 Ia menyeru sesuatu yang sebenarnya mudaratnya lebih dekat dari manfaatnya. Sesungguhnya yang diserunya itu adalah sejahat-jahat penolong dan sejahat-jahat kawan.
Balasan terhadap orang yang beriman dan beramal saleh Ayat 14
14 Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.
Pertolongan Allah SWT pasti datang Ayat 15-18
15 Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya. 16 Dan demikianlah Kami telah menurunkan al-Qur'an yang merupakan ayat-ayat yang nyata; dan bahwasanya Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. 17 Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Sabi'in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. 18 Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.
Keadaan orang-orang kafir di dalam neraka dan balasan terhadap orang-orang yang beriman Ayat 19-25
19 Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. 20 Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). 21 Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. 22 Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), "Rasailah azab yang membakar ini." 23 Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera. 24 Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji. 25 Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara lalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.

Sumber
http://id.wikisource.org/wiki/Al-Qur%27an/Al-Hajj

Haji ke Baitullah

penulis Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc.
Syariah Kajian Utama 18 - Desember - 2006 08:32:00
Mencari gelar haji/hajjah menaikkan status sosial atau unjuk kekayaan adl niatan-niatan yg semesti dikubur dalam-dalam saat hendak menunaikan ibadah haji. Karena tiap amalan sekecil apapun hanya pantas ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terlebih ibadah haji merupakan amalan mulia yg memiliki kedudukan tinggi di dlm Islam.
Haji ke Baitullah merupakan ibadah yg sangat mulia dlm Islam. Kemuliaan nan tinggi memposisikan sebagai salah satu dari lima rukun Islam. Ini mengingatkan kita akan sabda baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam:
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ
“Agama Islam dibangun di atas lima perkara; bersyahadat bahwasa tdk ada yg berhak diibadahi kecuali Allah dan Nabi Muhammad itu utusan Allah mendirikan shalat menunaikan zakat shaum di bulan Ramadhan dan berhaji ke Baitullah.”
Seorang muslim sejati pasti mendambakan diri bisa berhaji ke Baitullah. Lebih-lebih bila merenung dan memerhatikan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam yg merinci berbagai keutamaannya. Seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Barangsiapa berhaji krn Allah lalu tdk berbuat keji dan kefasikan niscaya dia pulang dari ibadah tersebut seperti di hari ketika dilahirkan oleh ibu .”
الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ
“Antara satu umrah dgn umrah berikut merupakan penebus dosa-dosa yg ada di antara kedua dan haji mabrur itu tdk ada balasan bagi kecuali Al-Jannah.”
Berangkat dari sinilah tdk sedikit dari saudara-saudara kita kaum muslimin yg tergugah utk berlomba menunaikan ibadah haji tiap tahun meski harus berkorban harta waktu dan tenaga. Bahkan berpisah dgn keluarga atau meninggalkan kampung halaman pun tdk menjadi penghalang demi menunaikan ibadah yg mulia tersebut.
Semangat beribadah yg tinggi ini semesti senantiasa dipertahankan dan kemudian ditingkatkan dgn mempelajari ilmu serta menunaikan sesuai dgn tuntunan baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini tiada lain sebagai realisasi dari apa yg pernah dipesankan oleh baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam:
خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ
“Ambillah dariku tuntunan manasik haji kalian.”
Tahukah Anda Apa Haji dan ‘Umrah Itu?
Haji dlm bahasa Arab bermakna: maksud atau tujuan. Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi salah seorang pakar bahasa Arab berpendapat bahwasa kata haji sering digunakan utk suatu maksud yg mulia dan ditujukan kepada zat/sesuatu yg mulia pula.
Dalam terminologi syariat haji bermakna: Beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn menjalankan manasik yg dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Adapun umrah dlm bahasa Arab bermakna: kunjungan . Sedangkan dlm terminologi syariat adalah: Beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn berthawaf di Ka’bah lalu bersa’i di antara Shafa dan Marwah kemudian gundul atau mencukur rambut .
Rangkaian ibadah haji haruslah dilakukan dlm bulan-bulan haji . Adapun ibadah umrah tdk terkait dgn waktu tertentu bisa dilakukan di bulan-bulan haji atau pun di luar itu.
Kapan Ibadah Haji Disyariatkan?
Syariat haji –secara umum– telah ada di masa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yg ditujukan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالاً وَعَلَىكُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ لِِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ
“Dan umumkanlah kepada manusia utk berhaji niscaya mereka akan mendatangimu dgn berjalan kaki atau mengendarai unta kurus dari segala penjuru yg jauh utk menyaksikan segala yg bermanfaat bagi mereka.”
Kemudian syariat tersebut dikukuhkan kembali secara lbh sempurna di masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tepat pada tahun 9 Hijriyah. Sebagaimana yg dikatakan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah: “Syariat haji –menurut pendapat yg benar– terjadi pada tahun 9 Hijriyah… Dalil bahwa ayat tentang wajib haji merupakan ayat-ayat pertama dari surat Ali ‘Imran. Dan ayat-ayat pertama dari surat Ali ‘Imran ini diturunkan pada tahun berdatangan para utusan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam .”
Hukum Menunaikan Ibadah Haji dan Umrah
Menunaikan ibadah haji hukum wajib bagi yg mampu. Dalil adl Al-Qur`an As-Sunnah dan Al-Ijma’.
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Sesungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya utk menunaikan ibadah haji ke Baitullah dan menjadikan sebagai salah satu dari rukun Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ البَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ
“Dan hanya krn Allah lah haji ke Baitullah itu diwajibkan bagi manusia yg mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa yg kafir mk sesungguh Allah tdk butuh terhadap seluruh alam semesta.”
Di dlm Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abdullah bin ‘Umar diriwayatkan bahwasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ
“Agama Islam dibangun di atas lima perkara: bersyahadat bahwasa tdk ada yg berhak diibadahi kecuali Allah dan Nabi Muhammad itu utusan Allah mendirikan shalat menunaikan zakat shaum di bulan Ramadhan dan berhaji ke Baitullah.”
Diriwayatkan oleh Al-Imam Sa’id bin Manshur dlm Sunan- dari shahabat Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: “Sungguh aku bertekad mengirim pasukan ke penjuru dunia utk memantau orang2 yg mempunyai kelapangan harta namun tdk mau berhaji dan menarik upeti dari mereka. Mereka bukan orang Islam mereka bukan orang Islam.”
Diriwayatkan pula dari shahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: “Barangsiapa yg mampu berhaji namun tdk mau menunaikan mk tidaklah ia meninggal dunia melainkan dlm keadaan Yahudi atau Nashrani.”
Al-Wazir dan yg lain berkata: “Para ulama telah berijma’ bahwasa ibadah haji itu diwajibkan bagi tiap muslim dan muslimah yg baligh lagi mampu dan dilakukan sekali seumur hidup.”
Adapun ibadah ‘umrah hukum juga wajib menurut salah satu pendapat para ulama. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Ada sekian hadits Nabi yg menunjukkan wajib ibadah umrah. Di antara adl sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dita oleh malaikat Jibril tentang Islam:
اْلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ وَتَعْتَمِرَ وَتَغْتَسِلَ مِنَ الْجَنَابَةِ وَتُتِمَّ الْوُضُوْءَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ
“Islam adl engkau bersyahadat bahwasa tdk ada yg berhak diibadahi kecuali Allah dan Nabi Muhammad itu utusan Allah mendirikan shalat menunaikan zakat berhaji ke Baitullah menunaikan ibadah umrah mandi dari janabat menyempurnakan wudhu dan shaum di bulan Ramadhan.”
Kapan Seseorang Berkewajiban Menunaikan Ibadah Haji?
Al-Imam Ibnu Qudamah di dlm Al-Mughni mengatakan: “Sesungguh ibadah haji itu wajib ditunaikan bila telah terpenuhi lima syarat:
1. Beragama Islam.
2. Berakal sehat.
3. Mencapai usia baligh.
4. Merdeka .
5. Mempunyai kemampuan.”
Bagaimanakah kriteria mempunyai kemampuan tersebut?
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Mempunyai kemampuan dlm bentuk harta dan fisik . Yakni bila seseorang memiliki harta yg dapat mencukupi utk berangkat haji berikut kepulangan serta segala kebutuhan dlm perjalanan haji tersebut. harta yg dimiliki itu adl harta yg tersisa setelah dikurangi pembayaran hutang nafkah yg bersifat wajib segala kebutuhan makan minum nikah tempat tinggal dgn perabot dan apa yg dibutuhkan berupa kendaraan buku-buku agama dan lain sebagainya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ البَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ
“Dan hanya krn Allahlah haji ke Baitullah itu diwajibkan bagi manusia yg mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa yg kafir mk sesungguh Allah tdk butuh terhadap seluruh alam semesta.”
Bagi kaum wanita ada mahram termasuk bagian dari kemampuan. mk dari itu wanita yg tdk mempunyai mahram tdk wajib utk berhaji krn tdk boleh bagi secara syar’i utk safar tanpa mahram. Kaum wanita tdk boleh melakukan safar tanpa disertai mahram baik utk haji atau pun selain baik safar dlm waktu yg lama atau pun sebentar bersama rombongan kaum wanita atau pun sendirian masih muda dan cantik atau pun telah renta naik pesawat terbang atau pun yg lainnya. Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَقُولُ: لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ، وَلاَ تُسَافِرُ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ. فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ امْرَأَتِي خَرَجَتْ حَاجَّةً، وَإِنِّي اكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: انْطَلِقْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ
“Bahwasa beliau pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah seraya berkata: ‘Janganlah sekali-kali seorang lelaki bersendirian dgn seorang wanita kecuali bila disertai mahram dan jangan pula seorang wanita bersafar kecuali bersama mahramnya.’ mk berdirilah seorang lelaki seraya berkata: ‘Wahai Rasulullah sesungguh istriku pergi berhaji sementara aku ditugaskan utk berjihad.’ mk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Pergilah engkau utk berhaji bersama istrimu!”
Dalam hadits tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk menanyakan terlebih dahulu apakah si wanita itu pergi bersama rombongan kaum wanita ataukah sendirian?! Apakah dia masih muda dan cantik ataukah sudah tua?! Apakah perjalanan aman ataukah tidak?!
Adapun hikmah dari pelarangan tersebut adl utk melindungi kaum wanita dari tindak kriminal krn mereka adl kaum yg lemah akal dan fisiknya. Mereka sering dijadikan sasaran tindak kejahatan dikarenakan betapa mudah mereka utk ditipu atau pun dipaksa melakukan sesuatu. –Hingga perkataan beliau– Jika seseorang tdk mampu dari sisi harta mk dia tdk wajib berhaji. Dan jika berkemampuan dari sisi harta namun kondisi kesehatan lemah mk perlu utk ditinjau terlebih dahulu. Jika rasa lemah itu dimungkinkan bisa hilang seperti sakit yg dimungkinkan kesembuhan mk hendak dia bersabar hingga mendapatkan kesembuhan lalu menunaikan ibadah haji. Dan jika rasa lemah itu dimungkinkan tdk bisa hilang dikarenakan faktor ketuaan dan penyakit menahun yg sulit utk disembuhkan misal mk hendak mewakilkan haji kepada orang lain.”
Berapa Kalikah Kewajiban Menunaikan Ibadah Haji dan Umrah?
Ibadah haji dan umrah wajib ditunaikan sekali saja seumur hidup bagi tiap muslim dan muslimah yg telah memenuhi syarat wajibnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ. فَقَامَ اْلأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ فَقَالَ: أَفِي كُلِّ عَامٍ يَارَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: لَوْ قُلْتُهَا لَوَجَبَتْ، وَلَوْ وُجِبَتْ لَمْ تَعْمَلُوا بِهَا وَلَمْ تَسْتَطِيْعُوا أَنْ تَعْمَلُوا بِهَا، الْحَجُّ مَرَّةً، فَمَنْ زَادَ فَتَطَوَّعَ
“Wahai sekalian manusia sesungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan kepada kalian ibadah haji!” mk berdirilah Al-Aqra’ bin Habis seraya mengatakan: “Apakah haji itu wajib ditunaikan tiap tahun wahai Rasulullah?” mk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab: “Kalau aku katakan; ya niscaya akan menjadi kewajiban tiap tahun dan bila diwajibkan tiap tahun niscaya kalian tdk akan menunaikan bahkan tdk akan mampu utk menunaikannya. Kewajiban haji itu hanya sekali . Barangsiapa menunaikan lbh dari sekali mk dia telah bertathawwu’ .”
Di antara Hikmah Ibadah Haji
Asy-Syaikh Abdullah Al-Bassam berkata: “Ibadah haji mempunyai hikmah yg besar mengandung rahasia yg tinggi dan tujuan yg mulia berupa kebaikan duniawi dan ukhrawi. Sebagaimana yg dikandung firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
لِِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ
“Untuk menyaksikan segala yg bermanfaat bagi mereka.”
Haji merupakan momen pertemuan akbar bagi umat Islam seluruh dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala pertemukan mereka semua di waktu dan tempat yg sama. Sehingga terjalinlah suatu interaksi kedekatan dan saling merasakan satu dgn sesama yg dapat membuahkan kuat tali persatuan umat Islam dan terwujud kemanfaatan bagi urusan agama dan dunia mereka.
Seseorang yg berupaya menggali rahasia di balik ibadah haji mk dia akan memperoleh banyak pelajaran penting baik yg berkaitan dgn keimanan ibadah muamalah dan akhlak yg mulia. Di antara pelajaran tersebut adalah:
1. Perwujudan tauhid yg murni dari noda-noda kesyirikan dlm hati sanubari ketika para jamaah haji bertalbiyah.
2. Pendidikan hati utk senantiasa khusyu’ tawadhu’ dan penghambaan diri kepada Rabbul ‘Alamin ketika melakukan thawaf wukuf di Arafah dan amalan haji lainnya.
3. Pembersihan jiwa utk senantiasa ikhlas dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyembelih hewan kurban di hari-hari haji.
4. Ketulusan dlm menerima bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa diiringi rasa berat hati ketika mencium Hajar Aswad dan mengusap Rukun Yamani.
5. Tumbuh kebersamaan hati dan jiwa ketika berada di tengah-tengah saudara-saudara seiman dari seluruh penjuru dunia dgn pakaian yg sama berada di tempat yg sama dan menunaikan amalan yg sama pula .
Sumber: www.asysyariah.com

Minggu, 16 Oktober 2011

Berjanji Untuk Menikah


Senin, 10/10/2011 12:52 WIB | Arsip | Cetak   Kirim Pertanyaan

Assalamualaikum wr wb
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga tetap kita limpahkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad Shalallhu alaihi wasallam.
Ustadz, saya ingin bertanya. Kira-kira setahun lalu, saya jatuh cinta pada seorang perempuan. Ia adalah teman SD saya dulu dan kami berjumpa lagi saat ada acara reunian di sekolah. Sejak itu, kami pun saling dekat dan puncaknya saya pun mengungkapkan cinta kepadanya beberapa bulan lalu. Selanjutnya, hubungan kami pun layaknya sepasang kekasih (pacaran). Namun, setelah tiga hari menjalani hubungan, entah kenapa saya menyadari kesalahan saya. Akhirnya, saya mengajaknya berteman saja dan kami pun berjanji, bila jodoh, insya Allah kami akan saling setia menunggu untuk melangsugkan hubungan yang halal paling tidak empat tahun lagi karena ia masih baru kuliah semester pertama tahun ini. Semenjak peristiwa itu, hubungan kami pun jadi aneh, ambigu antara pacaran atau berteman. Saling labil dan kadang masih merindukan satu sama lain untuk bertemu. Kesimpulannya, kami sepakat untuk berteman, tapi tetap berjanji akan merealisasikan hubungan yang utuh (pernikahan) pada masa yang akan datang.
  1. Apakah boleh perjanjian seperti itu dalam islam? Jika tidak, apa yang harus saya lakukan untuk mentelesaikan masalah ini, Ustadz?
  2. Bagaimana memelihara hati agar tidak tergoda lagi, karena saya seringkali masih sangat merindukannya Ustadz?
Mohon bimbingannya, Terima kasih...
Wassalmualaikum wr wb
Firmansyah



Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb
Jumhur ulama berpendapat bahwa janji seseorang untuk menikahi seseorang tidaklah wajib ditunaikan terlebih jika terdapat beberapa alasan yang menuntut janji tersebut untuk tidak ditunaikan.
Hal diatas menjadi kuat dikarenakan antara anda dan pacar anda pada hakikatnya tidaklah ada hubungan apa-apa kecuali hanya sebatas sesama muslim yang bukan mahram satu dengan lainnya.

Dan juga janji anda untuk menikahinya setelah ia selesai kuliah (4 tahun lagi) akan menjadi peluang terjadinya berbagai kemaksiatan terhadap anda berdua pada masa-masa penantian itu.
Diantara kemaksiatan yang bisa terjadi pada orang yang berpacaran adalah : ikhtilath (berdua-duaan dengan yang bukan mahramnya), mengotorkan hati, melalaikan dzikrullah, saling memandang yang tidak jarang disertai syahwat dan terkadang persentuhan kulit diantara mereka yang berpacaran.
Firman Allah swt :
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا (32)
Artinya : “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra : 32)
Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam,” dan janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan wanita (yang bukan muhram) karena sesungguhnya orang yang ketiga darinya adalah setan.” (diriwayatkan oleh Imam Ahmad)
Pacaran tidaklah membawa kebaikan buat anda berdua dan tidak juga untuk agama anda berdua karena hal itu hanya memberikan pintu kepada setan untuk terus membisikan kalimat-kalimat maksiatnya kedalam jiwa anda berdua. Demikian pula dengan istilah “sebatas teman”, kata-kata halus yang seolah-olah biasa namun ia merupakan jebakan setan lainnya yang mencoba menjerat anda kedalam perbuatan-perbuatan yang dilarang agama.
Untuk itu jagalah kebersihan hati anda dengan senantiasa menghadirkan rasa takut kepada Allah swt, bertaubat, istighfar, bertawakal kepada-Nya dan memperbanyak dzikrullah (mengingat Allah). Firman Allah swt
الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (28)
Artinya : “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’du : 28)
Wallahu A’lam


Di kutip dari
(http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/berjanji-untuk-menikah.htm)

Hukum Junub karena Mimpi 'Basah'


Rabu, 12/10/2011 10:09 WIB | Arsip | Cetak   Kirim Pertanyaan
Assalamualaikum wr.wb.Ustadz sigit yang Insya Allah dirahmati Allah swt.
saya mau tanya.ustadz.
apa yang harus di lakukan jika semalam telah mimpi basah trus pas bangun pagi adzan solat shubuh sudah berkumandang?sedangkan ingin solat shubuh berjamaah akan tetapi pada saat itu telah mimpi basah.apakah harus mandi dulu?dengan kepastian solat shubuh sendiri karena adzan shubuh telah berkumandang.atau pergi solat berjamaah dulu sehabis solat berjamaah mandi.karena pernah saya mendengar dari ceramah salah satu ustadz bahwa wajib bagi laki-laki untuk solat berjamaah terutama di masjid.
mohon perjelasannya ustadz.
wassalamualaikum.wr..wb..
ekana

Jawaban

Wa'alaikumussalam wr. wb.
Saudara Ekana yang dimuliakan Allah
Tidak diperbolehkan bagi seorang yang junub melaksanakan shalat sebelum dia mandi. Tidak cukup baginya hanya sebatas wudhu tanpa mandi untuk melaksanakan shalat.Dan ketika hal itu—shalat tanpa mandi junub—dilakukan dengan sengaja maka ia berdosa.
Imam an Nawawi didalam “Syarh” nya mengatakan,”Seandainya seorang melaksanakan shalat dengan sengaja dalam keadaan berhadats tanpa uzur maka ia berdosa menurut kami dan jumhur, namun ia tidaklah dikafirkan. Dan diceritakan dari Abu Hanifah bahwa orang itu kafir karena telah mempermainkannya (perkara tersebut, pen).” (Syarh Muslim juz I hal 371)
Oleh karena itu ketika anda mendapatkan mimpi basah dan terbangun pada saat adzan shubuh maka tetap diwajibkan bagi anda untuk mandi junub terlebih sebelum berangkat ke masjid meskipun shalat jamaah telah ditunaikan karena mandi bagi seorang yang junub adalah wajib sedangkan shalat berjamaah di masjid—menurut para ahli ilmu—adalah wajib kecuali ada uzur.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,”Bersuci dari janabah adalah wajib. Tidak diperbolehkan bagi seseorang melaksanakan shalat dalam keadaan junub dan tidak pula berhadats sehingg dia bersuci.” (Majmu al Fatawa juz IV hal 454)
Wallahu A’lam

Di kutip dari:
(http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/sebaiknya-bagaimana.htm)

Sabtu, 15 Oktober 2011

Berfikir, Melakukan Dan Berdoa


Oleh Kiptiah
Bahwasanya kita hanya mampu berfikir, melakukan dan berdoa. Itu saja, tak lebih.
Allah tak akan menolong hambaNya, selama hambaNya itu hanya memenuhi hari-harinya dengan berbagai fikiran dan khayalan tanpa ada satu pun perbuatan untuk mewujudkannya.
Melakukan sesuatu akan menjadi tak sempurna jika tak ada rencana yang terfikirkan terlebih dahulu. Allah pun akan melihat kesungguhan hambaNya untuk melakukan suatu usaha jika hambaNya mengiringi usahanya tersebut dengan berdoa.
Jangan pernah melelahkan diri dengan menengadahkan kepala kita untuk melihat puncak terlalu lama, sedangkan jalan setapak tempat kita berdiri terasingkan dari tapak kita.
Suatu saat saya berfikir untuk menjadi seorang pengusaha dengan pengalaman yang nihil. Saya pun sempat lelah oleh berbagai fikiran-fikiran tentang kesuksesan, padahal belum sekecil pun saya melakukan usaha.
Ketika saya lelah dan hampir menyerah, saya berdoa dan di lubuk hati terdalam saya tetap memiliki keinginan untuk menjadi pengusaha suatu hari nanti. Tanpa di sadari, saya mulai melakukan suatu yang saya sukai yang ternyata memiliki nilai jual. Saya memiliki keterampilan untuk membuat handmade, saya pun mampu menulis, meskipun belum seberapa atau jauh dari harapan, bukan hal yang besar bagi saya. Saat saya mampu melakukan hal tersebut walaupun kecil itu lebih berarti bagi saya daripada hanya memikirkannya terus menerus tanpa kerja nyata. Yang terpenting adalah terus berusaha tanpa henti.
Sempat tak menyangka dengan apa yang telah saya lakukan. Ternyata benar. Allah selalu menolong hambaNya yang berusaha untuk merubah nasibnya sendiri. Bahkan tanpa terfikirkan sebelumnya oleh kita.
Setiap kita memiliki potensi yang luar biasa dari Allah. Meski seringnya kita tak menyadari, terlebih mengacuhkannya. Setiap kita pula selalu memiliki sejuta imajinasi dan karya tapi setiap kita tak selalu mengeluarkan imajinasi dan karya kita tersebut. Karya yang membuat kehidupan menjadi lebih berarti. Membuat kita lebih menghargai hidup dan berfikir, kita masih memiliki manfaat untuk kita berikan kepada orang lain. Walaupun hanya berupa semangat dan tekad.
Bahwa hal yang besar pasti berasal dari sesuatu yang kecil. Jangan pernah malu melakukan sesuatu meskipun belum terlihat hasilnya. Tetap yakin dan berusaha. Jangan terpaku pada sebuah tujuan. Tetap jalani apa yang ada di depan mata, melakukan hal terbaik yang bisa dilakukan.
Tujuan cukup menjadi sebuah acuan, lalu abaikan. Yang terpenting adalah sebuah proses. Bagaimana kita melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan dan difikirkan. Lebih lelah dan tanpa kenyamanan.
Nikmati saja semua itu. Bukankah semua kesuksesan membutuhkan pengorbanan yang lebih di banding sesuatu yang biasa. Dan kesuksesan bukan pula barometer yang tercermin dari sebuah penghargaan dan applause dari orang-orang, tapi kepuasan diri ketika melakukannya dan pemberian manfaat kepada orang lain. Berbagi dalam sebuah kebahagiaan. Karena Allah. Karena ingin memaksimalkan potensi yang diberikan-Nya.
Dengan begitu, akan terminimalisir satu karakter manusia yaitu mengeluh. Kita akan lebih banyak bersyukur dan menemukan hal-hal baru yang lagi-lagi hanya membutuhkan ucapan syukur tanpa keluhan. Lebih berfikir positif dan memandang hidup lebih luas. Menerima segala kritikan dengan lapang dada.
Suatu keindahan berusaha yang diniatkan karena Allah, bersyukur kepadaNya dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki. Jangan pernah berfikir mengenai kekurangan. Tapi munculkan berjuta kelebihan yang telah Allah titipkan. Karena Allah tiada menciptakan makhlukNya kecuali dengan berbagai manfaat dan sebagai khalifah di muka bumi.
Allahua’lam.
rainkelana@yahoo.com

Di kutip dari:
(http://www.eramuslim.com/

Jumat, 14 Oktober 2011

Ketika Wanita Modern Menjadi Berani dan Agresif Terhadap Lelaki



bersama Mam Fifi
(Founder & Conceptor Jakarta Islamic School)

ilustrasi

ilustrasiIbunya Imran memicingkan mata saat melihat kawan-kawan wanita anaknya melambaikan tangan dan bersikap ramah serta ceria kepada anak lelakinya.Imran yang pada sore Ahad yang cerah mengajak Ibunya ke supermarket itu kebetulan berpapasan dengan sekumpulan rekan wanita dan lelaki yang dimata Ibunya Imran, wanita-wanita itu terlihat terlalu lincah dan mesra.Hal itu lantas membuat Ibunya Imran yang sudah beranjak tua itu menjadi gelisah serta tidak nyaman, maka Ibu itu merasa risih.
“Zaman Ibu dulu, tidak ada anak gadis yang dengan kawan lelakinya begitu mesra dan akrab, apalagi dengan kamu saja yang hanya kawan begitu mesra, bagaimana dengan kekasihnya yaa..? kok mereka begitu berani terhadap lelaki..?” gumam Ibu bingung kepada Imran.
Lantas Imran pun menjawab, “Ah Ibu, zaman sekarang beda dengan zaman dahulu, kalau kawan-kawan Imran lincah karena memang hampir semua anak gadis di kota besar lincah dan menarik Bu, kalau tidak begitu bukan anak gadis namanya, nenek-nenek dong..” Gurauan Imran itu pun lantas membuat wajah Ibunya nampak heran.
Tidak lama kemudian Imran paham lalu menyergahnya dengan mengatakan, “Bahkan kawan-kawan Imran yang anak gaul, kalo mau berpisah pada cipika-cipiki, lelaki sama perempuan Bu, cuma Imran saja yang tidak ikut pergaulan yang seperti itu..” Lalu dengan wajah kebingungan Ibu berkata, “Apa itu cipika-cipiki?”
Ibunya Imran memang sudah lama tidak melihat kawan-kawannya Imran. Biasanya Imran membawa kawan-kawannya ke rumah namun semuanya lelaki. Baru sekali ini Ibu melihat bagaimana bebasnya dan beraninya pergaulan anak perempuan dengan anak lelaki di kota besar.
Saat ini Imran memang sudah kuliah tingkat 2 dan sebelumnya Ibu melihat kawan-kawan Imran di sekolah menengah dahulu biasa-biasa saja, tidak begitu akrab dan mesra serta berani dengan lelaki. Hal ini mungkin dikarenakan Imran sebelumnya lulus dari SMP dan SMA di pesantren sehingga adab-adab pergaulan sangat dijaga sehingga Ibu terperangah ketika Imran menjelaskan bahwa cipika-cipiki (cium pipi kanan dan kiri) sangat biasa di lingkungan kampus Imran.
Dalam hatinya Ibu berpikir, “kalau dulu cipika-cipiki hanya perempuan dengan perempuan saja, namun sekarang perempuan dengan lelaki.”
‘Dekat’, ‘merasa dekat’, ‘sudah seperti saudara sendiri’, ‘jangan telalu berlebihan’, ‘ah gak ada perasaan apa-apa kok’, ‘ah gak ada yang mikirin’, ‘dimana-mana begitu kok’, ‘orang gak ada apa-apa’, itulah ungkapan-ungkapan yang sering diucapkan oleh anak-anak muda zaman sekarang yang memiliki pergaulan sangat dekat dan akrab antara lelaki dengan perempuan.
Padahal mereka jelas-jelas bukanlah muhrim namun mereka tertawa bersama seperti saudara sendiri, makan dan minum dari piring dan gelas yang sama bahkan terkadang satu gelas diminum dari sedotan yang sama antara kawan lelaki dengan kawan perempuan.
Dalam pergaulannya, mereka itu bukan saudara, tidak pacaran, apalagi suami istri namun mereka mengaku bahwa itu adalah bagian dari cara pergaulan modern saat ini. Padahal jelas-jelas kedekatan seperti itu antara kawan lelaki dan kawan perempuan sungguh tidak dapat dibenarkan dalam islam.
Ada adab-adab pergaulan yang harus dijaga antara lelaki dan perempuan. Namun itu semua sudah longgar dimana di jaman modern seperti saat ini, kaum wanita merasa bebas untuk tertawa, duduk berdekatan dengan lelaki, minum dan makan bersama dengan kaum lelaki padahal dalam Islam dilarang untuk ikhtilat (bercampur).
Seringkali orang-orang yang merasa bahwa adab-adab pergaulan di dalam Islam tersebut sebagai suatu yang berlebihan, menanyakan tentang ayatnya mana? Menanyakan mana dalilnya tentang hijab tentang ikhtilat dan lain-lain.
Sungguh bila mereka mempelajari dan memikirkan sedikit, mengapa kaum wanita ketika sholat selalu ada dalam barisan belakang, hal ini agar lelaki dan wanita tidak bercampur. Maka cukuplah itu sebagai jawaban bahwasanya semua kaum wanita harus memisahkan diri dalam kegiatan apapun dengan kaum lelaki. Dan bila melihat bahwa dalam Al-Quran dikatakan bahwa; hidup ini adalah ibadah, (merujuk pada surah Adz Dzariyaat ayat 56 yang berbunyi ,“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (ibadah) kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat [51] : 56)
Maka dalam keadaan tidak sedang sholat pun seharusnya semua yang dilakukan bernilai ibadah termasuk pemisahan yang jelas antara perempuan dengan lelaki karena ketahuilah bahwasanya hal itu dapat menghindari fitnah dan dapat memuliakan wanita.
Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaknya mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya'.” (QS.An-Nur [24] : 30)
Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya'.” (QS. An-Nur [24] : 31)

di kutip dari
(http://www.eramuslim.com/)

Merenda Sebuah Cita-Cita Sederhana



Oleh Aizzah Nur, Mahasiswa dan Karyawan
"Ketika cita-cita sesederhana menjadi seorang ibu rumah tangga biasa menjadi begitu langka dan sulit sekali terlaksana. Ketika begitu sedikit dari mereka yang bercita-cita jadi ibu rumah tangga seutuhnya. Maka dengan seizin-Mu Yaa Rabb... perkenankanlah saya menjadi bagian dari yang sedikit itu... Aamiin”
Ketika menulis catatan ini saya adalah seorang remaja yang berada dalam masa peralihannya menjadi seorang wanita dewasa, sedang menuntaskan tugas akhirnya di sebuah perguruan tinggi swasta kelas karyawan dan tinggal selangkah lagi menjadi sarjana, seorang wanita yang berada pada masa gemilangnya dalam meniti karir, bekerja di tempat yang baik dengan penghasilan yang sangat baik, anak perempuan yang membanggakan, kakak yang walaupun tidak terang-terangan dinantikan tetapi selalu dirindukan dan menjadi panutan, sahabat yang hangat, teman yang menyenangkan, rekan kerja yang walaupun sering datang terlambat tetapi selalu dimaafkan karena rajin membawa makanan. Entah semua itu benar adanya atau tidak, yang jelas saya selalu percaya pada insting dan bagaimana cara hati membawa saya untuk merasa.
Sepintas, semua yang saya miliki, kehidupan saya yang nyaris begitu sempurna, adalah apa yang sebagian perempuan zaman sekarang impikan. Karir, pendidikan, keluarga, teman. Saya amat sangat bersyukur dengan keadaan saya. Semua yang Allah titipkan pada saya sekarang adalah apa yang dahulu pernah saya cita-citakan. Alhamdulillah... Allah memberikan kesempatan untuk merasakan dan membimbing bagaimana harus menyikapi begitu banyak cita-cita yang terlaksana menjadi nyata ini dengan baik dan bijaksana. Saya jadi teringat kutipan dari seorang ustazah, “Muslimah yang berjuang dalam kebaikan adalah mereka yang selalu to be continued... berkelanjutan dan terus menerus....”
Kemudian saya dihadapkan pada sebuah pertanyaan sederhana... “Apa cita-cita saya berikutnya?”
Di sinilah, di usia saya yang masih belum genap dua puluh dua tahun, saya merasa jadi lebih tua karena sepertiga partisi dari otak saya didominasi sesuatu yang sedang saya pertimbangkan untuk menjadi cita-cita saya di masa yang akan datang. Menjadi seorang ibu rumah tangga saja. Sederhana. Sepertinya mudah, tetapi entah dari sudut pandang mana saya menilainya, sekedar membayangkannya saja sulit sekali rasanya. Padahal pada hakikatnya, rumah tangga adalah ladang pahala yang sangat luas bagi seorang wanita.
Semuanya tidak lagi membanggakan ketika untuk memiliki cita-cita menjadi ibu rumah tangga biasa dan seutuhnya mengabdikan diri kepada keluarga saja, saya butuh waktu yang cukup lama untuk menimbang, malah bimbang, bahkan gamang.
Pelan-pelan mimpi itu bergumul dalam pikiran saya ...
Menyediakan bekal untuk suami tercinta, memberikan rumah yang bersih dan nyaman sepulangnya, pakaian yang bersih, wangi, dan tersetrika rapi, betapa membahagiakannya bila saya bisa mengerjakannya sendiri, tanpa bergantung pada si 'Mbak'. Sungguh saya tidak bisa membayangkan bagaimana saya akan cemburu jika suami lebih menyukai dan menikmati masakan si "Mbak".
Menjaga calon buah hati kami, membekalinya dengan gizi dan pendidikan yang baik bahkan jauh sebelum kelahirannya, mengenalkannya pada rangkaian hijaiyah, membacakannya cerita, mengobrol dengannya, ikut membangunkannya di waktu subuh.
Saya tidak ingin kehilangan momen-momen penting dalam sembilan bulan itu. Tidak ingin menyia-nyiakan dan membiarkannya berlalu begitu saja karena kesibukan saya bekerja. Saya tidak ingin hanya disibukkan mempersiapkan popok, baju, dan alas tidurnya. Saya ingin sibuk mempersiapkan kesiapannya menjadi seorang manusia.
Dan ketika Allah mengizinkan ia lahir ke dunia,
Betapa tidak inginnya cuti tiga bulan yang diberikan perusahaan kepada saya membatasi kebahagiaan saya. Saya tidak ingin rutinitas menyusuinya, memandikan, mengganti popoknya, berlangsung rutin hanya dalam tiga bulan saja. Saya tidak ingin kehilangan 8 jam dalam sehari dengan tidak melihat ia tumbuh besar dan pintar. Saya tidak ingin kehilangan menyaksikan langkah pertamanya.
Namun dengan intensitas yang sama, kekhawatiran yang lain juga hadir menyertainya ...
Bagaimana jika kelak saya berjodoh dengan seseorang yang biasa saja? Bukan mereka yang berpenghasilan “wah” tiap bulannya? Biaya perlengkapan anak, susu, dan pendidikan zaman sekarang kan mahal? Lantas bagaimana dengan kehidupan sosial yang saya tinggal di luar sana? Lantas bagaimana jika (Naudzubillahi Min Dzaalika) suami yang saya tercinta berpulang ke rahmatullah di waktu yang tidak saya duga sebelumnya, sedangkan saya harus menggantikannya sebagai kepala keluarga?
No Execuse!! Allah telah menentukan dan mengatur jodoh, rezeki, dan maut bagi tiap-tiap kita. Banyak cara untuk mengupayakan rezeki yang disebar-Nya di seluruh muka bumi ini. Niat yang baik akan beriring dengan hasil yang baik Insya Allah. Rumah adalah sekolah dan madrasah paling murah bagi anak-anak kita, dan baik tidaknya kualitas pendidikan yang mereka terima itu bergantung pada kita, orang tua mereka. Maka bersemangatlah, Allah menghadirkan masalah berpasangan dengan solusinya. Pasti.
Semoga Allah memberikan kemantapan hati jika cita-cita itu bukan sesuatu yang salah
Menjadikannya tidak sebatas pada keinginan, tetapi juga kebutuhan

Semoga Allah memperkenankan cita-cita sederhana saya menjadi nyata..
Meridainya dan menjadikannya jalan terbaik yang dipilihkan-Nya untuk saya
Memberi kemudahan bagi kami untuk melalui aral-melintangnya

Percaya bahwa Allah akan menjaga dan memelihara apa yang menjadi kepunyaan-Nya
Percaya bahwa berkarya menjemput rezeki-Nya bisa dimana saja
Percaya bahwa tidak ada sandaran hidup yang lebih baik selain Allah



di kutip dari:
(http://www.eramuslim.com/)

Photobucket